Home Perkebunan Inovasi Green Fashion Sawit dari IPB University

Inovasi Green Fashion Sawit dari IPB University

www.youtube.com/@IPB_TV

Agrozine – IPB University kembali meluncurkan inovasi terbaru saat launching hasil penelitian yang digelar oleh Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) di Bulan Juni tahun 2023, yaitu “Green Fashion Sawit”. Inovasi unik ini merupakan hasil kolaborasi IPB University dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Dr Siti Nikmatin, sang inovator Green Fashion Sawit, mengungkapkan bahwa future fashion tidak hanya berbahan serat alam kapas dan serat polimer sintetis, tetapi berbasis biomass sawit yang menghasilkan benang dan kain untuk aplikasi produk industri kreatif fashion. Sebelumnya, Dr Siti Nikmatin sukses berinovasi membuat helm dari tandan kosong kelapa sawit yang sekarang telah beredar di pasaran.

Menurut Dr Siti, iklim industri fashion lokal dan impor sangatlah dinamis, bersaing dan kompetitif. Persaingan bukan hanya sekadar harga, melainkan juga bahan baku organik atau sintetis yang linier dengan kenyamanan pada saat pakai.

Dr Siti menuturkan, industri kreatif fashion mempunyai peran penting di dalam perekonomian nasional. Dunia fashion di Indonesia terus berkembang seiring dengan kuatnya arus teknologi informasi dan e-commerce. Hal tersebut turut didukung dengan meningkatnya jumlah penduduk berusia remaja dan produktif setiap tahunnya dengan daya beli yang tinggi terhadap kebutuhan fashion yang cantik dan tren.

Menurut Dr Siti, selulosa alam yang Allah ciptakan melalui proses fotosintesis terbaik ada di kapas, namun tidak bisa mencukupi kebutuhan manusia. Oleh sebab itu, pasar industri tekstil mencari alternatif, misalnya dari eucalyptus, akasia, bambu dan limbah polimer sintetis.
Dr Siti menjelaskan bahwa inovasi Green Fashion Sawit merupakan excellent innovation, yaitu memberikan manfaat untuk perubahan, memberikan solusi impor kapas, meningkatkan daya saing, peningkatan nilai tambah produk sawit dan turunannya dengan nilai komersial.

Lebih lanjut ia mengurai, kelapa sawit adalah salah satu komoditas yang memiliki peran penting dan strategis. Inovasi riset dalam pemanfaatan dan pengolahan perkebunan kelapa sawit dengan teknologi diperlukan untuk menjamin keberlanjutan, meningkatkan diversifikasi produk melalui aktivitas ekonomi sawit dengan keunggulan kompetitif melalui transformasi ekonomi berbasis inovasi.

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan biomass yang keberadaannya terus meningkat linier seiring dengan produksi crude palm oil (CPO) dan kebutuhan manusia akan minyak nabati.

Tandan kosong kelapa sawit adalah limbah hasil samping dari proses produksi minyak kelapa sawit. Umumnya, limbah tandan sawit ini dikumpulkan di area sekitar pabrik, dibakar atau ditebarkan ke area perkebunan sebagai pupuk. Biomassa tandan kelapa sawit sangat melimpah, hampir 23 persen dari produksi CPO. Keberadaan limbah tandan kosong kelapa sawit inilah yang mendorong Dosen Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPIMA) IPB University tersebut untuk menelitinya lebih lanjut.

Melalui penelitian yang didanai oleh BPDPKS tahun 2021-2022, biomass sawit ini diubah menjadi biomaterial fashion bernilai ekonomi tinggi, yaitu stapel rayon viskosa (kapas buatan), benang pilin, kain, dan produk industri kreatif. Hal ini merupakan suatu kebaruan atau novelty terkait bahan baku biomass organik non kapas pada fashion.

Proses produksi dilakukan dengan melakukan konversi TKKS menjadi stalk atau serabut yang akan dikonversi kembali menjadi serat-serat fiber berwarna lebih cerah (putih) dan bersih. Serat fiber ini kemudian diwarnai secara alami dan sintesis. Produk akhirnya adalah berupa benang pilin yang siap untuk dilakukan proses lanjutan agar menghasilkan kain, melalui pemintalan benang dan sintesa viskosa rayon.

Dr Siti mengungkapkan, keunggulan green fashion sawit adalah memiliki sifat mekanis, optik dan termal merujuk pada standarisasi tekstil Standar Nasional Indonesia (SNI). Inovasi ini juga ramah lingkungan dan rendah emisi karena bahan baku yang digunakan adalah biomass sawit yang diproduksi tanpa bahan kimia serta memiliki nilai ekonomi dan harga bersaing di pasar.

Oleh karena itu, green fashion sawit memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Dr Siti menyatakan siap bekerja sama dengan industri guna menjadikan inovasi riset dari perguruan tinggi menjadi lebih besar sehingga memiliki manfaat yang lebih luas. Semoga harapan beliau bisa segera terkabul, aamiin… (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini: 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here