Home Kampus Indikator Kesejahteraan Petani Melalui Nilai Tukar Petani (NTP)

Indikator Kesejahteraan Petani Melalui Nilai Tukar Petani (NTP)

ilustrasi petani

Agrozine.id –  Sebagai negara agraris dimana sebagian besar masyarakatnya hidup bergantung di sektor pertanian. Tujuan utama pembangunan pertanian di Indonesia adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Kesejahteraan petani merupakan konsep yang subyektif dan kompleks. Kesejahteraan biasanya diukur dengan indikator tertentu. Salah satu indikator kesejahteraan pertani yang paling populer dan sampai saat ini digunakan yaitu indeks Nilai Tukar Petani (NTP).

NTP berkaitan dengan daya beli petani dalam hal membiayai kebutuhan rumah tangganya. Untuk perhitungannya menggunakan rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Jika pendapatan petani lebih besar dari kenaikan harga produksi pertanian dan berdampak pada daya belinya, hal ini akan mengindentikasi bahwa kemampuan petani menjadi lebih baik atau terjadi kenaikan pendapatannya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ruauw (2010), secara umum ada tiga pengertian Nilai Tukar Petani yaitu:

  1. NTP > 100, berarti petani mengalami surplus, harga produksi naik lebih besar daripada konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya. Dengan demikian tingkat kesejahteraan petani lebih baik dibanding tingkat kesejahteraan petani sebelumnya.
  2. NTP = 100, berarti petani mengalami impas/break even. Kenaikan atau penurunan harga barang produksinya sama dengan persentase kenaikan atau penurunan harga barang konsumsinya. Tingkat kesejahteraan petani tidak mengalami perubahan.
  3. NTP < 100, berarti petani mengalami defisit. Kenaikan harga barang produksinya relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Tingkat kesejahteraan petani pada suatu periode mengalami penurunan dibanding tingkat kesejahteraan petani periode sebelumnya.

Dilansir dari liputan6.com, Jumat (14/08/2020), indeks Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Juli 2020 mengalami kenaikan yang cukup tajam. Bahkan, angkanya mencapai 100,09 atau naik 0,49 persen jika dibanding dengan NTP sebelumnya. Kenaikan terjadi lantaran Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,47 persen.

Perhitungan indeks NTP sebagai indikator kesejahteraan petani ini dianalisa dan dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap bulannya. Indikator NTP yang dibangun BPS mempunyai unit analisa nasional maupun regional (provinsi). NTP yang disusun mencakup sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan,dan perikanan.

Beberapa penelitian yang mengkaji tentang NTP sebagai indikator kesejahteraan petani menyebutkan bahwa semakin tinggi NTP, relatif semakin sejahtera kehidupan petani yang akan membawa dampak baik untuk pertumbuhan ekonomi.

Namun, perlu diketahui bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) bukanlah satu-satunya indikator yang dapat menilai kesejahteraan petani. Terdapat juga Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yang lebih mencerminkan kelayakan usaha petani secara keseluruhan.

Selain itu, berdasarkan Dokumen Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2015-2019 menyatakan bahwa kesejahteraan petani dapat diukur dengan PDB pertanian per kapita dan prevalensi kemiskinan petani. (ran)

 

Sumber:

Keumala, C Muftia dan Zainudin, Z. 2018. Indikator Kesejahteraan Petani melalui Nilai Tukar Petani (NTP) dan Pembiayaan Syariah sebagai Solusi. Economica: Jurnal Ekonomi Islam – Volume 9, Nomor 1.

Ruauw, E. 2010. Nilai Tukar Petani Sebagai Indikator Kesejateraan Petani. Universitas Samratulangi, Manado. ASE 6 (2): 1–8.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here