Home Perikanan Akuakultur: Sejarah Singkat Inovasi Budidaya Ikan Perairan

Akuakultur: Sejarah Singkat Inovasi Budidaya Ikan Perairan

Budidaya Ikan Perairan

Agrozine – Manusia telah mengelola habitat laut dan air tawar selama ribuan tahun. Masyarakat pribumi di berbagai wilayah dunia telah menyadari cara kerja ekosistem sebagaimana mereka menemukan cara memanen hasil yang melimpah dari kehidupan air. Namun, kita telah mengambil langkah krusial dari kesederhanaan populasi kerang, menggunakan perangkap ikan, dan beralih menggunakan mekanisme industri untuk membudidayakan spesies air.

Budidaya ikan dan kerang telah dilakukan sejak zaman kuno Tiongkok, Mesir, dan Roma, namun laju inovasi khususnya budidaya spesies laut meningkat pesat pada abad terakhir dengan teknologi modern. Saat ini, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengatakan, akuakultur tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan sektor produksi pangan utama lainnya.

Inovasi kian tercipta melalui berbagai cara seperti penelitian ilmiah, teori baru, hingga teknologi float dan net. Khususnya pada budidaya salmon, telah dihasilkan banyak terobosan. Terbukti bahwa keuntungan dapat diperoleh seiring dengan menciptakan dan memasarkan produk kelas atas, investasi dalam bidang teknologi kian berkembang. Berikut ini sejarah singkat inovasi dan teknologi dalam budidaya ikan perairan.

 

1883

Pada International Fisheries Exhibition, yang berlangsung pada Mei hingga Oktober di London, England, ditampilkan semua hal yang berhubungan dengan penangkapan ikan dan nelayan, juga menyoroti minat budidaya perairan yang meningkat khususnya spesies salmon, trout, dan tiram.

Budidaya Ikan Perairan

 

1899

Di negara-negara Barat, kekhawatiran semakin meningkat terkait stok ikan yang menurun sehingga muncul ide pendirian laboratorium kelautan dan pembenihan ikan. Pemerintah Swedia mengundang delegasi dari beberapa negara untuk menghadiri konferensi yang didedikasikan untuk penelitian bidang kelautan dan kaitannya dengan industri perikanan.

 

1924

Ikan tilapia pertama kali dibudidayakan di Kenya. Tilapia dijuluki sebagai “the aquatic chicken” atau ayam air karena seperti unggas, ikan ini merupakan sumber ekonomis protein hewani dengan rasa yang lembut dan diproduksi secara massal. Tilapia tahan penyakit, tumbuh dengan cepat, tahan kualitas air yang buruk, sehingga populer dan baik untuk budidaya subsiten dan komersil pada berbagai negara.

 

1927

Di Jepang, Hidemi Seno dan Juzo Hori merilis paper yang menjelaskan metode baru budidaya tiram, dengan mengikatnya ke tali dan menggantungnya secara vertikal di atas rakit apung. Metode inovatif ini menggantikan cara konvensional berumur 300 tahun, dimana batang bambu atau ranting pohon ditancapkan pada permukaan kolam dangkal sebagai tempat larva tiram berenang.

Budidaya Ikan Perairan

 

1933

Alvin Seale, pengawas Steinhart Aquarium di San Francisco, California, menemukan bahwa udang air asin Artemia menjadi sumber pakan yang sangat baik untuk larva ikan. Larva ikan di akuarium biasanya akan memakan pakan alami seperti planton yang mudah diproduksi secara massal.

 

1950

Pada tahun 1950-an, perubahan besar terjadi karena plastik banyak digunakan pada produksi industri akuakultur. Air asin menjadi tantangan dalam operasi akuakultur, karena merusak pipa dan katup, melepaskan logam berat ke dalam air, sehingga meracuni ikan dan membuat pemeliharaan mahal dan memakan waktu lama.

 

1954

Para peneliti di Oregon Fish Commission yang kini dikenal dengan Oregon State University mengembangkan pakan ikan dalam bentuk pelet yang lembab dan lembut sebagai pengganti pakan tradisional seperti biji-bijian dan daging kering.

 

1958

Ilmuwan Jepang, Motosaku Fujinaga, yang pertama kali memijah dan menetaskan udang kuruma secara artifisial di dalam tangki pada tahun 1933, kian menciptakan inovasi dengan memproduksi 10 kilogram udang yang cukup besar dan dapat dipasarkan. Jumlahnya mungkin tidak banyak, namun penelitian lengkap yang mereka lakukan sangat mengesankan.

 

1959

Karstein dan Olav Vik asal Norwegia, membangun keramba kayu apung dengan jaring yang digantung untuk menampung salmon Atlantik serta mengembangkan budidaya ikan laut. Vik bersaudara telah memulai eksperimen dengan ikan air tawar trout beberapa tahun sebelumnya, untuk melihat apakah ikan dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan air asin, habitat yang dipercaya dapat mempercepat pertumbuhan mengurangi risiko penyakit.

 

1963

Victor Loosanoff dan rekan-rekannya di Laboratorium Milford mengembangkan teknik untuk membuat bivalvia bertelur hampir sepanjang tahun, dan memungkinkan para peneliti membudidayakan kerang di luar periode singkat perbanyakan alami pada iklim musiman.

Budidaya Ikan Perairan

1970

Di lepas pulau Hitra, Norwegia, Ove dan Sivert Grøntvedt menempatkan 20.000 salmon salmon Atlantik ke dalam kandang oktagonal terapung besar yang telah mereka bangun dan rancang. Alat ini murah, kuat, dan mudah dipasang, serta memudahkan nelayan memberi makan salmon dan menghalangi predator ikan. Usaha Grøntvedt bersaudara dianggap sebagai peternakan salmon pertama yang sukses di dunia.

 

1971

Ilmuwan Norwegia, Trygve Gjedrem, percaya bahwa elemen dasar teori pemuliaan ikan dan kerang serupa dengan hewan ternak. Setelah meneliti topik seperti berat bulu domba dan sifat kualitas wol, ia mengalihkan perhatiannya pada salmon, membantu mengembangkan program pemuliaan berbasis keluarga pertama di dunia untuk ikan.

 

1980

Denmark adalah salah satu negara pertama yang menggunakan teknologi sistem resirkulasi akuakultur (RAS) untuk budidaya belut Eropa secara komersial. Sistem resirkulasi ini sekarang digunakan untuk menghasilkan spesies air tawar dan air asin, termasuk ikan rainbow trout, udang whiteleg, dan turbot.

Budidaya Ikan Perairan

 

1999

Pada sebuah peternakan ikan eksperimental di Prancis, para peneliti menggunakan teknologi telemetri akustik untuk mengukur perilaku berenang ikan. Mereka memasang pemancar ultrasonik miniatur pada ikan trout pelangi, dan menggunakan hidrofon serta software yang dikembangkan secara khusus yang menunjukkan pemantauan aktivitas ikan dapat dilakukan dalam budidaya dengan kepadatan tinggi.

 

2018

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menyadari potensi budidaya offshore aquaculture, perusahaan Chili Ocean Arks Tech memperoleh paten untuk budidaya ikan mandiri. Dengan kapal setinggi 170 meter, dapat dihasilkan 3.900 ton spesies ikan komersil seperti salmon, tuna, dan amberjack.

Budidaya Ikan Perairan

 

2020

Cermaq, peternakan ikan besar di Norwegia, berencana meluncurkan proyek iFarm senilai USD 63,7 juta dengan tujuan untuk seluruh keramba salmon dan setiap ikan. Sensor iFarm dapat mengenali tiap salmon berdasarkan pola titiknya, sehingga dapat melacak jumlah ikan, ukuran ikan, jumlah kutu laut, dan gejala penyakit. (rin)

 

Dilansir dari Hakai Magazine

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here