Home Kampus Dampak Pembangunan Infrastruktur Terhadap Petani di DIY

Dampak Pembangunan Infrastruktur Terhadap Petani di DIY

Agrozine – Pembangunan merupakan suatu upaya untuk memajukan kehidupan masyarakat. Dengan pembangunan, tingkat penggangguran dan kesenjangan antar daerah dapat berkurang. Oleh karena itu, pembangunan harus dilakukan secara merata agar dampaknya dapat dirasakan semua masyarakat. Tidak terkecuali pembangunan infrastruktur di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Secara administratif, DIY terdiri dari empat kabupaten dan satu kota yaitu Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Gunung Kidul dan Kota Yogyakarta.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Kulonprogo memiliki jumlah penduduk paling sedikit diantara kabupaten dan kota lainnya, yakni sebanyak 416.683 jiwa pada tahun 2016. Ketimpangan jumlah penduduk merupakan salah satu penyebab dari pembangunan yang tidak merata. Salah satu bentuk pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah adalah pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulonprogo. Mengingat DIY merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia, bandara baru perlu dibangun untuk menampung lebih banyak kapasitas penumpang.

Bandara Adisutjipto yang juga merupakan bandara milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) yang menjadi pangkalan dan pusat pendidikan terbang TNI AU. Hal ini menyebabkan kegiatan penerbangan komersil dan militer harus berbagi tempat. Pesawat komersil kerap tertahan dan berputar-putar di langit untuk menunggu kesiapan landasan pacu. Pada tahun 2011, pemerintah telah membuat suatu rencana jangka panjang dalam pembangunan negara dalam bentuk MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia).

Peraturan Presiden Nomor 32 tahun 2011 Pasal 4 tentang MP3EI menjadi dasar hukum regulasi ini. Salah satu proyek MP3EI adalah pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulonprogo yang diberi nama New Yogyakarta International Airport (NYIA). Kecamatan Temon dipilih oleh PT. Angkasa Pura I sebagai lokasi bandara karena berada di dataran rendah yang tidak berpotensi banjir, dengan tingkat kelandaian 0-1%, serta kepadatan penduduk yang lebih rendah. Tata guna lahan sebagian besar adalah pantai dan lahan pertanian, dengan aksesibilitas yang cukup baik dan dekat dengan pusat kota Yogyakarta.

Secara kasat mata, pembangunan bandara baru ini dapat meningkatkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Kulonprogo. Namun dalam kebijakan ini, lahan pertanian warga digunakan sebagai lokasi pembangunan NYIA. Hal ini memunculkan respon diantara petani karena lahan pekerjaan mereka digunakan untuk proyek pembangunan sehingga mereka memerlukan strategi setelah lahannya digunakan. Inilah yang menjadi alasan Aulio Oktadino Azre, lulusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran tahun 2015 mengangkat topik ini sebagai skripsi.

Menurut Azre, topik ini masih jarang dibahas dan dipilih oleh teman-teman angkatannya. “Apalagi soal sengketa lahan, dan kebetulan lagi rame banyak yang demo soal sengketa lahan di depan kantor desa,” jelasnya. Ia mengaku, ide penulisan juga berasal dari temannya di Jogja yang sebelumnya telah mengangkat topik sengketa lahan sebagai skripsi. Dari hasil penelitiannya, respon sebagian besar petani setuju dengan pembangunan NYIA dan hanya sebagian kecil yang menolak pembangunan NYIA.

Para petani yang setuju memiliki lahan pertanian dan tempat tinggal di tempat pembangunan infrastruktur NYIA. Sedangkan yang menolak pembangunannya merupakan buruh tani dan petani penggarap yang lahan pekerjaannya digunakan untuk pembangunan NYIA. Kehilangan lahan pertanian membuat para petani kehilangan sumber penghasilannya. Beberapa petani memiliki strategi untuk bertahan di pertanian karena tidak memiliki keahlian lain, masih ingin menjadi petani, dan memiliki lahan pertanian di luar kawasan bandara.

Strategi para petani lainnya ialah melanjutkan usaha di bidang selain pertanian. Selain itu biaya sewa lahan dinilai mahal, beberapa petani bahkan sudah lelah menjadi petani dan melihat peluang usaha lain. Usaha yang dilakukan oleh petani setelah pembangunan NYIA antara lain usaha transportasi, kos-kosan, warung makan, dan warung kecil. PT. Angkasa Pura I sebagai operator pembangunan NYIA mengadakan pelatihan-pelatihan yang berguna untuk menambah keahlian para petani yang terdampak.

Pelatihan yang diadakan PT. Angkasa Pura I antara lain pelatihan bahasa inggris, tata boga, kelistrikan, tukang, dan bangunan. Azre menambahkan, pelatihan yang diberikan oleh PT. Angkasa Pura I tergolong efektif karena beberapa petani mendapatkan pekerjaan baru. “Ada yang jadi costumer service bandara, ada yang jadi tour guide candi Borobudur. Angkasa Pura sangat meng-encourage petani yang ada disana,” jelas pria kelahiran Padang, 6 Oktober 1998 ini.

Adapun harapan Azre agar pemerintah dapat membuat kebijakan untuk petani agar tetap berusahatani. Namun beliau juga tak menyangkal pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kulonprogo dinilai tepat karena mayoritas petani sudah tua. “Karena faktor umur, udah ga kuat, dan ga ada yang lanjutin usahatani lagi. Sekarang uang ganti rugi dibuat usaha kos-kosan, rumah makan, dan lainnya,” tambahnya.  Selain itu, harapannya para petani tidak membuka usaha di sekitar pembangunan NYIA karena adanya kebisingan dan debu akibat pembangunan. (rin)

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here