Home Hortikultura Daun Katuk, Tanaman Pelancar Air Susu

Daun Katuk, Tanaman Pelancar Air Susu

herbalramble.files.wordpress.com

Agrozine – Daun katuk merupakan sayuran yang dikenal memiliki khasiat memperlancar dan memperbanyak aliran air susu ibu (ASI). Bukan hanya pada manusia, daun katuk kini juga digunakan untuk memperlancar produksi susu hewan ternak. Daun ini juga telah dijadikan sebagai salah satu produk suplemen pakan ternak, seperti Katulac yang diproduksi oleh IPB.

Katuk yang bernama ilmiah Sauropus androgynus adalah spesies tumbuhan yang banyak terdapat di Asia Tenggara  termasuk ke dalam genus Sauropus dalam suku menir-meniran (Phyllanthaceae). Tanaman ini disebut juga spying (Malaysia), simani (Minangkabau), kebing dan katukan (Jawa), kerakur (Madura), mani cai (Tionghoa), cekur manis (Melayu), dan rau ngót (Vietnam), dan disebut sweet leaf bush/star gooseberry dalam bahasa Inggris.

Pohon katuk berbentuk semak, tingginya dua sampai tiga meter, dan tumbuh di dataran rendah hingga 1.300 di atas permukaan laut. Daunnya kecil, berwarna hijau gelap dengan panjang lima sampai enam sentimeter. Bunganya berwarna merah gelap atau kuning dengan bercak merah gelap dan berbunga sepanjang tahun. Tumbuhan ini berkerabat dengan menteng, buni, dan ceremai.

Tanaman ini terkesan ramping sehingga sering ditanam beberapa batang sekaligus sebagai tanaman pagar yang tingginya sekitar 1–2 m. Batang tanaman ini tumbuh tegak, saat masih muda berwarna hijau, setelah tua menjadi kelabu keputihan, berkayu, dan memiliki percabangan yang jarang.  Penampilan khas dari daun katuk adalah bentuk corak berwarna keperakan pada permukaan atas, yaitu terletak di tengah, menyebar, atau campuran dari keduanya.

Semak tahunan ini memiliki adaptasi tropika dan subtropika serta produktif sepanjang tahun walaupun tanaman cenderung agak dorman pada cuaca dingin. Katuk toleran terhadap panas dan sensitif terhadap dingin, serta menyukai tanah lempung liat dengan pH optimal 6.

Katuk mudah diperbanyak dengan biji atau stek. Biji dapat bertahan selama 3-4 bulan jika disimpan ditempat kering dan sejuk. Perbanyakan dengan stek dilakukan dengan memotong batang dengan panjang 20-30 cm dari batang yang tua dengan 2-3 buku. Kemudian, buang cabang dan daun. Pastikan bagian bawah stek berjarak sekitar 3 cm dari buku. Tanam stek dengan kedalaman 4-6 cm dengan hanya 1 buku yang berada di atas tanah.

Tanaman dapat dipanen pertama kali 55-70 hari setelah tanam. Bagian yang dipanen adalah daun dan batang yang masih muda. Untuk menjaga produksi pucuk muda, lakukan pemangkasan. Tinggi katuk dipertahankan 1-2 m. Panen dapat dilakukan satu bulan sekali. Tanaman katuk dapat dipanen hingga berumur 3 tahun. Hasil panen diikat ditempat teduh dan ikat sekitar 4-5 batang.

Daun katuk mengandung protein hampir 7%  dan serat kasar sampai 19%. Daun ini kaya vitamin K, selain pro-vitamin A (beta-karotena), B, dan C. Mineral yang dikandungnya adalah kalsium, besi, kalium, fosfor, dan magnesium. Warna daunnya hijau gelap karena kadar klorofil yang tinggi. Daun katuk juga mengandung protein, lemak, tanin, saponin flavonoid, dan alkaloid. Selain untuk memperbanyak jumlah air susu, daun katuk  dapat dimanfaatkan untuk obat jerawat, juga berkhasiat sebagai obat demam, bisul, dan borok.

Katuk dapat diolah seperti kangkung atau daun bayam. Namun perlu diketahui, daun ini mengandung papaverina, suatu alkaloid yang juga terdapat pada candu. Jadi, jangan dikonsumsi berlebihan ya karena dapat menyebabkan efek samping, seperti keracunan papaverin. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here