Home Pertanian Kekeringan Menjadikan Petani Australia Menemukan Perspektif Baru Pertanian Subur

Kekeringan Menjadikan Petani Australia Menemukan Perspektif Baru Pertanian Subur

Agrozine.id – Cuaca ekstrim bisa terjadi di Australia. Selain gelombang panas yang panjang, kebakaran hutan besar-besaran kerap terjadi. Kekeringan ekstrim dan erosi angin yang diakibatkannya merupakan duri bagi para petani di Australia. Namun melalui serangkaian peristiwa tersebut justru membuat petani di Australia memiliki perspektif baru untuk pertanian subur di negara tersebut.

Karenanya para petani sedang mengembangkan metode baru untuk mengurangi dampak kekeringan. Salah satu dari metode tersebut adalah menggali. Alfons Sleiderin, direktur Farmax menjelaskan bahwa ramalan cuaca di Belanda adalah musim tanam yang sangat kering.” Jadi biarkan petani Belanda yang subur melihat pengalaman yang mereka peroleh di Australia. Sangat menarik untuk melihat bagaimana mereka menghadapi musim kemarau untuk mengamankan hasil mereka dan hal ini akan mengubah pendapat mereka tentang perspektfi baru pertanian subur”,  ucapnya.

Salah satu inovasi yang sedang diuji di Australia adalah spading the strips. Akibat kekeringan yang terjadi di negara tersebut, tanah berpasir yang dikerjakan secara penuh memiliki peluang besar untuk erosi angin. Metode strips ini dapat digunakan untuk membatasi efek erosi angin.

Penelitian pertanian untuk membatasi kerusakan akibat kekeringan adalah pengalaman praktis dan terkini di Australia. Pertanian subur di Australia dilakukan diatas tanah berpasir. Petani garapan telah menerapkan tanah liat dan bahan organik ke lahan mereka selama beberapa tahun. Menggunakan mesin spading, mereka mencampurkan media tersebut melalui alur bangunan sehingga retensi dan kesuburan tanah meningkat.

Baca Juga: Perbedaan Pupuk Organik dan Pupuk Kimia, Bagus Mana?

Selain itu, Universitas Pertanian Australia Selatan sedang meneliti teknik perbaikan tanah baru untuk memerangi efek kekeringan. Salah satu metode yang digunakan adalah spading yang mencakup juga strip spading. Sejak tahun 2015, mereka telah melakukan uji coba di lapangan dengan mesin spading. Farmax telah membuat LPR Profi Trailed untuk percobaan ini.

Di lokasi praktek di Australia Selatan, pengaruh kecepatan yang berbeda pada efek pencampuran sisa tanaman di dalam tanah telah dibandingkan. Hasilnya dipetakan dari data praktis menggunakan program simulasi. Melalui penelitian tersebut diperoleh kesimpulan bahwa kecepatan puncak membuat perbedaan antara efek pencampuran residu tanah di dalam tanah sebagai berikut:

  • Kecepatan pencampuran yang lebih tinggi akan bercampur lebih baik dibanding kecepatan pencampuran yang rendah
  • Dari 10 cm, mesin spading mencampur dengan lebih baik pada kecepatan rush yang lebih rendah
  • Penelitian ini menggunakan pewarna organik yang dicampur selama proses spading
  • Aspek penting lainnya adalah efek spading pada retensi kesuburan tanah

Baca Juga: CNH Konektivitas Meningkatkan Efisiensi dan produktivitas Petani Pedesaan

Melalui penelitian tersebut juga diperoleh hasil bahwa tanah lebih mampu menahan air hujan dan mengirimkannya ke tanaman dalam 400 mm pertama dengan tambahan bahan organik. Tindakan lapang penuh harus dipertimbangkan terhadap resiko erosi angin.

Desain sekop Farmax telah dipelajari dari perspektif teknis. Selain desainnya kekinian,sekop tersebut terdiri dari 3 sekop per flensa. Desain baru ini juga menjadi salah satu bukti penelitian dari berbagai kalangan petani dan akademisi di Australia setelah menemukan perspektif baru pertanian subur di negara tersebut untuk membantu mengurangi dampak kekeringan terhadap aktivitas pertanian. (ira)

 

Tonton video menarik ini:

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here