Home Kampus Faperta UNILA: Penerapan Sistem Biosekuriti dalam Peternakan, Penting!

Faperta UNILA: Penerapan Sistem Biosekuriti dalam Peternakan, Penting!

sumber: maitland mercury

Agrozine.id – Terhitung sejak bulan Maret, pandemi Covid-19 merebak secara global dan masuk ke Indonesia. Semua sektor dan segi kehidupan yang terkena dampaknya harus beradaptasi dan hidup berdampingan dengan wabah ini. Disamping dampak kesehatan, sektor ekonomi khususnya pertanian dan peternakan ikut terguncang. Perlu dilakukan penerapan baru dalam era new normal agar sektor dapat bertahan hingga pandemi berakhir.

Dosen dari Jurusan Ilmu Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung (FP Unila) mengatakan, ada banyak hal yang sudah dilakukan peternak di Lampung dalam adaptasi ini seperti pembatasan jumlah tamu untuk farm, pengaturan jam kerja karyawan, dan pendisiplinan untuk memakai masker dan baju kerja. Pada Kamis (4/6) dalam siaran Faperta Berkarya Radar Lampung Televisi, drh. Madi Hartono M.P. menambahkan, langkah yang paling penting untuk dilakukan peternak yaitu Penerapan Program Biosekuriti. Program yang turut dihadiri drh. Purnama Edy Santosa, M.Si. dan drh. Mirandy Pratama Sirat, M.Sc ini bertema Sistem Biosekuriti dalam Dunia Peternakan Menyongsong Era New Normal.

Biosekuriti sendiri berasal dari kata bio, yang berarti makhluk hidup dan sekuriti dari kata ‘security’ yang berarti keamanan. Sehingga dapat dikatakan, biosekuriti merupakan segala upaya yang dilakukan untuk mengamankan makhluk hidup dari ancaman penyakit. Purnama Edy menjelaskan, ada tiga komponen dalam program biosekuriti dunia peternakan agar ternak dan peternak terhindar dari wabah. Yang pertama, biosekuriti konseptual dengan penerapan memilih lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk. Kedua, biosekuriti struktural yang disebut juga biosekuriti 3 zona, yaitu tata letak bangunan yang menjamin penularan antar kandang tidak terjadi. Dan komponen ketiga, biosekuriti operasional, yaitu pelaksanaan praktek sehari-hari pekerja agar disiplin menerapkan biosekuriti.

Mirandy Pratama menjelaskan lebih lanjut perihal konsep biosekuriti 3 zona. Konsep ini sebenarnya bagaimana peternak merancang kawasan peternakan agar tata letak bangunan dan kandang memudahkan pelaksanaan biosekuriti. Kawasan peternakan sendiri terbagi dalam tiga zona yang memiliki ketentuannya masing-masing. Zona merah, ialah daerah yang mengandung banyak polusi dan memperbolehkan semua tamu boleh masuk seperti halaman depan, perkantoran, dan area parkir. Zona kuning, yang hanya memperbolehkan karyawan farm masuk seperti gudang pakan, mess, dan gudang alat. Serta zona hijau, daerah yang paling steril dimana ternak dipelihara dan hanya pekerja khusus operator kandang yang boleh masuk. “Jika akan masuk ke masing masing zona tersebut harus melewati pintu gerbang yang dilengkapi dengan shower antiseptic atau desinfektan,”ujar Mirandy.

Sistem biosekuriti tidak terlepas dari antiseptic dan desinfektan. Jangan terkecoh, kedua cairan ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Madi Hartono menjelaskan, antiseptic ialah bahan kimia anti mikroba yang digunakan untuk sterilisasi permukaan tubuh ternak dan manusia seperti alkohol 70 persen, iodine, dan BKC. Sedangkan desinfektan ialah bahan kimia anti mikroba yang dikenakan pada benda mati seperti formalin, phenol, dan lisol. “Jika bahan –bahan kimia antimikroba ini dipakai sesuai peruntukkannya, tentu sangat aman dan efektif dalam menurunkan populasi kuman yang ada di lingkungan farm,”tambah Madi Hartono.

Sebelum menutup sesi, Mirandy menjelaskan penggunaan antiseptic dan desinfektan perlu memperhatikan beberapa hal. Yang pasti, produk harus teregistrasi oleh Depkes dan Deptan dan bacalah terlebih dahulu kandungan dan fungsinya. Ada produk yang hanya dapat dipakai pada tubuh dan ada pula yang ditujukan hanya untuk benda mati. Tanggal kadaluwarsa dan pemakaian dosis juga perlu dipastikan serta cara pakainya, apakah spray disemprotkan (spray), dicelupkan (dipping) atau diuapkan (fogging). “Terakhir jangan lupa pekerja wajib menggunakan APD seperti masker dan sarung tangan saat melaksanakan tugas desinfeksi,” tutup Mirandy. (Rin)

Dilansir dari fp.unila.ac.id, pada Kamis (11/6)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here