Home Kehutanan Idris Sahidu: Sang Penyelamat Mata Air Sumbawa Barat

Idris Sahidu: Sang Penyelamat Mata Air Sumbawa Barat

Agrozine – Prihatin dengan jumlah mata air yang terus berkurang, Idris Sahidu terdorong untuk berbuat sesuatu. Pria kelahiran Bima, 1 Januari 1954 ini menanam pepohonan di luar kawasan hutan Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Mata air yang sempat mati, kini telah pulih kembali. Ia telah mengamati kondisi sempadan sungai yang memprihatinkan karena longsor dihantam banjir.

Di Hutan Kesi Wilayah Kawasan Pengelolaan Hutan Sejorong, bekas tegakan tertutup oleh tanah. Begitu pula di kawasan Kuantar, Desa Bukit Damai, Kecamatan Maluk yang kehilangan tegakan pohon sebagai tangkapan air. Menurutnya, jumlah titik mata air di dua lokasi tersebut terus menurun. Dari semula 38 titik mata air pada tahun 2003, berkurang menjadi 11 titik pada tahun 2012, dan tersisa dua titik pada tahun 2016.

Degradasi kawasan mengganggu keberlangsungan hidup. “Sumber air semakin habis. Kalau sumber air terus berkurang, bisa-bisa manusia dan hewan akan saling makan,” ujar Idris, seperti dilansir dari PAMSIMAS. Pada tahun 2000, Idris menyaksikan sendiri ‘perang’ antar-hewan untuk memperebutkan mata air. Ia menambahkan, tidak seperti manusia, hewan tidak dapat membeli air kemasan saat haus.

Kejadian tersebut meninggalkan bekas yang mendalam. Sejak saat itu, Idrus Sahidu mulai menanam sejumlah bibit pohon di KPH Sejorong setelah mendapat izin instansi terkait. Pada awal prosesnya, ratusan bibit pohon sonokeling dan mohoni mati terinjak dan dimakan ternak. Kalaupun pohon mulai tumbuh sedikit besar, ada saja yang menebang untuk dimanfaatkan.

Idris Sahidu beralih menanam pohon beringin di kawasan tersebut. Bibit beringin diperoleh dengan mencangkok batang beringin. Sedangkan, perbanyakan bibit dilakukan dengan memanfaatkan wadah bekas seperti karung dan galon yang berisi campuran tanah dan pupuk kompos. Idris belajar secara otodidak di tanah milik tetangganya dalam proses pembibitan dan pembuatan pupuk kompos.

Idris dan istrinya Hamisa, membawa bibit batang beringin untuk ditanam di kawasan hutan. Bibit yang ditanam berusia dua tahun, dengan tinggi dua meter agar tidak terinjak sapi yang digembalakan di kebun sekitar. Dengan modal sendiri, ia menyewa seekor kuda untuk mengangkut bibit ke pintu masuk hutan yang berjarak 3 km dari rumahnya. Selebihnya, Idris memikul sendiri dua batang bibit seberat 3 kilogram itu.

Ia menempuh jarak sekitar 1 kilometer menuju lokasi penanaman dengan medan yang naik turun. Di sekitar lokasi, Idris membuat terasering guna menghambat laju air hujan dan mengendap di tiap undakan tanah. “Saya pilih pohon beringin untuk ditanam, karena perakarannya padat dan kuat menahan erosi, tumbuhnya relatif cepat, daunnya yang rindang memacu munculnya sumber air di bawahnya. Yang terpenting pohon beringin tidak disukai (dicuri) orang,” jelasnya.

Menurut Idris Sahidu, tertampungnya air dalam tanah bermanfaat untuk memperbaiki struktur dan kadar bahan organik tanah. Sekitar 300 pohon beringin telah ditanamnya di kawasan Hutan Sejorong dan tiga mata air kembali berair setelah mengering bertahun-tahun. Lokasi tersebut telah menjadi tempat peristirahatan pencari kayu bakar hutan. Sedangkan di Bukit Damai, satu sumber air yang diselamatkan kini dapat menghasilkan debit air tiga liter per jam.

Tidak hanya itu, Idris juga meluangkan waktunya untuk membantu kebutuhan air minum hewan yang berkeliaran di kawasan hutan. Ia memikul air sumur dari rumahnya untuk mengisi sejumlah ember yang ditanam dalam tanah pada beberapa titik di Bukit Damai dan KPH Sejorong. Pengisian wadah minum hewan dilakukannya tiga kali seminggu pada musim kemarau jelang Oktober hingga November.

“Itu adalah panggilan hati saya, sesama mahluk hidup. Apalagi manusia adalah khalifah di bumi. Artinya, kita hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk semua mahluk hidup. Kita tidak akan miskin karena berbuat untuk mahluk hidup,” ujar Idris Sahidu. Pemahaman inilah yang mengantarkannya untuk hidup nomaden dan meninggalkan kampung asalnya, Desa Wawo, Kabupaten Bima tahun 1997.

Persinggahan terakhirnya bersama keluarga adalah Dusun Maluk Loka. Awalnya ia hanya berencana untuk tinggal selama dua tahun, namun kekhawatiran akan kerusakan lingkungan membuatnya menetap selama 20 tahun. Idris tetap pulang-pergi Bima dan Dompu untuk mengajak warga menghijaukan bukit yang gundul. Namun ajakannya kerap ditolak karena dinilai dapat mematikan usaha warga yang menanam produk unggulan NTB yakni jagung.

Di sela kegiatan konservasi, ia aktif sebagai Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Swadaya Gunung Pemanto, Sumbawa Barat. Ia juga bekerja serabutan membuat taman di halaman rumah warga dan memproduksi pupuk kompos. Dari hasil memburuh, ayah tiga anak ini dapat membeli tanah seluas 300 meter sebagai tempat tinggal dan membiayai pendidikan perguruan tinggi anaknya. Idris tetap bergeming untuk menyelamatkan sumber mata air, “Insya Allah, sampai Allah mencabut nyawa saya,” ujarnya.

Pada tahun 2020, Idris Sahidu masuk sebagai nominator penerima Kapataru atas kiprahnya yang telah menyelamatkan banyak sumber mata air. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memasukkan nama Idris dalam kategori ‘Perintis Lingkungan’ bersama dengan enam nominator lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ia berharap apa yang dilakukannya dapat diteruskan oleh generasi muda lainnya dan turun langsung beraksi di lapangan. (rin)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here