Home Perkebunan Genjot Ekspor Melalui Program Gratieks, Kementan Ajak Generasi Milenial Terlibat

Genjot Ekspor Melalui Program Gratieks, Kementan Ajak Generasi Milenial Terlibat

Program Gratieks

Agrozine – Kementerian Pertanian (Kementan) RI terus berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia. Selain program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo juga berupaya menggenjot ekspor pertanian komoditas unggulan dalam negeri melalui program Gratieks yakni Gerakan Tiga Kali Ekspor Pertanian. Program ini mulai dikenalkannya di Makassar pada 15 Desember 2019 lalu dalam acara Tani On Stage dengan mengajak generasi milenial untuk menjadi bagian dari Gratieks.

Program Gratieks

Gerakan peningkatan ekspor pertanian yang digagas Mentan Syahrul bertujuan untuk menyatukan kekuatan seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian baik dari hulu hingga hilirnya. Diharapkan melalui program Gratieks, ekspor komoditas pertanian dapat meningkat dengan cara yang tidak biasa. Program ini mendorong pengusaha dan eksportir untuk melipatgandakan lalu lintas ekspor pertanian menjadi tiga kali lipat, sehingga produksi mencapai tujuh persen per tahun.

“Gerakan ini merupakan bagian dari program jangka panjang yang diyakini memiliki dampak besar pada roda ekonomi nasional. Sebab, nantinya akan ada jutaan orang yang terlibat di sektor pertanian,” ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri pada Jumat, 7 Februari 2020 seperti dilansir dari mediaindonesia. Kuntoro menambahkan, program ini melibatkan penggunaan teknologi, digitalisasi, riset, jejaring, dan kerjasama antara semua pihak baik dari hulu hingga hilir pertanian.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor pertanian mengalami peningkatan sebesar 24,35 persen atau sebesar USD 370 juta pada Desember 2019. Komoditas dari sektor perkebunan seperti kelapa sawit, kakao, karet, dan kopi menjadi komoditas ekspor andalan Indonesia. Meningkatnya konsumsi komoditas dari sektor peternakan seperti unggas dan sarang burung wallet, serta perubahan gaya hidup sehat juga mendongkrak ekspor komoditas hortikultura.

Kontribusi sektor pertanian dalam ekspor non-migas juga mengalami peningkatan secara signifikan. Pada tahun 2018, kontribusi ekspor mencapai angka 2,11 persen dari total ekspor non-migas atau senilai Rp 500 triliun. Angka ini kemudian meningkat menjadi 2,34 persen atau setara dengan Rp 550 triliun. Dengan program Gratieks, diperkirakan kontribusi sektor pertanian di ekspor non-migas mencapai 7,5 persen atau senilai Rp 1.800 triliun.

“Jika dilihat dari perkembangannya sampai hari ini, kami optimis bukan hanya memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia, tetapi memenuhi kebutuhan pangan dunia. Terlebih Kementan terus berupaya menjadikan pertanian Indonesia maju, mandiri dan modern,” pungas Kuntoro. Sementara itu, Mentan Syahrul mengatakan kekayaan sumber daya alam di Indonesia membuka banyak peluang bisnis pertanian yang dapat digarap oleh generasi milenial.

Sementara itu, Ketua Umum Komite Pengusaha UMKM Indonesia Bersatu (KOPITU) Yoyok Pitoyo menyatakan dukungan atas program Gratieks. Dukungan ini disampaikannya saat menghadiri silaturahmi dengan Mentan di kantor Kementan RI pada Rabu, 9 September 2020. Menurut Yoyok, diperlukan sinergitas untuk membuat sebuah parameter terukur terhadap kebutuhan ekspor yang ada di negara-negara yang sudah ditentukan. “Kami sudah bicarakan gagasan kami ke Pak Mentan untuk membentuk suatu Indonesia groseri yang langsung end user untuk bisa langsung ada parameter terukurnya,” jelasnya. (rin)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here