Home Kampus Dosen FPIK Unpad Tanggapi Penemuan Seaglider di Perairan Indonesia

Dosen FPIK Unpad Tanggapi Penemuan Seaglider di Perairan Indonesia

penemuan seaglider

Agrozine.id – Seorang nelayan di perairan Pulau Selayar, Sulawesi Selatan melaporkan telah menemukan benda yang mirip seperti rudal. Diketahui benda tersebut adalah sebuah seaglider atau autonomous underwater vehicle (AUV). Menanggapi hal tersebut, Dosen Departemen Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unpad, Noir Primadona Purba, M.Si., memiliki dua pandangan terkait penemuan seaglider.

Seaglider merupakan bagian dari perkembangan teknologi riset di bidang kelautan. Alat ini umumnya digunakan untuk melakukan survei hidrografi, pengumpulan data bawah laut, hingga eksplorasi dasar laut.

Baca juga: Mengenal Robot Bawah Air Wikraluga Pendeteksi Ranjau Laut

Perangkat seaglider bisa dipasang beragam sensor yang disesuaikan oleh kepentingan peneliti. Sensor ini dapat berupa sensor suhu, salinitas, oksigen, dan lain sebagainya.

Apabila seaglider dipasang sensor kelautan, ada kemungkinan perangkat ini tidak terkontrol sehingga akhirnya masuk ke perairan Indonesia.

Lebih lanjut Noir menjelaskan, perangkat tidak terkontrol karena hilangnya komunikasi atau dalam beberapa publikasi dinyatakan bahwa jika kecepatan arus lebih cepat dari sistem kontrol seaglider, jadi seaglider tidak dapat melawan arus.

Hal tersebut diperkuat dengan kondisi perairan Pulau Selayar yang memiliki arus cepat, baik di permukaan atau di tengah perairan.

Kemudian, Noir berpendapat bahwa seaglider memang diterjunkan untuk meneliti perairan Indonesia. Penemuan seaglider yang diduga milik negara asing di perairan Indonesia merupakan hal yang serius.

Maka dari itu, proses investigasi juga perlu melihat apakah ada sensor yang dipasang pada wahana seaglider tersebut. Sensor ini akan mendukung proses investigasi yang tengah dilakukan. Sampai saat ini, investigasi terkait penemuan seaglider masih terus dilakukan.

Baca juga: Mengenal Echosounder: Alat Pendeteksi Ikan dan Kedalaman Laut

Sementara itu, Noir mengungkapkan adanya penemuan seagleader menyadarkan Indonesia perlu menguatkan aktivitas riset di bidang kelautan.

Sebagai negara yang diapit dua samudera, Indonesia memiliki potensi maritim yang besar. Perairan Indonesia merupakan salah satu laboratorium alam terbesar di dunia dengan tingkat biodiversitas yang tinggi. Sayangnya, jumlah riset maupun publikasi yang dilakukan peneliti Indonesia masih perlu diperkuat.

“Kita kekurangan sumber daya, baik manusia dan infrastruktur pendukung untuk riset laut dalam beserta di dasar perairan. Hal ini penting, tetapi publikasi terkait hal ini masih jarang ditemukan,” ujar Noir.

Mengingat sumber daya riset masih belum optimal, sejumlah peneliti maupun instansi Indonesia kerap menjalin kerja sama dengan pihak asing, terutama untuk riset terkait perairan laut lepas. Sejumlah negara, seperti Tiongkok, Perancis, Jepang, Jerman, hingga Amerika Serikat kerap melakukan kerja sama riset dengan Indonesia. (ran)

 

Tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here