Home Kampus Heru Setiawan : Passion dan Prospek Pertanian yang Menjanjikan

Heru Setiawan : Passion dan Prospek Pertanian yang Menjanjikan

Agrozine.id -Memiliki passion dalam pekerjaan memang sangat menyenangkan. Hal tersebut lah yang dirasakan oleh seorang Heru Setiawan dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari di CV Mutiara Tirtamas. Pria berusia 25 tahun ini bekerja sebagai Staf Produksi di perusahaan yang berada di wilayah Jawa Tengah. Sebelum bekerja di CV Mutiara Tirtamas Produksi, Heru sempat bekerja sebagai Asisten Agronomi di PT Bumitama Gunajaya Agro selama satu tahun. Sejak September 2019 ia mulai pekerjaannya saat ini. Heru menyenangi pekerjaannya saat ini dan menurutnya prospek pertanian yang menjanjikan bisa terwujud dengan adanya pekerjaannya sebagai wadah belajar lebih banyak tentang produksi benih.

Heru Setiawan mengaku pekerjaan ini adalah passion dan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. “Sangat sesuai. Background saya memang pertanian dan ilmu produksi juga pernah saya dapat waktu kuliah dulu”, kata alumni Fakultas Pertanian IPB University ini.

Selain belajar mengenai pertanian di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB University, Heru Setiawan mengaku juga pernah ikut magang di sebuah Vegetable Greeenhouse di Belanda selama 3 bulan dan kini ia bekerja di greenhouse untuk produksi benih tomat.

“Menurut saya greenhouse sangat menarik, karena dengan greenhouse tanaman yang kita produksi lebih aman dari faktor lingkungan yang merusak seperti hujan lebat, angin kencang, kabut dan lain sebagainya. Selain itu hama dan penyakit juga lebih mudah dikendalikan sehingga penggunaan pestisida lebih rendah dibandingkan dengan budidaya secara open field”, jelasnya.

Namun dijelaskan oleh Heru juga budidaya menggunakan greenhouse sedikit lebih mahal dalam hal biaya sehingga komoditas yang dibudidayakan dalam greenhouse haruslah yang memiliki harga jual tinggi. “Salah satu alternatif pilihannya adalah komoditas produksi benih”, ujarnya.

Sebagai seorang staf produksi, Heru memiliki berbagai aktivitas yang menurutnya sangat menyenangkan. Karena dijalankan sesuai passion memang terdengar lebih menyenangkan. Sebagai staf produksi ia bertugas untuk membina petani mitra produksi sayuran khususnya komoditas tomat dan timun.

“Kegiatan sehari-hari yang dilakukan adalah supervisi di mitra petani benih yang menjadi wilayah kerja saya. Supervisi ini penting dilakukan karena komoditas produksi benih ini sangat berbeda dengan produksi sayuran pada umumnya”,imbuhnya.

Heru menjelaskan komoditas benih yang diproduksi di CV Mutiara Tirtamas adalah benih hibrida atau biasa disebut F1 (Filial 1). Benih hibrida adalah benih yang dihasilkan dari persilangan dua indukan yang unggul untuk menghasilkan tanaman hibrida yang memiliki keunggulan dari dua indukannya dari segi produksi maupun dari ketahanan penyakitnya.

“Contohnya adalah produksi benih tomat hibrida. Dalam proses produksi ini ada kegiatan yang disebut kastrasi dan polinasi. Kastrasi adalah kegiatan membuang bagian bunga yang disebut kotak polen yang berisi polen atau serbuk sari agar tidak terjadi penyerbukan sendiri. Sedangkan kalau polinasi adalah kegiatan mempertemukan polenn dari indukan jantan dengan putih dari indukan betina agar hasil benih yang diperoleh sesuai dengan standar perusahaan. Penting bagi saya untuk memastikan semua bunga dikastrasi dan dipolinasi dengan baik”, jelas Heru.

Kegiatan supervisi dengan mitra petani

Meski terdengar mudah, namun setiap pekerjaan memiliki kendala tersendiri. Heru mengatakan kendala dalam proses kastrasi dan polinasi adalah bunga yang rontok setelah polinasi, jumlah biji yang tidak sesuai standar atau serangan hama dan penyakit. “Jadi tugas saya untuk membantu mitra petani untuk bisa mengatasi masalah-masalah tersebut”, ucapnya.

Di masa yang akan datang Heru berkeinginan untuk memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang pertanian khususnya produksi benih di dalam greenhouse. Menurutnya teknologi yang tepat akan menghasilkan produksi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan penanaman secara open field. Selain itu climate change juga harus menjadi perhatian serius dalam dunia pertanian sehingga dengan menggunakan teknologi greenhouse petani bisa menciptakan iklim yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, sehingga produksi tidak terlalu bergantung pada kondisi lingkungan yang ada.

“Seperti yang saya lihat dulu waktu magang di Belanda, disana greenhouse sudah mampu menciptakan iklim sendiri sesuai kebutuhan tanaman. Selain itu manajemen produksinya juga sudah terkomputerisasi dengan baik. Kegiatan pemupukan, panen dan pasca panen semua dikerjakan dengan presisi sehingga produk yang dihasilkan dalam jumlah besar dan kualitas yang lebih bagus meski dalam luasan yang relatif kecil”, jelasnya.

Ia berharap di masa yang akan datang petani Indonesia bisa menerapkan teknologi greenhouse tersebut. “Semoga Indonesia di masa yang akan datang bisa meniru Belanda dalam teknologi pertanian, karena meski termasuk negara yang kecil Belanda adalah eksportir terbesar produk pertanian nomor 2 di dunia setelah USA”, pungkasnya.  Ia melihat prospek pertanian yang menjanjikan di masa yang akan datang sehingga dengan mempelajari teknologinya sejak dini akan lebih mudah untuk penerapannya di masa depan. (ira)

agrozine.id, platform online informasi pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan dan lingkungan di Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here