Home Pertanian FarmLab Optimis Dorong Petani Serap CO2 di 2025 dengan Cara Ini

FarmLab Optimis Dorong Petani Serap CO2 di 2025 dengan Cara Ini

Agrozine.id – CEO FarmLab, Sam Duncan dan timnya optimis ingin membantu satu juta petani di dunia untuk menyerap 1 miliar ton karbon dalam lima tahun ke depan. Mengingat perkembangan kredit karbon yang tampaknya lamban dan peraturan untuk mengaturnya, masih terdapat skeptisisme perubahan iklim membuat hal tersebut terlihat sulit untuk diwujudkan. Namun perusahaan startup teknologi pertanian ini dengan optimis ingin membuat misi tersebut berhasil pada tahun 2025.

Baca Juga : iGrow Berkomitmen Kembangkan Ekosistem Bisnis Pertanian Modern

Bertepatan dengan peringatan Hari Tanah Sedunia, FarmLab dengan berani menetapkan sendiri target yang tepat dalam misinya yang disebut 1 juta 1 miliar misi. Sebagai startup yang bergerak dalam teknologi pertanian di tahap awal, hal tersebut mungkin terlihat terlalu ambisius untuk memulai perangkat lunak agronomi tahap awal dari pedesaan Armidale di New South Wales Autralia. Namun Duncan yakin FarmLab memiliki teknologi dan pengetahuan serta kemampuan untuk menarik mitra yang tepat untuk mewujudkan misinya tersebut.

“Kami ingin berkolaborasi dan menyatukan orang-orang yang memiliki misi yang sama, berbagi visi”, kata Duncan. Ditambahkannya bahwa misi ini tidak boleh tentang sebuah perusahaan atau antitas yang dan kepentingan sendiri, namun dibutuhkan mitra yang tepat untuk bersama-sama mewujudkan target besar yang dimiliki perusahaan ini dalam 5 tahun ke depan.

Pertama kali Duncan tertarik pada kesehatan tanah dan pentingnya lingkungan saat menjabat sebagai petugas logistik di Royal Australian Air Force pada tahun 2000-an. Selama bekerja, ia melihat langsung potensi dan peran tanah dan karbon sebagai mitigator perubahan iklim.

Baca Juga : Teknologi Mitigasi dan Adaptasi untuk Antisipasi Dampak Kekeringan Akibat Kemarau 2020

“Dampak perubahan iklim sangat jelas. Di negara berkembang, jika anda mendapatkan sedikit lebih banyak hujan dari yang diharapkan, maka semuanya banjir, ada kerusakan yang meluas dan orang-orang benar-benar terkena dampak yang parah. Saya benar-benar terseret ke dalam pembicaraan TED dan menyukai gagasannya bahwa CO2 dapat meresap ke dalam tanah. Dan saat itulah saya menyadari masalah utama-alasan utama kami belum melakukan ini di tempat-tempat seperti Australia adalah karena petani tidak memiliki datanya”, ujar Duncan.

FarmLab dimulai sejak tahun 2016 dengan tujuan menjadikan pengambilan sampel di pertanian lebih efisien dan ramah lingkungan serta biaya terjangkau, termasuk didalamnya tim pembuat aplikasi seluler untuk memudahkan pengambilan sampel tanah dan menghemat penggunaan kertas.

Hal tersebut juga memungkinkan ahli agronomi untuk berinteraksi secara langsung dengan laboratorium pengambilan sampel secara online dan hasilnya dikirim langsung kembali kepada mereka dalam aplikasi.

Pada tahun 2018 FarmLab berhasil mendapatkan dana hibah $1,1 juta dari program Perawatan Lahan Nasional pemerintah Australia untuk berpartisipasi dalam proyek teknologi tanahnya.

Bekerjasama dengan University of Sydney, startup teknologi pertanian ini telah mengambil data sampel tanah yang dikumpulkan dari lokasi individu melalui aplikasi agronomisnya dan memetakannya ke seluruh petanian dan wilayah sehingga menghasilkan wawasan tentang kesehatan tanah di sebagian besat lahan pertanian Australia. (ira)

 

Tonton video menarik ini :

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here