Home Pertanian Helmi Nurjamil, Sukses Jalankan Budidaya Jamur Terintegrasi. Apa Strateginya?

Helmi Nurjamil, Sukses Jalankan Budidaya Jamur Terintegrasi. Apa Strateginya?

Agrozine.id – Potensi yang menjanjikan dari budidaya jamur ternyata semakin banyak menggiring orang untuk menggelutinya. Hal tersebut yang dilakukan oleh Helmi Nurjamil yang memulai usaha budidaya jamur yang diberi nama Jamur Halwa di kawasan Jambu Luwuk, Ciawi Bogor Jawa Barat sejak tahun 2018. Helmi yang sempat bekerja di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) selama 9 tahun memutuskan untuk memulai usaha di bidang budidaya jamur setelah melihat prospek yang sangat menjanjikan dari komoditas ini. Nah dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih dekat sosok inspiratif Helmi yang telah sukses menjalankan budidaya jamur terintegrasi ini.

Helmi mengaku sebelum melakukan budidaya jamur, dirinya sempat juga menggeluti usaha agribisnis di bidang budidaya ikan sidat sejak tahun 2011. Budidaya ini dilakukannya sembari bekerja di KPPU. Hal tersebut dilakukannya lantaran ia merasa memiliki passion dan hobi di bidang budidaya. Namun usaha budidaya ikan sidat yang dijalankannya tidak dilanjutkan karena kalah persaingan harga ekspor yang tidak terpenuhi.

“Memang berangkat dari hobi ya, saya juga merasa kalau saya punya passion di bidang budidaya ini. Singkat cerita di tahun 2011 itu saya coba usaha budidaya ikan sidat sampai Alhamdulillah tahun 2014 saya berhasil ekspor ke Korea. Nah disitu saya lihat memang sebetulnya potensi saya di bidang entrepreneur. Tapi kondisinya waktu itu kalah harga sama Cina dan akhirnya saya nggak melanjutkan usaha ikan sidat itu. Nah baru di tahun 2018, ada teman yang mengenalkan saya ke dunia jamur. Nah bedanya ketika itu ikan sidat panen dua tahun sedangkan jamur bisa panen setiap hari. Ini yang bikin saya tertarik karena saya lihat peluangnya masih sangat menjanjikan dan akhirnya saya masuk di dunia jamur ini”, ujar Helmi.

Dalam kesempatan wawancara dengan Tim Agrozine, Helmi menceritakan awal mula ia memulai usaha agribisnis budidaya jamur terintegrasi ini. Di awal ia memulai usahanya dengan satu kumbung dengan kapasitas 10.000 bibit dengan modal sekitar Rp 23 juta. Namun seiring berjalannya waktu hingga di tahun 2021, Jamur Halwa sudah memiliki 26 kumbung dengan kapasitas 20.000 jamur per kumbung. Menurut Helmi, selain bisa dipanen tiap hari hal menarik lainnya dari budidaya jamur adalah tidak ada istilah gagal panen seperti komoditas lain, sehingga budidaya jamur memberikan peluang dan prospek yang sangat menjanjikan jika ditekuni dengan baik.

Baca Juga: Cara Budidaya Jamur dari Bonggol Jagung, Murah dan Mudah

“Sebagai gambaran kalau untuk pemula saya nggak muluk-muluk kasih target yang terlalu tinggi. Artinya di jamur ini menariknya kalau teman-teman di budidaya tidak ada istilahnya gagal panen. Kalau di jamur, mulai kita masukin bibit di awal kita tunggu seminggu sampai maksimal dua minggu setelah plastiknya dibuka itu kita akan panen setiap hari. Jadi dicicil, hari ini dapat sekian, besok sekian sampai dengan 120 hari. Nah makanya di jamur tuh nggak ada istilahnya gagal panen, yang ada panennya tercapai target atau tidak. Ini yang menurut saya menarik sehingga akhirnya saya memutuskan untuk fokus di jamur”, imbuhnya.

Diceritakan pula oleh Helmi, di awal usahanya ia banyak belajar mengenai jamur dari berbagai literatur penelitian, maupun internet dan termasuk mencari mentor untuk belajar budidaya jamur karena sebelumnya ia tidak memiliki pengalaman dalam bidang tersebut. Menurutnya selain belajar dari berbagai literatur dan internet, sangat penting untuk memiliki seorang mentor yang sudah berpengalaman dalam usaha budidaya jamur.

“Kenapa mentor ini penting? Karena tidak seluruhnya informasi yang ada di internet itu betul. Kadang ada orang yang hanya menampakkan sisi indahnya saja, jarang yang mau membuka sisi gagal atau sisi pembelajarannya. Nah ini yang akhirnya harus kita kombinasikan dengan memiliki mentor dan setelah saya survei ke beberapa teman yang main di jamur, 80 persen petani jamur ini didominasi oleh petani senior, artinya rekan-rekan yang sudah senior dia baru terjun ke dunia jamur. Akibatnya ya mereka itu tidak bisa seperti generasi milenial sekarang. Mereka ini punya keterbatasan-keterbatasan terutama untuk media sosial. Jadi mau nggak mau kita sebagai generasi muda yang harus datang kesana untuk belajar, silaturahmi sama mereka. Dari situ baru kita dapat ilmunya karena mereka bisa cerita dari A-Z tentang industri jamur ini. Makanya sebelum saya terjun ke dunia jamur saya banyak melakukan silaturahmi dengan mentor terutama untuk hitung-hitungan bisnis”, ujar Helmi.

Baca Juga: Tips-Tips Budidaya Jamur, Modal Utama Adalah Niat

Saat ini industri Jamur Halwa melakukan budidaya jamur terintegrasi dari hulu hingga ke hilir dengan komoditas yang dibudidayakan mulai dari bibit jamur, kultur jaringan, jamur fresh hingga hasil turunan dari jamur berupa tepung atau kaldu jamur. Dikatakan oleh Helmi bahwa di tahun 2021, Jamur Halwa sedang mengupayakan untuk ekspor tepung jamur sehingga untuk memenuhi tingginya supply dalam produksi ia dan tim membuka kesempatan untuk bermitra dengan petani jamur di sekitar Bogor. Selain itu para mitra yang disebut plasma tersebut juga nantinya akan mendapat pendampingan dalam budidaya jamur hingga proses pemasaran di Jamur Halwa.

Meski sudah hampir 3 tahun menjalankan usaha budidaya jamur, Helmi mengaku juga mengalami beberapa kendala terutama hama. Ia membagi hama yang menggerogoti jamur terdiri dari dua yaitu hama dalam konteks binatang dan hama manusia. “Di jamur ini yang jadi resiko memang hanya satu saya bilang yaitu hama. Nah hama ini terdiri dari dua, hama yang benar-benar hama dalam konteks binatang dan hama yang dalam bentuknya manusia. Kalau misalnya panen rata-rata 100 kg, hilang 5 kg itu nggak kelihatan. Tapi akan jadi kelihatan kalau ketika misalkan 5 kg ini dikali 120 hari masa panen produktif. Nah kan lumayan besar”, ujarnya.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Dibalik Kesuksesan Bisnis Budidaya Jamur dari Ungaran

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, ia mengaku membuat pencatatan hasil panen yang menurutnya sangat berguna untuk meminimalisir akibat yang ditimbulkan dari hama tersebut, sehingga ia bisa mengetahui jumlah panen yang diperoleh setiap hari.

Dalam kesempatan wawancara bersama Tim Agrozine, Helmi juga mengungkapkan tingginya peluang dan prospek dalam budidaya jamur, karena selain jamur fresh yang bisa dipanen setiap hari, kebutuhan pasar akan komoditas jamur juga semakin tinggi. Selain itu hasil olahan jamur seperti kaldu atau tepung jamur juga memiliki potensi yang tinggi untuk ekspor. Oleh karena itu, dalam melakukan budidaya jamur terintegrasi ini Helmi tidak lupa mengajak para petani atau anak muda milenial untuk bergabung menjadi mitra di Jamur Halwa untuk bersama-sama bersinergi dalam industri budidaya jamur dan mengubah orientasi pasar untuk olahan jamur. (ira)

 

Tonton video menarik ini:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here