Home Hortikultura Bunga Gladiol, Bunga Potong Legendaris dari Tanah Afrika

Bunga Gladiol, Bunga Potong Legendaris dari Tanah Afrika

longfield-gardens.com

Agrozine – merupakan tanaman bunga hias berupa tanaman semusim berbentuk herba termasuk dalam famili Iridaceae. Gladiol berasal dari bahasa latin “Gladius” yang berarti pedang kecil, seperti bentuk daunnya. Bunga gladiol melambangkan integritas, kekuatan, dan kemenangan.

Bunga ini seringkali dimanfaatkan sebagai peralatan dalam acara tradisional. Mulai acara ritual tradisional, keperluan keagamaan, hingga upacara kenegaraan. Keindahan gladiol membuat orang banyak mencari bunga ini untuk menghiasi taman atau halaman rumah.

Tanaman ini berasal dari Afrika Selatan dan menyebar di Asia sejak 2000 tahun lalu. Tahun 1730 mulai memasuki daratan Eropa dan berkembang di Belanda.

Ukuran bunganya yang relatif besar membuatnya eye catching sehingga menarik pembeli. Selain itu, keunikan dari tanaman ini adalah struktur bunga yang bervariasi. Tanaman ini memiliki berbagai macam warna yang indah dan unik. Warna-warni bunga tersebut yang menjadi daya tarik bagi orang yang mencintai tanaman ini. Ada gladiol merah muda, putih bergaris ungu, oranye muda, oranye, kuning, gladiol dua warna, dan putih.

Daun dari bunga ini berukuran 50-80 cm dengan lebar 1-4 berbentuk panjang dan meruncing. Pada setiap batang biasanya terdiri 1-12 helai daun yang tersusun pada bagian dasar. Gladiol biasanya baru dapat berbunga setelah memiliki daun minimal 8 helai, sekitar 60-90 hari setelah tanam.

Tanaman gladiol yang termasuk subklas Monocotyledoneae, berakar serabut, dan tanaman ini membentuk pula akar kontraktil yang tumbuh pada saat pembentukan subang baru. Subang adalah tempat menyimpan persediaan makanan yang dapat berfungsi sebagai alat reproduksi pada tanaman Gladiol. Pada akar kontraktif terdapat beberapa rambut halus yang bertugas untuk menyerap air. Subang Induk akan terus digantikan oleh subang harus yang selalu berkembang. Untuk menghasilkan bunga berukuran standar, subang baru membutuhkan waktu dua hingga empat tahun.

Ketebalan daging yang terdapat di akar berdiameter sekitar 0,7 cm dan berwarna putih. Daging akar ini memiliki fungsi untuk tatakan atau penyangga subang baru pada lapisan tanah agar berada pada tempat yang tepat. Indonesia mengenal 20 varietas gladiol dari Belanda yang kemudian diuji multi lokasi di kebun percobaan Sub Balai Penelitian Hortikultura Cipanas. Tiga varietas di antaranya memiliki penampilan yang paling indah, (warna dan bentuknya berbeda dengan gladiol lama), yaitu: White godness (putih), Tradehorn (merah jingga), dan Priscilla (putih).

Berikut ini ragam jenis bunga gladiol:

  • Gladiolus gandavensis.Ukurannya besar, susunan bunga terlihat bertumpang tindih, panjang 90–150 cm.
  • Gladiolus primulinus. Ukurannya kecil, sangat menarik. Bertangkai halus tetapi kuat dan panjangnya mencapai 90 cm.
  • Gladiolus ramosus. Panjang tangkai bunga 100–300 cm.
  • Gladiolus nanus. Tangkai bunga melengkung, dan panjang hanya 35 cm.

Beberapa kultivar bunga gladiol lainnya yang telah di uji di Indonesia dianataranya: Red Majesty, Priscilla, Oscar, Rose Supreme, Sanclere, Dr. Mansoer, Albino, Salem, Marah Api, Queen Occer, dan Ceker.

Sementara itu, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) telah menghasilkan empat varietas gladiol, yaitu Dayang Sumbi, Kaifa, Clara, dan Nabila.

Bunga ini bisa tumbuh di ketinggian 600–1400 m dpl pada tanah ber-pH 5,8-6,5 dalam suhu 10-25 derajat Celsius. Perbanyakan dapat dilakukan secara vegetatif maupun generatif. Tanaman ini sangat toleran pada berbagai struktur tanah, dari tanah yang ringan berpasir berbahan organik rendah sampai tanah yang berat berlempung atau liat. Penanaman gladiol harus diusahakan pada lahan yang bukan bekas pertanaman gladiol atau keluarga dekatnya, seperti iris, ixia, freesia, dan monbretia.

Sentra produksi bunga gladiol di Indonesia untuk daerah Jawa Barat terdapat di Parongpong (Bandung), Salabintana (Sukabumi) dan Cipanas (Cianjur). Di Jawa tengah terdapat di daerah Bandungan (Semarang), sedangkan di Jawa Timur berada di daerah Batu (Malang).

Gladiol diproduksi sebagai bunga potong yang mempunyai nilai ekonomi dan memiliki nilai estetika. Bunga potong juga merupakan sarana peralatan tradisional, agama, upacara kenegaraan dan keperluan ritual lainnya. Gladiol merupakan salah satu bunga potong yang paling banyak dicari untuk hiasan di tempat pesta. Kelebihan dari bunga potong gladiol adalah kesegarannya dapat bertahan lama sekitar 5-10 hari dan dapat berbunga sepanjang waktu.

Kekurangannya, bunga gladiol tergolong bunga yang mudah kehilangan air (cepat layu). Namun, kondisi ini masih dapat disiasati. Tentunya, teknik memanen yang benar juga harus diterapkan. Bunga potong sebaiknya tidak dipanen ketika mentari sedang terik, tetapi dipanen sebelum matahari terbit atau menjelang petang. Saat memanen, batang bunga dipotong miring. Dengan begitu, tercipta penampang batang yang lebih luas untuk menyerap air. Panen bunga dapat dilakukan setelah kuntum 1 dan kuntum 2 bunga terbawah sudah menunjukkan warnanya, tetapi belum mekar. Bila panen dilakukan setelah mekar, bunga gladiol akan mudah rusak pada saat pengangkutan. Sebaliknya, bila bunga dipanen terlalu awal maka bunga tidak dapat mekar sempurna. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here