Home Kampus Fapet Unsoed: Peluang dan Tantangan Pengolahan Susu Segar

Fapet Unsoed: Peluang dan Tantangan Pengolahan Susu Segar

Fapet Unsoed

Agrozine – Guna meningkatkan kualitas pendidikan, yang menghasilkan lulusan berkompetensi di bidang peternakan dan membangun jiwa wirausaha untuk membangun industri peternakan, Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menyelenggarakan Webinar Peternakan Indonesia Maju (PIM) 03 dengan tema “Pengolahan Susu Segar: Peluang dan Tantangannya” beberapa waktu lalu.

Webinar Fapet Unsoed digelar dengan menghadirkan narasumber yakni Dr. Ir. Purwadi, MS dari Universitas Brawijaya dengan topik “Perkembangan Industri Keju di Indonesia”, drh. Asep Rahmat Khaerudin, M.Pt dengan topik “Pengolahan Susu di KPBS Pangalengan Bandung” serta Dr. Triana Setyawardani, S.Pt, MP pada topik “Kefir dan Manfaatnya”. Dipandu oleh moderator Chomsiatun, S.Pt, M.Si, produk industri peternakan digadang-gadang akan menjadi komoditas yang berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi hewani untuk masyarakat.

Produk daging, telur, dan susu sebagai preferensi produk, dapat dioleh menjadi makanan ataupun minuman yang kaya protein. Dekan Fapet Unsoed Prof. Dr. Ismoyowati, S.Pt, MP mengatakan, kegiatan ini diselenggarakan untuk kemajuan bidang peternakan dalam pengolahan susu. Disebutnya, susu merupakan salah satu produk peternakan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh di masa pandemi Covid-19. Pada paparan pertama, drh. Asep Rahmat Khaerudin, M.Pt memaparkan produk olahan susu yang dikembangkan di Bandung Selatan oleh Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS).

Asep menambahkan, KPBS berhasil menggerakan perekonomian wilayah Bandung Selatan melalui sektor ternak sapi. Para peternak juga menyetorkan susu melalui beberapa penyortiran, yang dilakukan untuk mengetahui kualitasnya. Hasil susu berkualitas dapat dilihat dari seberapa banyak tingkat lemak yang terkandung pada susu dengan alat Milk Quality Inspection Sistem, dengan menetapkan standar kualitas susu dan sistem harga berdasarkan kualitas. Proses penyortiran juga mengacu pada standar kebersihan dan penggunaan alat.

Banyak susu dan feedback yang didapatkan dapat dilihat oleh para peternak, karena alat ini terintegrasi dengan sebuah aplikasi. Selain itu, masing-masing peternak anggota KPBS mendapatkan lacdonsimeter, thermometer, alcohol test dan alat ukur susu. Pada paparan kedua dengan tema “Kefir dan Manfaatnya”, Dr. Triana Setyawardani, S.Pt, MP menjelaskan proses pembuatan kefir yang dapat dikembangkan menjadi produk komersial dengan bahan baku berupa susu sapi ataupun kambing.

Triana menambahkan, pada proses pembuatan kefir dan yoghurt lebih condong untuk menggunakan bahan dasar susu kambing dibandingkan susu sapi. “Karena susu kambing lebih kental, warna tampak lebih putih, fermentasi dan teksturnya lebih halus bila dijadikan buat produk susu olahan. Susu kambing bila dipasteurirasi juga akan tetap putih permukaannya, dan bila di tempat pendingin juga tidak akan berubah warnanya,” jelasnya.

Selanjutnya, Dr. Ir. Purwadi, MS dari Universitas Brawijaya memaparkan, perkembangan industry keju di Indonesia terus berkembang dan bersaing. Adapun bahan baku keju terdiri dari susu sapi, kambing, kerbau, ataupun domba. Susu yang digunakan harus berkualitas tinggi dengan total solid ≥ 12%, TPC ≤ 1.500.000 CFU/ML, BJ 1.03. Selain itu, dapat pula digunakan whole milk, skim milk atau cream, casein, dan whey.

Pada akhir pemaparan, moderator Chomsiatun, S.Pt, M.Si memaparkan kesimpulan. Pengolahan susu diharapkan akan menjadi suplemen dalam menciptakan inovasi teknologi bidang peternakan dan kegiatan webinar dapat memberikan dan berbagi pengetahuan serta teknologi untuk dapat memotivasi masyarakat dan mahasiswa berwirausaha susu segar. (rin)

 

Dilansir dari siaran pers Unsoed

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here