Home Kampus Dan Sulaiman, Membangun Pertanian Terintegrasi di Kota Bogor

Dan Sulaiman, Membangun Pertanian Terintegrasi di Kota Bogor

Agrozine.id –  Menggeluti dunia pertanian bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan tidak melulu harus mereka yang memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang pertanian. Belajar bertani bisa darimana saja, termasuk orangtua, lingkungan sekitar dan bahkan bisa belajar otodidak memanfaatkan teknologi yang ada saat ini. Dan Sulaiman namanya, seorang pemuda yang berhasil membangun pertanian terintegrasi di tengah kota Bogor.

Tidak banyak yang tahu bahwa di tengah kota Bogor masih ada lahan pertanian. Namun pemuda berusia 25 tahun ini berhasil mengembangkan lahan pertanian milik keluarganya yang berlokasi di Komplek Pakuan, Tajur Kota Bogor.

Dan sapaan akrabnya juga merupakan Ketua Kelompok Tani Dewasa (KTD) Bumi Pakuan. Sejak lulus dari ITS pada tahun 2018 lalu, Dan memutuskan untuk kembali ke Bogor dan mulai menggarap lahan pertanian milik keluarganya setelah belajar pada pamannya. Pemuda asal Bogor tersebut mengaku sejak awal tidak pernah terbersit untuk menjadi petani. Lulusan program studi ilmu fisika ITS ini justru awalnya merintis usaha toko cuci sepatu sejak tahun 2016.

“Sebenarnya awalnya tuh saya punya usaha toko cuci sepatu, karena memang dari awal nggak kepikiran mau terjun ke pertanian. Sampai sekarang usaha toko cuci sepatu itu masih berjalan di Jakarta dan Surabaya, tadinya di Bogor juga ada cuma nggak kepegang. Saya mau fokus ke lahan aja jadi saya tutup tapi yang di Jakarta sama di Surabaya masih ada”, tutur Dan.

Baca Juga: Mai Organik Farm : Sinergikan Pertanian Organik dengan Ekowisata

Karena tidak memiliki pengetahuan di bidang pertanian, Dan banyak berkonsultasi dengan senior di kampusnya dan bahkan belajar dari petani-petani yang menjadi anggotanya di KTD Bumi Pakuan.

Di lahan yang dimilikinya tak hanya ditanami berbagai komoditas pertanian, tapi juga dimanfaatkan sebagai kolam ikan dan budidaya domba Garut. “Ya ibaratnya kita bikin pertanian terintegritas gitu lah. Jadi memang bukan cuma nanam aja, tapi juga ada ternak, ada ikan dan kita jalankan secara bersamaan”, ujarnya. Tapi ditambahkan oleh Dan, ternak domba Garut adalah milik pamannya yang juga sekaligus pemilik lahan yang dikerjakannya.

Baca Juga: Kisah Khoerul dan Bisnis “Ayam Hias Jawa Tengah” 
Omzet Puluhan Juta Rupiah

Di lahan seluas kurang lebih 200 meter persegi ditanami mentimun. Adapun alasan pemilihan mentimun dikatakan Dan adalah karena mentimun memiliki waktu panen yang relatif singkat sehingga perputaran tanaman bisa dilakukan beberapa kali dalam setahun. “Karena kan masih di awal-awal dulu saya pikir komoditas apa yang bisa ditanam dan bisa panen dalam waktu dekat, makanya nanamlah mentimun itu”, ujarnya.

Selain menerapkan konsep pertanian konvensional, Dan juga turut mengembangkan hidroponik. Adapun komoditas sayuran hidroponik yang ditanaminya seperti kangkung dan bayam. Tak hanya itu di lahan yang digarapnya memang sudah ada ternak dan ikan. Oleh karena itu, Dan berkeinginan untuk mewujudkan pertanian terintegrasi memanfaatkan lahan dan komoditas yang sudah ada di KTD Bumi Pakuan.

Saat ini dalam pemasaran produknya, Dan mengaku masih menjual ke tengkulak. Ia masih mempelajari karakteristik setiap produk yang dihasilkannya untuk nantinya mengetahui sistem pemasaran yang tepat sehingga kualitas produknya tidak berkurang sampai ke tangan konsumen.

Baca Juga: Potret Dumadi, Budidaya Ayam Cemani Siap Ekspor Ke Mancanegara

“Untuk petani kita masih menggunakan cara konvensional. Jadi masih menjual ke pengepul, masih ikut harga pasar dan belum bisa menentukan harga sendiri. Tapi kedepannya sekalian belajar semoga nantinya bisa menemukan penentuan harga yang tepat. Karena kalau yang saya lihat kadang di beberapa tempat terutama kalau petani yang sudah tua itu, patokan mereka tidak ada. Artinya patokan untuk menentukan harga itu belum ada, karena kalau biasanya di pasar kita jual per kilo, dari petani mereka menghitungnya tidak seperti itu. Contohnya kacang panjang, di petani mereka menjualnya per ikat atau per kepal sedangkan di pasar per kilo misalnya. Nah jadi penentuan satuan itu juga belum ada patokannya” kata Dan.

Saat ini Dan berkeinginan untuk mengembangkan pertanian terintegrasi dan menargetkan kedepannya ingin memadukan unsur teknologi dalam pertanian yang dijalankannya. Ia juga mengatakan bahwa potensi pertanian di perkotaan masih sangat tinggi mengingat permintaan yang selalu lebih tinggi dibandingkan supply. Jadi menurutnya membangun pertanian bisa dimana saja, dengan latar belakan apa saja, termasuk juga di kota. (ira)

 

Tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here