Home Pertanian Inti Pertiwi, Kepala Bidang Distribusi Pangan Deptan RI, Ajak Generasi Milenial Menangkap...

Inti Pertiwi, Kepala Bidang Distribusi Pangan Deptan RI, Ajak Generasi Milenial Menangkap Peluang Usahatani

Agrozine.id – Inti Pertiwi. Wanita yang telah lama bergelut di industri pertanian ini menghabiskan masa SD-nya di Bandung. Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di SMP I dan SMAN I Sukabumi. Tahun 1996, Inti memilih Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai tempat melanjutkan pendidikan sarjananya, mengambil jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Alasannya memilih IPB karena IPB sebagai salah satu perguruan terbaik di Indonesia, dekat dengan Sukabumi, dan meneladani kakak sepupunya, Prof. Tian Belawati yang juga lulusan IPB.

Tak cukup hanya sampai sarjana, pendidikannya di IPB berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 2003, Inti menamatkan studi S2 di Jurusan Ilmu Ekonomi Pertanian IPB. Ia pun menamatkan studi S3-nya di Jurusan Perencanaan Pembangunan Pedesaan IPB pada tahun 2016. Bukan sekadar lulus, program S2 dan S3-nya diselesaikan dengan predikat Summa Cumlaude.

Setelah lulus sarjana pada tahun 2000, Wanita yang hobi berenang dan nonton film India ini, mengabdikan dirinya di IPB dengan menjadi dosen Ekonomi Umum dan Ekonomi Dasar, serta menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah Metodologi Penelitian, Dasar-Dasar Manajemen, dan Kewirausahaan. Pengabdiannya mengajar di IPB ini dijalaninya sampai tahun 2004.

Karirnya mengabdi di dunia pertanian terbuka lebar ketika Inti diterima sebagai ASN di Departemen Pertanian pada tahun 2002. Salah satu motivasi terbesarnya berkarir di Departemen Pertanian, yaitu ingin mempraktikkan ilmu yang diperolehnya selama perkuliahan, terutama dalam penyusunan kebijakan tataniaga pertanian.

Tahun 2008 – 2011, Inti dipercaya sebagai Kasubid Cadangan Pangan Pemerintah. Tahun 2011-2013, ia menjabat sebagai Kasubid Analisis Kerawanan Pangan. Tahun 2017 – 2018, menjabat sebagai Kasubid Kelembagaan Distribusi Pangan. Dan pada tahun 2018, Inti diamanahi sebagai Kepala Bidang Distribusi Pangan.

Inti yang lebih senang menggunakan waktu luangnya bersama keluarga, telah menghasilkam beberapa tulisan ilmiah di bidang pertanian, khususnya pangan. Beberapa tulisan ilmiah Inti yang telah dipublikasikan antara lain, “Toko Tani Indonesia membenahi Rantai Pasok dan Stabilisasi Harga Pangan” dalam Buku Seri Pembangunan Pertanian 2015-2108, “Geographical Weighted Regression Model for Poverty Analysis in Jambi Province dalam Indonesian Journal of Geography” (2017), “Analisis Kemiskinan Petani Tanaman Pangan di Provinsi Jambi dan Jawa Barat Menggunakan Teknik Geographical Weighted Regression” dalam majalah ilmiah Globe (2016), dan “APEC Food Security Road Map Towards 2020 (Version 2013)” dalam Indonesian Agency for Food Security Ministry Of Agriculture.

Mengenai tantangan pertanian Indonesia saat ini, khususnya dalam bidang distribusi pangan, ibu dari Nafeeza Ghassani (8 tahun) dan Edgar Ghaissan (6 tahun) ini berpendapat, “Masih seringnya ditemui harga komoditas pangan rendah yang sangat merugikan petani. Namun, di saat-saat tertentu ditemukan harga sangat tinggi yang menyusahkan konsumen. Untuk itu, perlu dilakukan perbaikan terhadap tataniaga atau rantai pasok komoditas pertanian yang harganya sering berfluktuasi dengan memberikan pemahaman kepada petani mengenai pola tanam pada waktu-waktu tertentu sehingga pada saat panen, komoditas bisa diterima pasar dengan harga yang menguntung petani. Strategi lain adalah perlunya mendistribusikan pangan dari daerah surplus ke daerah defisit sehingga produk dapat tersedia di seluruh daerah dengan harga yang wajar.”

Selanjutnya, dalam usaha melestarikan dan memajukan pertanian Indonesia, Inti berpesan kepada generasi muda/milenial, terutama yang bergerak di bidang pertanian,  “Generasi muda atau milenial perlu memiliki perhatian dan sensitif terhadap masalah pertanian. Perlu mencari celah dan peluang untuk memberikan keuntungan kepada usahatani yang dikembangkan dan menciptakan metode untuk pemasaran yang lebih baik bagi produk-produk pertanian sehingga petani memperoleh jaminan pasar bagi produknya.” (dwi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here