Home Kampus ITS Manfaatkan Potensi Bambu di Desa Sanankerto Malang Jadi Tusuk Sate

ITS Manfaatkan Potensi Bambu di Desa Sanankerto Malang Jadi Tusuk Sate

potensi bambu

Agrozine.id – Di Desa Sanankerto, Malang, bambu dikenal sebagai satu komoditas dengan potensi pemanfaatan beragam. Melihat potensi bambu tersebut, tim pengabdian masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berupaya memaksimalkan produksi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) tusuk sate berbahan bambu.

Tim Abmas yang diketuai oleh Dewanti Anggrahini, ST. MT., bersama dengan lima dosen dan lima mahasiswa ITS lainnya merancang tiga alat dari penerapan teknologi tepat guna. Di antaranya ada mesin penyerut bambu, mesin poles tusuk sate, dan mesin pengemas tusuk sate.

“Seluruh mesin ini dirancang dengan sistem kendali mikrokontroler agar lebih efisien dan menghasilkan profit besar,” tegasnya.

Pada mesin penyerutan, bambu dapat dimasukkan langsung ke dalam mesin penyerut dan akan diproses dengan dua mata pisau yang tertanam pada alat. Hal ini mempersingkat proses produksi yang sebelumnya harus dibelah menjadi potongan kecil terlebih dulu. Tusuk sate hasil luaran mesin serut kemudian diolah pada mesin poles yang menerapkan gaya gesek antar tusuk sate agar tidak ada serat-serat bambu.

Kemudian, di tahap akhir, bambu dimasukkan ke alat pengemasan yang memanfaatkan sensor hitung. Dengan sensor ini, tusuk sate bisa dikemas secara otomatis ke dalam kemasan dengan jumlah yang ditentukan operator.

Baca juga: Mahasiswa ITS Cetuskan Ide Otomatisasi Budidaya Tambak

Menurut Dewanti, peningkatan pada produksi terlihat dari jumlah bilah bambu pada satu kali proses serut yang dapat mencapai sepuluh bilah. Lebih lanjut, masing-masing bilah bambu dapat menghasilkan empat batang tusuk sate. “Sehingga tenaga manusia yang dibutuhkan turut menurun dengan adanya mesin terotomasi ini,” ujarnya.

Dewanti mengungkapkan, ide ini tercetus setelah ia melihat adanya potensi bambu yang cukup besar di Desa Sanankerto. Desa tersebut merupakan kawasan yang memanfaatkan bambu sebagai mata pencaharian. Terlihat dari adanya Ekowisata Boon Pring, UKM kerajinan, hingga UKM tusuk sate yang menjadi primadona.

Meskipun demikian, Dewanti menyebutkan jika proses pengolahan bambu di desa tersebut masih dilakukan secara konvensional. Alhasil, keuntungan yang didapatkan masyarakat masih belum maksimal.

Baca juga: Begini Cara Budidaya Ulat Bambu, Ikuti Langkah Mudahnya

Dosen Teknik Sistem dan Industri ini mengungkapkan keinginan untuk meningkatkan produksi tusuk sate di Desa Sanankerto, Malang ini tak lain untuk membina masyarakat sekaligus untuk mewujudkan kemandirian UKM tusuk sate.

Selanjutnya, tim Abmas akan fokus mendampingi masyarakat yang terlibat dalam memasarkan produk tusuk sate agar UKM menjadi semakin independent. (ran)

 

Tonton video menarik ini:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here