Home Pertanian Damai Ladang Jeruk Kintamani, Objek Tamasya Andalan Bali

Damai Ladang Jeruk Kintamani, Objek Tamasya Andalan Bali

Agrozine.id – Bertamasya di ladang jeruk. Ladang jeruk bersanding dengan kopi ditambah dengan sejuknya udara sore menjadi perpaduan yang pas saat jalan-jalan di ladang jeruk Kintamani. Sejauh mata memandang hanya ada buah jeruk menguning dan bergelantungan di sepanjang ladang. Pernah membayangkan serunya bersepeda di ladang jeruk? Menjelang sore hari pengunjung bisa menikmati udara sejuk sambil mengayuh sepeda ditemani oleh udara sejuk pegunungan. Sesekali kita bisa menikmati buah jeruk yang sudah matang langsung dari pohonnya.

Ketut Darsa, sang pemilik kebun jeruk selalu menyambut ramah setiap tamu yang datang berkunjung ke kebun miliknya. “Ayo dicicipi”, ujarnya. Meski harga jual jeruk jatuh namun melihat buah jeruknya menguning sudah cukup membuat Ketut Darsa bahagia.

 

Tak hanya jeruk siam, petani jeruk di Kintamani juga menanam berbagai jenis jeruk lain seperti jeruk slayer. Jeruk ini memiliki tampilan yang lebih cantik dibandingkan jeruk siam dengan perpaduan rona di kulitnya. Jeruk ini memiliki perpaduan rasa manis dan asam sehingga dijuluki juga jeruk nano-nano.

Jika dikonsumsi secara langsung jeruk slayer memiliki rasa asam, namun jika disimpan sekitar 3-4 hari rasa jeruk ini akan berubah menjadi lebih manis. Harganya pun relatif lebih murah, tapi rasanya yang segar dan tampilannya yang cantik mampu membuat pengunjung yang datang ke kebun terpikat dengan jeruk slayer ini.

Meski jeruk-jeruk di kebun sudah menguning, Ketut Darsa akan menunggu kesiapan pengepul sebelum melakukan pemanenan. “Jeruk sudah matang tapi tidak akan busuk karena tanahnya kering” kata Darsa. Semua jeruk yang dijualnya diharga senilai Rp. 3500-Rp 4000 per kilogramnya.

Sepanjang tahun panen jeruk bisa dilakukan . Wayan Sukarna salah seorang pengepul jeruk bersama istrinya turut terlihat di kebun jika sudah memasuki musim panen.

Perkebunan jeruk Kintamani berada sekitar 60 kilometer dari kota Denpasar. Saat memasuki musim panen, biasanya truk-truk pengepul sudah berseliweran sejak pagi hari. Selain dijual di sekitar Bali, jeruk-jeruk tersebut juga dipasarkan sampai keluar pulau Jawa dan Bali.

Puncak musim panen jeruk Kintamani berlangsung cukup panjang sejak bulan Juni hingga Desember. 3-4 pohon jeruk bisa menghasilkan sekitar 1 kuintal jeruk Kintamani. Tumbuh di ketinggian, jeruk Kintamani bisa berbuah sepanjang tahun karena mendapat penyinaran matahari yang cukup.

Proses sortir jeruk

Pengunjung yang datang ke kebun jeruk Kintamani bisa memetik jeruk sendiri. Selain itu juga disediakan keranjang-keranjang berisi jeruk siap jual di tepi jalan. Harga jeruk ini pun cenderung terjangkau mulai dari Rp 5000-Rp 10.000 per kilogramnya.

Hebatnya lagi jeruk-jeruk yang dijajakan di tepi jalan dibiarkan begitu saja saat malam hari. Meskipun ramai dilalui oleh kendaraan, namun jeruk-jeruk tersebut tetap aman. Petani dan pedagang jeruk tidak khawatir jeruknya hilang.

Pertalian petani di Kintamani dengan tanaman jeruk sudah dimulai sejak tahun 1993, namun sempat terpuruk di tahun 1999 akibat serangan penyakit dan kemudian bangkit lagi di tahun 2003.  Meski sudah berusia belasan tahun, namun ladang jeruk Kintamani ini masih tetap eksis. Jeruk Kintamani memiliki masa simpan yang lumayan lama. Sejak dipanen jeruk ini bisa bertahan sampai satu minggu. Pertalian petani dan masyarakat Bali terhadap tanaman jeruk juga menjadi sangat erat karena buah ini digunakan untuk keperluan sembahyang. (ira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here