Kementan Berkomitmen Cegah Resistensi Antimikroba Pada Ternak

    Agrozine.id – Dalam upaya memperkecil penyebaran segala penyakit termasuk pada ternak , kementerian pertanian lewat berbagai macam cara, termasuk salah satunya mencegah resistensi antimikroba pada ternak. Resistensi biasanya terjadi ketika obat yang diberikan terlampau beragam atau banyak sehingga ternak tersebut mengalami resistensi atau kebal, alhasil dosis yang diperlukan sangat tinggi untuk mengatasai penyakit tertentu yang dialami ternak tersebut.

    Jika kondisi kebal terhad obat tersebut terjadi ada ternak maka bisa berbahaya, kemampuan dalam melawan penyakit infeksi menjadi lemah, bahkan bisa berakibat cacat bahkan kematian.

    Kasus resistensi antimikroba pada ternak sebenarnya tidak terlampau berdampak, hanya saja, virus yang terdapat pada ternak dan telah membuat resisten ternak tersebut terhadap obat maka akan menjadi bahaya jika menular ke tubuh manusia.

    Bagaimana penyebaran resistensi antmikroba dari ternak ke manusia, ini bisa terjadi ketika hewan yang terjangkit virus tersebut dikonsumis oleh manusia. Untuk itu, sebaiknya pilih ternak yang terjamin kesehatanya dan juga mengolah hewan ternak tersebut dengan baik dan matang sebelum dikonsumsi.

    Beberapa penyebab yang berdampak resistensi kepada ternak adalah menggunakan obat antimokroba tanpa acuan atau takaran yang tepat. Melihat kenyataan tersebut di berbagai daerah, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) terus melakukan sosialisasi untuk mengentaskan semakin banyaknya pemberian antimikriba yang berlebih di setiap daerah.

    “Menggunakan antimikroba dalam upaya guna menjaga kondisi kesehatan ternak mulai dihindari,” ujar Direktur Jenderal PKH Kementan, Nasrullah kepada Agrizine.id. Menurut dia, peternak perlu menerapkan cara baik dalam pencegahan serta pengendalian infeksi. Nasrullah juga mengharapkan jika dengan mengurangi penggunaan antimikroba bisa memberikan daya tahan ternak yang baik, bebas penyakit serta residu antibiotik.

    Baca juga: Mengenal Aplikasi Dr. Tania: Identifikasi Penyakit Tanaman Secara Otomatis

    “Selain itu, ada juga aturan pada Permentan 14 Tahun 2017 Pasal 4 yang mengatakan obat hewan yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia dilarang digunakan pada ternak yang produknya untuk konsumsi manusia,” imbuh Nasrullah menyinggung masalah resistensi antimikroba pada ternak yang memiliki enak tujuan strategis pengendalian resistensi antimikroba pada tahun 2020 sampai tahun 2024.

    Resistensi Antimikroba Terjadi Pada Ternak Ayam

    Ayam broiller disinyalir memiliki tingkat penggunaan antibiotik cukup tinggi. Dengan  adanya sosialisasi ini maka harapanya bisa berdampak signifikan terhadap sektor kesehatan hewan dengan adanya penurunan penggunaan antimikroba di peternakan ayam broiler sebagai profilaksis (dari 80% menjadi 50% di 2024) dengan surveilans AMU.

    Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia membenarkan bahwa resistansi antimikroba juga dapat menyebabkan gangguan produksi pada sektor peternakan. Lantaran hewan yang sakit tidak dapat ditangani dengan baik akibat antimikroba kehilangan kemampuannya untuk membunuh mikroorganisme yang menginfeksi hewan tersebut.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah memasukan resistensi antimikroba ke dalam 10 ancaman kesehatan global. Lantaran, resistensi antimikroba sampai saat ini diprediksi mengakibatkan 700 ribu kematian dan akan bertambah mencapai 10 juta kematian secata global di tahun 2050 jika tidak ditangani serius.

    “WHO telah menyatakan bahwa resistansi antimikroba merupakan satu dari 10 ancaman kesehatan global yang dihadapi oleh manusia. Resistansi antimikroba juga menimbulkan dampak yang signifikan bagi perekonomian dan sistem kesehatan. Selain kematian dan disabilitas, penyakit yang berkepanjangan karena resistansi obat juga dapat mengakibatkan masa perawatan di rumah sakit menjadi lebih lama, kebutuhan perawatan medis yang lebih mahal, dan masalah-masalah finansial,” ujar Dr N. Paranietharan, Perwakilan WHO untuk Indonesia.

    Tonton juga:

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here