Dampak “lockdown” Terhadap Konservasi Keanekaragaman Hayati

    Agrozine.id – Pandemi virus korona 2019 (COVID-19) merupakan episode terbaru dari serangkaian tragedi yang menyebabkan dampak luas, termasuk ekologi dan konservasi keanekaragaman hayati di dunia.

    Wabah yang begitu cepat datang dan adanya pemberlakuan lockdown menyebabkan para peneliti tidak bisa mengakses atau memantau lokasi penelitian sehingga tidak ada bukti ilmiah tentang dampak langsung lockdown terhadap spesies dan ekosistem.

    Pandemi saat ini dipastikan akan memiliki konsekuensi positif dan negatif yang vital bagi konservasi keanekaragaman hayati. Tak hanya di Indonesia, beberapa lokasi di dunia termasuk hutan terluas di dunia yakni hutan Amazon juga terancam terganggunya konservasi tumbuhan beserta habitatnya.

    Dampak Langsung

    Selama lockdown, kerusakan hutan hujan Amazon meningkat 55% dalam empat bulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

    Terumbu karang yang berusia berabad-abad di Karibia rusak parah akibat kurangnya pengobatan terhadap penyakit jamur, dan meningkatnya spesies invasif tikus yang menghancurkan spesies asli dan habitat di negara kepulauan seperti Selandia Baru, dengan tidak adanya upaya pemberantasan. Ini adalah dampak untuk konservasi keanekaragaman hayati di dunia.

    Sebaliknya, penurunan ekowisata dan kehadiran manusia dapat membantu spesies yang sensitif terhadap tekanan antropogenik untuk berkembang. Sehingga menyebabkan peningkatan kehamilan pada hewan di kebun binatang, program reintroduksi spesies yang rentan, dan peningkatan penampakan satwa liar yang dekat dengan tempat tinggal manusia dari seluruh dunia.

    Di sisi lain, lockdown meningkatkan proyek sains secara virtual. Kolaborasi antara para peneliti dan masyarakat umum, dalam digitalisasi, pengumpulan data awal, dan kesukarelaan, kemungkinan besar akan menggarisbawahi peran warga dalam proyek-proyek konservasi, termasuk keanekaragaman hayati.

    Berita positif termasuk larangan sementara oleh China atas pasar satwa liar, penghentian yang diakibatkan dalam industri perdagangan satwa liar di Asia Tenggara, dan kemungkinan larangan lebih lanjut oleh negara lain atas perdagangan satwa liar. Namun, larangan tersebut dapat merugikan jutaan orang miskin yang bergantung pada satwa liar untuk mata pencaharian dan nutrisi mereka, yang pada akhirnya mengakibatkan kemungkinan eksploitasi berlebihan.

    Sisi negatifnya, banyak negara seperti Amerika Serikat, Indonesia, dan India yang melonggarkan undang-undang peraturan lingkungan sehingga mengakibatkan tingkat penebangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tingkat izin proyek pembangunan yang lebih tinggi, karena adanya dorongan finansial untuk menghidupkan kembali industri bahan bakar fosil.

    Yang semakin memilukan untuk nasib habitat alami di dunia adalah kesepakatan dari beberapa pertemuan antar pemerintah seperti Kongres Konservasi Dunia, Konferensi Kelautan PBB, dll yang memutuskan untuk meninjau kembali konservasi keanekaragaman hayati dan telah dibatalkan atau ditunda.

    baca juga : PBB Ungkap Tantangan Keanekaragaman Hayati Dunia

    Dampak Jangka Panjang

    Pengangguran dan migrasi massal akibat pandemi dapat menambah tekanan pada satwa liar dan habitat untuk mendapatkan makanan dan mata pencaharian dengan meningkatnya perburuan liar dan penebangan, yang mengarah pada kontak yang lebih dekat antara manusia dan satwa liar, yang mengakibatkan wabah penyakit zoonosis di masa depan.

    Selain itu, ada seruan mendesak untuk menghentikan ekowisata dan mengurangi penelitian di lapangan untuk menghentikan penyebaran COVID-19 pada hewan liar. Pendanaan konservasi keanekaragaman hayati diproyeksikan menyusut karena kurangnya wisatawan dan juga karena pergerakan dana menuju isu-isu sosial dan ekonomi yang lebih mendesak, yang kemungkinan besar akan mempengaruhi praktik konservasi.

    Tak hanya itu, penurunan dana konservasi dianggap menghambat efektivitas proyek konservasi, sehingga mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati dan habitat yang lebih tinggi.

    Positifnya, penurunan permintaan konsumen dan produksi barang telah menyebabkan penurunan konsumsi energi oleh industri, yang mengarah pada penurunan pengiriman dan perdagangan yang juga berdampak pada penggunaan minyak. Ada juga penurunan polusi suara yang signifikan sejak lockdown.

    Konservasi Jadi Jalan Menuju Kemajuan

    Diharapkan, pandemi ini telah membawa kesadaran tentang hubungan antara komponen manusia dan makhluk lainnya di Bumi. Jalan ke depan untuk konservasi keanekaragaman hayati harus memiliki empat cabang, dengan melibatkan kebijakan, industri, konservasionis, dan masyarakat umum.

    Korporasi dan konservasionis dapat bersatu padu pada model pembangunan “bisnis untuk alam” daripada model “alam untuk bisnis” konvensional. Misalnya, peningkatan investasi oleh perusahaan yang bergantung pada sumber daya alam seperti makanan laut, hasil pertanian, dan hasil hutan dalam kesejahteraan ekosistem ini akan menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.

    baca juga : Mengenal 7 Spesies Ikan Terbesar di Dunia yang Masih Hidup, Apa Saja?

    Seperti dilansir www.pnas.org yang menguraikan bahwa banyak variabel lingkungan yang telah berubah dalam hitungan beberapa minggu dan telah mencapai rekor level baru dalam beberapa dekade. Lockdown memberikan kesempatan unik kepada peneliti untuk menyusun pertanyaan baru tentang perubahan variabel lingkungan dan dampaknya terhadap spesies dan ekosistem, terutama yang berkaitan dengan konservasi, sebelum, selama, dan setelah lockdown.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here