Home Pertanian Agrivoltaics: Kolaborasi Penggunaan Lahan Pertanian dengan Energi Surya

Agrivoltaics: Kolaborasi Penggunaan Lahan Pertanian dengan Energi Surya

Agrivoltaics

Agrozine.id – Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Crop Research and Education Center Universitas Massachusetts pada tahun 2010 terkait agrivoltaics menunjukkan bahwa tenaga surya dapat berjalan bersamaan dengan merumput ternak atau menumbuhkan tanaman pangan. Ahli agronomi Universitas Massachusetts, Stephen Herbert mengatakan “Tujuan dari penelitian ini yakni untuk melihat apakah kami dapat menghasilkan energi surya sambil menjaga produksi pertanian.”

Hasil penelitian menunjukkan bahwa agrivoltaics dapat diterapkan, kuncinya yaitu ada pada desain susunan panel surya. Agrivoltaics merupakan konsep menggabungkan penggunaan lahan pertanian dengan produksi energi listrik dari PLTS / solar PV.

From 1% To 30% Solar Power Without Losing Farmland

Crop Research and Education Center Universitas Massachusetts mengevaluasi kesesuaian antara tanaman pangan dan ternak dengan panel surya yang terdiri dari tiga panel yang disusun secara vertikal dan ditumpuk menggunakan rak yang di desain khusus yang dapat menyokong panel tersebut setinggi 120 hingga 210 cm dari atas permukaan tanah.

Jarak antar panel yaitu 60 hingga 150 cm, sehingga memungkinkan cahaya untuk mencapai tanaman pangan dan rumput yang tumbuh di bawah panel. Pada konfigurasi konvensional, susunan panel surya yang diletakkan mendatar di atas tanah, sehingga tanaman tidak terpapar sinar matahari. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada pusat riset Universitas Massachusetts yang menggunakan instalasi tenaga surya dengan kapasitas 17 kilowatt. “Setiap titik di bawah panel mendapatkan dua pertiga cahaya matahari sepanjang hari,” ujar Herbert.

Hasilnya, rumput yang tumbuh di bawah panel tidak mengalami kesulitan. Evaluasi awal Herbert selama tiga tahun berfokus pada pertumbuhan makanan ternah dan kinerja ternak saat merumput dengan adanya susunan panel surya. “Area di bawah panel menghasilkan 90% hingga 95% hasil dari area yang tidak tertutup panel surya,” ujarnya.

Namun, produksi tanaman pangan di bawah panel terbatas pada tanaman yang umumnya tumbuh dan dipanen menggunakan tangan atau mesin kecil. Misalnya, tanaman penyerbuk yang menyukai naungan, tanaman alas tidur, tanaman pembibitan, dan pohon buah atau semak kecil.

Crops under solar panels can be a win-win | Ars Technica

Jordan Macknick, Analist National Renewable Energy Laboratory (NREL) mengatakan, penerapan agrivoltaics memiliki peluang yang berbeda-beda. Sebelumnya Macknick telah meneliti produksi tanaman pada lahan yang menggunakan panel surya dan mendanai beberapa mitra seluruh negeri.

Selain karya Herbert di Massachussets, NREL juga mendanai proyek penelitian dual-use di Arizona, Oregon, dan Colorado. Usaha pertanian dual-use independen merupakan hal yang populer di Eropa.

Pemasaran tanaman pangan dual-use sebagai produk premium dimungkinkan di beberapa marketplace. “Selain mendapatkan keuntungan pendapatan dari energi surya, petani dapat menjual tanamannya dengan harga yang lebih tinggi karena mereka ditumbuhkan dalam naungan panel surya,” kata Macknick.

Biaya investasi susunan panel surya terelevasi berkisar dari $2 hingga $5 per watt. “Biayanya tergantung dari lokasi, konfigurasi sistem, dan biaya interkoneksi yang dibebankan oleh utilitas lokal,” ujar Macknick. “Petani harus mendapatkan penawaran dari pengembang panel surya untuk memasang sistem surya di daerah mereka.”

Panel surya yang digunakan Crop Research and Education Center Universitas Massachusetts berasal dari Hyperion Systems.

Desain Hyperion yang dipatenkan untuk susunan panel surya membuat alat ini menjadi pelopor dalam mempromosikan penerapan tenaga surya dalam produksi pangan. “Kami memasang sistem tanpa menggunakan beton sebagai penyangga,” ujar Marley. (ran)

 

Dilansir dari Agriculture.com, Selasa (25/08/2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here