Home Biodiversitas BMP Sebagai Alat Tangkap Jaring Lingkar untuk Memperkuat Kapasitas Nelayan

BMP Sebagai Alat Tangkap Jaring Lingkar untuk Memperkuat Kapasitas Nelayan

Agrozine.id – Cara penangkapan tuna global tahunan menggunakan rumpon dianggap efisien. Lebih dari 40 persen tangkapan tuna global ditangkap menggunakan rumpon. Tapi metode ini dapat memiliki proporsi penangkapan spesies yang bukan target dan tuna huvenil yang lebih tinggi daripada metode lainnya. Oleh karena itu dapat mengakibatkan terjeratnya spesies non target seperti hiu dan penyu. Perbaikan dalam manajemen perikanan di tingkat Regional Fiesheries Management Organization (RFMO) termasuk perbaikan manajemen rumpon, sehingga diperlukan upaya untuk mengatasi dan mencegah penangkapan berlebihan dari spesies dan tangkapan sampingan. Alat tangkap ikan jaring lingkar di Perairan Indonesia dan salah satunya di Kendari.

Namun alat tangkap ikan jaring lingkar ini juga memiliki ketergantungan yang tinggi pada rumpon dalam operasi penangkapannya. Hal tersebut mengakibatkan adanya potensi hasil tangkapan sampingan seperti juvenil dan spesies yang terancam punah.

Dengan adanya kasus ini menunjukkan bahwa diperlukan adanya panduan untuk membantu para kapten kapal dan krunya untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman terkait mitigasi dan penanganan hasil tangkapan sampingan serta menerapkannya saat melakukan kegiatan penangkapan ikan.

Baca Juga: Kolaborasi WWF Indonesia dengan MSC Dorong Percepatan FIP Kepiting Bakau di 
KEI Melalui Serangkaian Pelatihan

Melihat permasalah tersebut, Yayasan WWF Indonesia mencoba untuk membuat pengembangan dan pelatihan Better Management Practices (BMP) dalam rangka memberikan peningkatan kapasitas dan pemahaman nelayan sebagai upaya meminimalisir dan memitigasi besarnya komposisi tuna juvenile pada hasil tangkapan alat tangkap ikan jaring lingkar dan penanganan pada hasil tangkapan sampingan. Pelatihan tersebut diikuti oleh 48 peserta yang berprofesi sebagai kapten dan anak buah kapal dari 25 armada jaring lingkar di Kendari.

Kegiatan pelatihan tersebut dibuka oleh Kepala Pelabuhan Perikanan Samudra Kendari, Ir Mansur, MM yang menyampaikan dukungan untuk kegiatan dan berharap agar pelatihan ini bisa berguna untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan informasi di tingkat nelayan tentang praktik penankapan, penanganan dan menjaga kualitas hasil tangkapan serta aturan yang terkait dengan praktik perikanan tangkap yang telah dikeluarkan di Indonesia.

Di awal kegiatan, seluruh peserta diminta untuk mengisi lembar pre test sebelum menerima pelatihan dan di akhir sesi pelatihan peserta diberikan test untuk mengukur seberapa jauh pemahaman peserta tentang materi pelatihan yang diberikan.

Baca Juga: Yayasan WWF Indonesia dan MSC Adakan Pelatihan Perikanan Berkelanjutan

Adapun materi yang diberikan dalam pelatihan terdiri dari Kebijakan Perizinan dan Pendaftaran Kapal Perikanan di Sulawesi Tenggara, Kebijakan Pemantauan dan Pelaporan Hasil Tangkapan, Biota Dilindungi dan Terancam Punah serta Ukuran Layak Tangkap Tuna dan Penanganan Hasil Tangkapan Sampingan pada Perikanan dan  Purse Seine.

Selain memberikan pelatihan, kegiatan ini juga memberikan ruang diskusi dimana para peserta bisa berbagi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi sehari-hari. Melalui kegiatan ini, diharapkan banyak masukan berharga untuk upaya mitigasi adanya hasil tangkapan sampingan oleh para peserta dan diharapkan pelatihan ini akan bermanfaat untuk menyempurnakan dokumen Better Management Practies ini guna mendorong terwujudnya praktik perikanan tangkap yang berkelanjutan. Oleh karena itu penggunaan alat tangkap jaring lingkar bisa diaplikasikan dengan baik untuk mengurangi adanya salah target dan mengurangi hasil tangkapan sampingan.

 

Tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here