Home Perkebunan Bagaimana Potensi Ekspor Ubi Jalar Indonesia?

Bagaimana Potensi Ekspor Ubi Jalar Indonesia?

potensi ekspor ubi jalar

Agrozine.id – Potensi diversifikasi pangan sumber karbohidrat selain beras yang cukup besar yaitu ubi jalar. Di Indonesia, budidaya ubi jalar sudah banyak dikenal. Sebagian besar produksi ubi jalar dijadikan sebagai bahan pangan dan juga sebagai pakan ternak maupun bahan baku industri. Saat ini, potensi ekspor akan ubi jalar Indonesia terus meningkat. Maka dari itu, Kementerian Pertanian selalu siap membantu kemajuan petani ubi jalar di Indonesia melalui Asosiasi Agrobisnis Petani Ubi Jalar Indonesia (ASAPUJI).

Asosiasi ini baru saja dibentuk pada tanggal 16 Maret 2020 lalu, yang bertujuan untuk meningkatkan pertanian ubi jalar di Indonesia karena potensinya yang sangat besar. Potensi ubi jalar sebagai bahan baku produk makanan minuman memiliki pasar potensial baik di dalam negeri maupun pasar global. Namun, yang menjadi kendalanya adalah kapasitas produksi ubi jalar di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan industri.

Di sisi lain, pangsa pasar bagi pasar global sangat besar untuk olahan ubi jalar. Setidaknya sudah ada empat perusahaan asing yang mengekspor ubi jalar asal Indonesia baik dalam bentuk pati, pasta, maupun ubi segar jenis cilembu. Saat ini, diketahui ekspor ubi jalar setiap bulannya berkisar 1.000 ton. Jika dhitung, dalam setahun permintaan pasar global akan ubi jalar sekitar 12.000 ton.

Adapun pasar produk oalahan ubi jalar di Asia antara lain Korea Selatan dan Jepang. Sedangkan, untuk ubi jalar fresh jenis cilembu  permintaan pasarnya berasal dari Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Meski sudah menembus pasar ekspor, nilai tambah yang diperoleh masih kurang lantaran biasanya ubi jalar dibeli dari petani dalam bentuk mentah.

Langkah pemerintah yang menjadikan ubi jalar sebagai salah satu tanaman diversifikasi karbohidrat pengganti beras merupakan langkah yang tepat. Disamping menjadi tanaman strategis ubi jalar juga menjanjikan keuntungan yang baik bagi para petaninya. Pasalnya, harga ekspor ubi Cilembu yaitu berkisar Rp 11.000 per kilogram, sedangkan harga jual ubi lokal yaitu sekitar Rp 5.000 per kilogram.

Mengingat ubi jalar memiliki nilai ekspor yang tinggi, maka diperlukan peran pemerintah dalam upaya meningkatkan volume usaha ubi jalar di tingkat petani lokal. Antara lain yaitu dengan membantu pengadaan alsintan yang tepat guna, memfasilitasi pengadaan mesin-mesin produksi tingkat home industri hingga penyediaan perluasan lahan penanaman. (ran)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here