Home Biodiversitas Berpacu dengan Waktu: Menyelamatkan Ular dan Kadal di Cerrado Brasil

Berpacu dengan Waktu: Menyelamatkan Ular dan Kadal di Cerrado Brasil

Agrozine.id – Saat pertama kali Christiano Nogueira melihat makhluk hidup yang tersembunyi di liang bawah tanah di wilayah Cerrado Brasil, ia mengira telah menemukan spesies yang hilang “Stenocercus trictristatus“yaitu kadal kecil berbintik-bintik yang sudah tidak pernah terlihat selama 175 tahun. Dikabarkan hanya ada satu spesimen yang disimpan di laci di Museum Sejarah Alam Paris. Oleh karena itu ular dan kadal di Cerrado Brasil ini perlu diselamatkan jika tidak ingin semakin lama semakin punah.

Untuk menyelamatkan spesies yang terancam punah memang dibutuhkan strategi yang tepat karena berpacu dengan waktu. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menentukan strategi penyelamatan, maka spesies yang telah diambang batas kepunahan semakin lama akan semakin berkurang dan lama kelamaan akan menghilang.

Penemuan Christiano Nogueira terkait dengan makhluk hidup kecil di liang tanah ini menjadi penemuan baru bagi para peneliti, dan setelah dilakukan pengujian di lab maka diperoleh identitas asli dari hewan tersebut yaitu bukan spesies hilang seperti yang disebutkan Christiano Nogueira. Kadal berduri yang cantik itu dengan dua tanduk diatas kepalanya adalah spesies baru.

Hal tersebut terjadi di tahun 2019 dan hebatnya memasuki dua dekade abad ke 21, para ilmuwan masih menemukan spesies yang sebelumnya tidak dikenali di bioma Cerrado Brasil Tengah. Di tahun 2000, ketika Nogueira pertama kali mengajukan penelitian lapangan disana sebagai mahasiswa pascasarjana, profesornya mengatakan bahwa dia tidak akan menemukan banyak hal, karena tempat tersebut dianggap gurun sehingga akan menghasilkan sampel data yang buruk.

Harta Karun Keanekaragaman Hayati

Cerrado adalah salah satu sabana paling beragam di dunia yang mencakup dua juta kilometer persegi, hampir seperempat Brasil dan setengah luas Eropa. Namun hanya sedikit yang diketahui tentang satwa liarnya selain spesies yang paling umum atau ikonik. Sangat sedikit ahli zoologi yang pernah berada di sana dan mereka hanya fokus pada hutan galeri dan cenderung mengabaikan sabana yang membentuk 62 persen bioma.

Dalam pencariannya, Nogueira menghabiskan selama 4 tahun perjalanan melalui padang rumput sabana, sungai yang tertutup pohon palem, hutan rendah dan dataran tinggi kering untuk mencari reptil. Berdasarkan hasil penelitiannya, Nogueira berhasi mengidentifikasi 57 spesies reptil Cerrado baru dari tahun 1998 hingga 2008.

Sejauh ini sekitar 208 spesies ular, 80 kadal, 40 cacing, 7 kura-kura dan 4 buaya telah masuk ke dalam daftar spesies resmi yang terus berkembang di kawasan Cerrado. Banyaknya spesies kadal dan ular Cerrado yang dikatalogkan sebagai saingan dari Amazon yang jauh lebih terlindungi, secara herpetologis.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar ular menghuni wilayah yang luas, di beberapa daerah yang menampung lebih dari 50 spesies, tersebar di seluruh mosaik lanskap. Namun banyak spesies Cerrado lainnya yang menempati relung habitat tertentu seperti daerah yang diperkirakan ditempati oleh buaya.

Padang rumput sabana adalah rumah bagi sebagian besar kadal karena mereka adalah satwa helioterm yang mengatur suhu tubuh dengan berjamur di bawah sinar matahari. “Mereka seperti baterai solar kecil”, jelas Nogueira. Spesies lain yang hidup di liang atau serasah daun mewakili penghuni pasir, kadal batu, penghuni hutan dan spesies sabana.

Salah satu reptil Cerrado yang paling aneh mungkin adalah amfisbaen atau kadal cacing yang merupakan reptil bawah tanah panjangnya mencapai tiga kaki dengan anggota tubuh kecil, mata kecil dan tengkorak berbentuk sekop. Bentuk tubuhnya bergelombang melewati terowongan dan mampu berburu dalam kegelapan.

Sebagian besar satwa endemik Cerrado yang baru ditemukan menempati wilayah yang sempit karena banyak spesies dengan kisaran luas telah ditemukan. Yang penting lebih dari sepertiga reptil bioma atau sekitar 38 persen tidak hidup di tempat lain di bumi. Itulah mengapa Cerrado Brasil dianggap sebagai “hotspot keanekaragaman hayati”. Bioma adalah satu dari 36 area di seluruh dunia yang membutuhkan konservasi darurat menurut lembaga nirlaba Conservation International. Hal ini disebabkan kombinasi faktor yang berbahaya , banyak spesies endemik langka dan habitatnya sedang dihancurkan cengan cepat oleh aktivitas manusia.

Dikatakan Nogueira bahwa mencoba menyelamatkan spesies endemik dan langka ini adalah berpacu dengan waktu. “Kami mempelajari Cerrado dan faunanya, menemukan spesies baru pada saat yang sama mereka dihapus dari peta”, kata Nogueira.

Lanskap yang Sangat Terancam

Cerrado pernah menjadi tempat yang luas dan sepi, ditolak oleh sebagian besar otang Brasil karena tidak dapat dihuni. Hal itu mulai berubah dengan pembangunan ibukota baru Brasil, Brasilia pada akhir tahun 1950-an ketika para pemukim perbatasan mulai pindah ke pusat kota. Pada tahun 1980-an, agribisnis berkembang pesar di selatan Cerrado dan wilayah itu dipuji sebagai keranjang roti dunia yang baru.

Baca Juga: Keanekaragaman Hayati 101: Mengapa Penting dan Bagaimana 
Cara Melindunginya?

Selama 40 tahun terakhir, sekitar setengah dari lanskap yang luas ini terancam karena pembukaan agribisnis mekanis skala besar. Padang rumput yang datar dan bergulung dengan cepat digantikan oleh tanaman komersial yang sebagian besar diekspor, termasuk kedelai, tbu, jagung, kapas dan kayu putih. Area vegetasi asli yang luas juga diubah menjadi padang rumput. Pada tahun 2015, diperkirakan sekitar 135 juta sapi potong merumput di sekitar 400.000 km persegi sabana. Jauh lebih mudah dan lebih murah untuk mengembangkannya dibandingkan dengan hutan hujan.

Pada awalnya, sangat sedikit yang peduli tentang hilangnya vegetasi asli. Padang rumput tidak memiliki pepohonan yang tinggi dan fauna karismatik yang menarik pada konservasionis Amazon. Bioma sekarang menjadi lanskap yang terputus, dipootng menjadi tambahan habitat yang terfragmentasi dengan sebagian besar pertumbuhan pertanian di selatan dan peternakan serta perkebunan di utara.

Reptil Beresiko

Dengan hilangnya habitat asli, banyak spesies menderita termasuk reptil yang sangat terpengaruh oleh konversi ladang karena satwa ini menghabiskan sebagian hidupnya di bawah tanah.

Konversi lahan menjadi peternakan sapi secara ekonomi bisa meningkatkan finansial, namun secara ekologi sangat terpengaruh karena padang rumput yang ditanami rumput invasif untuk pakan sapi menggantikan vegetasi alami dan kotoran hewan mencemari saluran air yang merupakan tempat hidup berbagai spesies, termasuk reptil sehingga keberadaan satwa ini terancam.

Baca Juga: CIFOR Dukung Upaya Konservasi Burung dan Anggrek di Pulau Biak, Papua

Ular dan kadal di Cerrado menghadapi ancaman serius yaitu kebakaran akibat konversi lahan dengan cara membakar. Perubahan iklim dan penggundulan hutan juga membuat wilayah hidup reptil menjadi lebih panas, curah hujan menurun dan kekeringan yang semakin parah memacu kebakaran yang lebih sering dan intens sehingga menelan sebagian besar habitat. Dengan lanskap yang terfragmentasi oleh pertanian, peternakan, pagar jalan, desa dan kota membuat hewan kehilangan habitatnya.

Melestarikan Apa yang Tersisa

Di tahun 2008, Nogueira menemukan Bachia oxyrhina yang tersembunyi di tanah berpasir di habitat terfragmentasi di Cerrado. Spesies kadal baru tersebut belum pernah ditemukan di lokasi lain. “Jadi sementara, melindungi sepenuhnya sisa vegetasi asli Cerrado penting untuk melestarikan fauna dan flora, melestarikan mosaik area habitat yang lebih kecil yang penting bagi spesies celah ini, juga sama pentingnya”jelas Nogueira.

Baca Juga: Fakta Populasi Vertebrata Global, Anjlok Hingga Dua Per Tiga

Selain konversi lahan yang mengakibatkan hilangnya habitat bagi satwa termasuk reptil, perilaku reproduksi yang lama, ukuran populasi yang kecil dan status konservasi yang tidak diketahui juga menjadi penyebab semakin hilangnya berbagai spesies satwa, termasuk ular dan kadal Cerrado.

Ular berperan penting bagi ekosistem, mencegah hewan pengerat dari kelebihan populasi. Kadal juga memiliki peran penting dengan mengendalikan serangga, termasuk hama yang berdampak pada tanaman. Mereka juga merupakan makanan pokok bagi burung dan hewan lainnya, sehingga ditegaskan kembali oleh Nogueira bahwa menyelamatkan ular dan kadal di Cerrado Brasil memang membutuhkan strategi yang tepat untuk bisa berpacu dengan waktu.

 

Tonton video menarik ini:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here