Home Kampus Kajian Hasil Rendemen dan Kualitas Pulp pada Kayu Acacia mangium

Kajian Hasil Rendemen dan Kualitas Pulp pada Kayu Acacia mangium

Acacia mangium

Agrozine.id – Pohon akasia (Acacia mangium) merupakan salah satu tanaman yang sering dijumpai di Indonesia. Jenis tanaman ini merupakan salah satu bahan yang biasa digunakan dalam industri pembuatan pulp. Pulp merupakan produk antara dalam industri pembuatan kertas. Industri pulp di Indonesia terus mengalami peningkatan. Hal tersebut salah satunya didukung oleh areal hutan yang luas sebagai pemasok bahan baku. Melalui penelitian yang dilakukan oleh Umi Latifah Dyah alumnus Departemen Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan UGM, dapat diketahui hasil rendemen tertinggi dan kualitas pulp dari beberapa generasi pemuliaan Acacia mangium di Wonogiri.

“Sebenarnya penelitian skripsi ini merupakan kerjasama antara Fakultas Kehutanan sama balai besar penelitian bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan dalam meneliti kualitas dari hasil percobaan antar siklus generasi yang di tanam di KHDTK Alas Kethu,” ungkap Umi Latifah.

Lokasi pengambilan sampel penelitian dilakukan di kebun benih Acacia mangium yang terdapat di Kawasan  Hutan  dengan  Tujuan  Khusus  (KHDTK)  Alas  Kethu, Wonogiri. Kebun benih tersebut berisi 3 generasi tanaman, yaitu generasi indukan (F0), generasi pertama (F1), dan generasi kedua (F2).

Kebun Benih Semai Komposit Acacia mangium - PLANTER AND FORESTER

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, menyatakan bahwa produktivitas Acacia mangium dan proporsi serat di KHDTK Alas  Kethu, Wonogiri lebih tinggi dibandingkan HTI di Indonesia. Peningkatan  tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bahan baku pulp yang bertambah setiap tahunnya.

Perempuan asal Boyolali yang kerap disapa Ufah ini menjelaskan pembuatan pulp yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan proses sulfat pada sulfiditas 22% dan 24%, konsentrasi alkali aktif 14 %, suhu pemasakan 170oC, dan lama pemasakan 2 jam.

Proses sulfat merupakan salah satu proses yang umum digunakan dalam industri pulp baik di dunia maupun Indonesia karena memiliki beberapa kelebihan antara lain dapat menggunakan segala macam jenis kayu dengan toleransi kulit cukup banyak, waktu pemasakan yang singkat, serta  menghasilkan rendemen pulp berkekuatan tinggi.

Sulfiditas  merupakan  salah  satu  faktor  bahan  kimia  dalam  proses  sulfat  yang berpengaruh terhadap karakteristik pulp yang dihasilkan. Semakin tinggi  sulfiditas,  rendemen  tersaring  yang  dihasilkan akan semakin meningkat.

Parameter yang digunakan dalam penelitian ini antara lain yaitu hasil rendemen, bilangan kappa,  dan sifat fisik kertas (indeks tarik, indeks sobek, indeks jebol). Kemudian untuk analisis  datanya menggunakan analisis varians dengan uji lanjut HSD/Tukey.

Hasil penelitian terhadap kayu Acacia mangium dari KHDTK Alas Kethu Wonogiri menunjukkan bahwa faktor sulfiditas memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen tersaring,  rendemen sisa,  indeks tarik, dan indeks sobek.

Rendemen tersaring  yang dihasilkan yaitu sebesar 30,61 –59,63%, bilangan Kappa sebesar 21,46 -23,84, indeks tarik berkisar antara 17,76 – 28,86 Nm/g, indeks sobek sebesar 2,19 – 4,22  mN.m2/g,  dan  indeks jebol sebesar  2,72 – 4,74  kPa.m2/g.

Faktor  generasi pemuliaan dan interaksi antara generasi pemuliaan dengan sulfiditas tidak berpengaruh terhadap hasil rendemen dan kualitas pulp.

“Secara teknis selama penelitian tidak ditemukan kendala. Namun, lebih ke pengolahan datanya, karena dari penelitian ternyata ngga sesuai harapan, ngga ada perbedaan yang signifikan antar generasi baik pada banyaknya hasil rendemen pulp yang dihasilkan maupun kualitas pulp,” ujar Ufah kepada tim Agrozine.id.

Dalam pembuatan pulp, pemisahan serat yang ada  pada  kayu  atau  tanaman  dapat  dilakukan  melalui  proses mekanis, kimia, maupun kombinasi keduanya. Pada penelitian ini dilakukan secara mekanis. Maka dari itu, perlu dilakukan penelitian terkait kandungan kimia dari Acacia mangium untuk  mengetahui pengaruhnya terhadap pulp sulfat yang dihasilkan.

”Selain itu, harapan setelah penelitian ini yaitu adanya percobaan antar siklus generasi yang lebih fokus ke kualitas kayu yang dihasilkan. Soalnya bahan yang diteliti pada penelitian ini masih berfokus ke bentuk dan volume batang yang dihasilkan, belum ke kualitas kayunya,” pungkasnya. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here