Home Kampus Dosen UGM Kembangkan Eoligama: Filter Masker Berbahan Minyak Atsiri

Dosen UGM Kembangkan Eoligama: Filter Masker Berbahan Minyak Atsiri

Filter Masker Berbahan Minyak Atsiri

Agrozine.id – Grup riset dosen dari Fakultas Kehutanan UGM bekerja sama dengan dosen Fakultas Farmasi UGM berhasil mengaplikasikan filter masker yang berbahan dasar minyak atsiri kayu putih yang kemudian disebut dengan Eoligama ( Essential Oil Filter for Masker).

Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 mengubah seluruh tatanan kehidupan masyarakat. Di era kenormalan baru sekarang ini muncul kebiasaan baru yaitu penggunaan masker dalam aktivitas sehari-hari untuk menghindari penularan virus Covid-19. Masyarakat semakin sadar dengan perilaku hidup sehat. Maka dari itu, dibuatlah produk untuk mendukung perilaku sehat masyarakat dalam menggunakan masker yakni dengan filter masker berbahan dasar minyak atsiri kayu putih.

“Berangkat dari kondisi pandemi Covid-19 ini kemudian muncul kebiasaan baru orang-orang memakai masker. Dengan adanya masker dan filternya yang unik ini dapat menunjang kesehatan personal. Jadi selain untuk melindungi dari partikel halus juga memiliki potensi sebagai antibakteri dan antivirus,” ungkap Dr. Rini Pujiarti yang termasuk salah satu tim pengembang Eoligama.

Lebih lanjut, Dr. Rini menjelaskan komponen utama Eoligama adalah minyak atsiri yang potensial sebagai antibakteri dan antivirus. Meskipun belum teruji secara klinis, tim mencoba untuk terus mengembangkan Eoligama sebagai prototipe personal health care product.

Produk Eoligama tersebut merupakan hasil kerjasama beberapa institusi yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Perum Perhutani, PT. Ardhi Lestari Makmur dan Yayasan Oemi Haniin. Adapun tim pengembang dari UGM terdiri dari Dr. Rini Pujiarti bersama Dr. Joko Sulistyo, Dr. Denny Irawati, Dr. Sigit Sunarta, Prof. Ganis Lukmandaru, Prof. Sri Nugroho Marsoem, (Fakultas Kehutanan UGM) lalu ada Dr. Arief Nurrokhmad dan Dr. Saifulloh (Fakultas Farmasi UGM), Alex Zubaidi, S.Hut., MIL, Valdi Riovia, S.Hut, Tri Haryono (Forester Forever Team).

Eoligama mulai dikembangkan sejak Agustus 2020 dan diluncurkan pada 28 Oktober 2020 dalam acara Dies Natalis ke-57 Fakultas Kehutanan, UGM.

Produk filter terdiri dari 2 lapis pelindung yakni spundbond soft non woven dan meltbolwn soft non woven with essential oils tentunya dengan bahan yang lembut dan aman untuk kulit sensitif. Selain menghasilkan aroma minyak kayu putih yang menyegarkan, salah satu formula dari Eoligama yaitu terdapat minyak melati yang memberikan aroma wangi. Sehingga, masker akan nyaman digunakan.

“Kita bikin aroma minyak kayu putihnya yang soft namun kandungannya tetap efektif. Dan kita juga modifikasi dengan minyak atsiri lain yang wangi. Karena kayu putih itu baunya tajam,  pedas, dan kurang wangi. Saat ini untuk aroma wanginya kita pakai minyak melati, namun kedepannya kita akan coba pakai variasi aroma wangi dari minyak atsiri lain,” ungkap Dr. Rini.

Meski produksinya masih sangat terbatas. Tanpa diduga antusiasme terhadap inovasi ini sangat tinggi. Sejauh ini produksi sudah mencapai sekitar 800 box lebih masker dan dalam 1 box terdiri dari 1 masker kain dan 10 filter Eoligama. Dalam proses produksinya, selain melibatkan mahasiswa dalam pembuatan filter juga ada UMKM yang membuat masker kainnya.

Penggunaanya pun cukup mudah, hanya dengan menyelipkan filter ke dalam masker dan masker siap untuk dipakai. Filter dapat diganti setelah 6 jam pemakaian.

Pada dasarnya minyak atsiri bersifat mudah menguap pada suhu ruangan. Hal itulah yang menjadi tantangan awal bagi Dr. Rini dan tim dalam pengembangan Eoligama ini bagaimana caranya agar dapat bertahan lebih lama. Mengingat, minyak atsiri kayu putih sebagai komponen utamanya.

Selain itu, dalam proses produksinya, tim harus memutar otak bagaimana caranya agar komposisi formula dalam isi filter dapat pas. “Kemarin kita cari konsentrasi yang pas supaya tidak pedas di mata, aman, dan nyaman digunakan. Di awal juga mikir bagaimana cara mengisi filternya ini, biar orang merasakan aroma wanginya namun juga dapat merasakan efek dari minyak kayu putihnya. Dan akhirnya kita menemukan metodenya,” tambah Dr. Rini.

Dr. Rini Pujiarti berharap kedepannya, setelah dilakukan pengujian lebih lanjut, Eoligama dapat diproduksi secara massal. Masyarakat secara umum juga dapat menggunakan produk-produk berbahan alami yang dapat menunjang kesehatan. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here