Home Peternakan Kisah Keluarga Ridders: Kenalkan Penggunaan Drone untuk Peternakan

Kisah Keluarga Ridders: Kenalkan Penggunaan Drone untuk Peternakan

penggunaan drone untuk peternakan

Agrozine.id – Keluarga Ridders menyuguhkan kisah tentang generasi muda yang berhasil menunjukkan jalan menuju teknologi baru yaitu penggunaan drone untuk peternakan. John Ridder (bersama dengan istrinya, Heidi, dan orang tuanya, Glenn dan Yvonne Ridder) adalah pemilik Falling Timber Farm, sebuah peternakan ras asli hewan ternak jenis Polled Hereford. Tapi, putranya yang berusia 14 tahun lah, Ben, yang menjalankan drone (pesawat tanpa awak) di peternakan dengan 200 ekor sapi di Marthasville, Missouri.

John and Ben Ridder

Keluarga Ridders juga telah membeli drone pertama mereka yang dilengkapi kamera. “Kami masih bereksperimen, tapi kami sudah bisa menggunakan drone untuk pergi ke lapangan dan memeriksa tempat pakan ternak yang berisi jerami dan tahu jika tempat pakan ternak itu sudah kosong,” katanya.

Ben juga menggunakan drone untuk merekam video udara dari peternakan tersebut untuk penjualan banteng. Dia membuat banyak video menggunakan drone untuk tur pertanian yang mereka adakan di musim gugur. “Saat kami merekam, kami biasanya bisa memposisikan drone dalam jarak 30 hingga 40 kaki dari sapi-sapi bahkan sebelum mereka menyadarinya,” katanya.

Akhirnya, Ben memasangkan sebuah peluit kecil di drone tersebut dan menggunakannya untuk menarik perhatian hewan-hewan itu. Menurutnya, dengan menggunakan peluit itu, drone tersebut dapat berfungsi seperti anjing gembala terbang yang dapat menggiring sapi-sapi.

Keluarga Ridders menggunakan DJI Phantom 4 Pro, sebuah model yang sudah diperbaharui dengan kamera berkecepatan 60 frame per detik. Drone tersebut mampu merekam video dan foto dan mengirimkannya ke komputer tablet di stasiun kontrolnya. Total biaya pengaturannya sekitar $ 3.500.

 

Penggunaan Drone untuk Peternakan

Seorang advokat drone pertanian muda, Robert Blair, mengatakan kepada banyak kelompok pertanian bahwa pihak peternakan telah tertinggal dalam penggunaan teknologi drone ini.

FAA Knocks Down Another Barrier to Unmanned Flight

Sebagian alasannya adalah karena ketentuan garis area FAA yang membatasi pilot drone dengan jarak penerbangan sekitar ½ mil atau 1 mil dari lokasi perintah. Ketentuan tersebut membatasi beberapa peternakan yang luas, kata petani Kendrick, Idaho.

Penerapan drone peternakan yang sederhana adalah untuk memeriksa pagar, kolam, dan tempat pakan ternak jarak jauh. “Pada akhirnya,” Blair memprediksi, “kita akan memiliki drone dengan sensor yang dapat membaca tanda telinga RFID dari jarak jauh pada sapi atau bahkan mungkin mengenali wajah sapi.

“Gambar termal dari drone akan memungkinkan kamu dapat melihat perbedaan ukuran hewan,” lanjutnya. “Hal ini akan memungkinkan kamu untuk menemukan hewan di area yang ditumbuhi semak dan pepohonan dan kamu juga bisa melihat hewan liar.”

Pada musim melahirkan, perangkat ini akan mengawasi apabila terjadi masalah saat proses kelahiran. “Saya telah melihat anak sapi yang baru lahir melalui drone,” tambah Blair. “Saat saya berbicara dengan kelompok-kelompok tentang drone di pertanian, hampir semua pertanyaannya tentang tanaman. Pertanyaannya jarang tentang peternakan,” katanya. “Saat regulasi dilonggarkan, saya melihat hal itu berubah dengan cepat.”

Perangkat lunak pertanian generik tidak bekerja dengan baik dalam misi drone terbang di peternakan sapi, kata Dave Jacob. Dia adalah pengembang perangkat lunak melalui SylverDyn Software (silverdynsoftware.com) di Saint Helens, Oregon, yang spesialis dalam aplikasi pertanian khusus. Jacob bekerja sama dengan Barger Drones (bargerdrone.com) untuk membuat program yang membuat drone lebih efisien di peternakan.

“Perangkat lunak kami akan memungkinkan drone tersebut menerbangkan rute yang telah diprogram sebelumnya,” jelasnya.

Jacob mengatakan jika aplikasinya terbilang sederhana, sementara aplikasi lain lebih kompleks. Dia sedang mengerjakan program drone yang disebut Fence Check. Program ini juga memandu drone pada rute yang telah diprogram untuk melihat dan merekam video seluruh pagar perimeter padang rumput. “Jika ada masalah, kamu perlu menempatkan drone dalam jarak sekitar 15 kaki dari pagar untuk benar-benar melihatnya,” kata Jacob. “Perangkat lunak generik tidak dapat melakukannya. Perangkat lunak khusus kami dapat melakukannya.”

Langkah selanjutnya dalam pengembangan ini adalah program yang memungkinkan drone terbang di atas padang rumput, mengambil gambar, dan benar-benar menghitung ternak. Drone tersebut pada akhirnya akan dapat melihat ukuran hewan, mengenali mereka satu per satu, dan bahkan melacak kenaikan berat badan mereka, prediksi Jacob.

Aplikasi lain yang ada di radar perangkat lunaknya adalah yang dapat melakukan pengukuran lapangan dan mengidentifikasi gulma padang rumput. “Salah satu hal yang kami lakukan adalah menyederhanakan proses,” tambahnya. “Kami tidak membutuhkan banyak gambar yang dapat digabungkan untuk mendapatkan peta lapangan yang sangat detail.” (ran)

 

Dilansir dari Agriculture.com, Kamis (27/08/2020) 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here