Home Perkebunan Air Tanah Perkebunan Kelapa Sawit, Seperti Apa?

Air Tanah Perkebunan Kelapa Sawit, Seperti Apa?

Agrozine.id – Oil palm menjadi salah satu komoditas ekspor yang diunggulkan di Indonesia, sebagai penghasil devisa ekspor non-migas dan penghasil minyak nabati untuk kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu penelitian mengenai dinamika air tanah perkebunan kelapa sawit dan vegetasi strata bawahnya perlu dilakukan.

Harngono Padang melakukan penelitian tersebut di perkebunan palm oil di Jambi. Kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman penghasil minyak ini tergantung dengan kondisi lingkungan dan letak topografi lahan, musim daerah setempat dan kondisi air dalam tanah. Sedangkan sumber air untuk tanaman kelapa sawit bisa diperoleh dari air hujan, air permukaan dan air tanah.

Jumlah air di dalam tanah semakin lama akan semakin berkurang akibat adanya proses eveporasi dan transpirasi. Suhu yang tinggi menjadi salah satu penyebab meningkatnya laju transpirasi pada tanaman.

Suhu udara yang tinggi menyebabkan tanaman kelapa sawit kekurangan air, dan sehingga adanya penelitian mengenai ketersediaan sumber air untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit di musim kemarau perlu dilakukan.

Selain suhu, keberadaan vegetasi bawah tanah juga berpengaruh terhadap pertumbuhan sawit. Vegetasi mampu menyerap air hujan sehingga sebelum jatuh ke bumi air hujan tidak menghantam tanah. Adanya serasah yang dihasilkan vegetasi menjadi salah satu faktor pengelolaan serapan air tanah.

Penelitian yang dilakukan selama 2 bulan ini memperoleh hasil pengukuran tinggi muka air tanah, infiltrasi dimana laju infiltrasi di perkebunan kelapa sawit lebih rendah jika dibandingkan dengan perkebunan rakyat. Hal ini  dipengaruhi oleh kemampuan tanah untuk menahan air.

Selain itu kondisi lahan di perkebunan kelapa sawit besar lebih homogen dikarenakan tekstur tanah dan sifat fisik tanah sehingga laju infiltrasi pada setiap jarak tanam kelapa sawit juga homogen.

Sementara air tanah berfungsi penting dalam proses pertumbuhan tanaman, pertukaran kation, dekomposisi bahan organik, pelarutan unsur hara dan suplai evavotranspirasi. Kadar air tanah perkebunan kelapa sawit pada musim kemarau paling tinggi yaitu 37,42 persen dan paling rendah 16,72 persen yang berada pada kedalaman 10 cm atau top soil.

baca juga : Inilah Daerah Penghasil Kelapa Sawit Terbesar di Indonesia

Dapat disimpulkan bahwa dinamika air tanah pada perkebunan kelapa sawit memiliki pola yang fluktuatif, namun secara umum sangat dipengaruhi oleh curah hujan pada periode tertentu. (ira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here