Home Kehutanan Kisah Mbah Sadiman Menghijaukan 100 Hektar Lereng Gunung Lawu

Kisah Mbah Sadiman Menghijaukan 100 Hektar Lereng Gunung Lawu

brightvibes.com

Agrozine – Mbah Sadiman adalah warga Dusun Dali, Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia. Kakek yang tinggal di bawah lereng Gunung Lawu bagian selatan itu mendapatkan trofi Kalpataru, penghargaan utama dalam bidang lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Kakek ini dinobatkan sebagai sosok inspiratif dan pahlawan penghijauan lantaran keberaniannya seorang diri menghijaukan lereng Gunung Lawu bagian selatan.

Tahun 1964 dilereng Gunung Lawu bagian selatan terjadi kebakaran. Banyak kayu yang hilang dan hutan menjadi gundul. Setelah itu, terjadi banjir besar disertai lumpur. Usai kebakaran dan banjir melanda, warga yang tinggal dilereng Gunung Lawu bagian selatan sulit mendapatkan air bersih. Petani yang memiliki lahan di lereng pun banyak yang gagal panen. Rata-rata petani hanya mampu memanen satu kali dalam satu tahun. Kondisi itu menjadikan banyak terjadi kelaparan hingga mendatangkan berbagai penyakit akibat kurang gizi.

Banyaknya warga yang kekurangan gizi dan terserang penyakit menjadikan kasus kematian saat itu melonjak drastis. Mbah Sadiman bersyukur dirinya yang saat itu masih kecil bersama keluarganya selamat dari bencana tersebut.

Saat remaja, Mbah Sadiman berkelana ke berbagai daerah untuk bekerja. Kemudian, beliau kembali ke kampung halamannya. Saat kembali ke kampung halaman, beliau merasa prihatin karena mendapati warga masih susah mendapatkan air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, warga setempat harus berebut di beberapa mata air yang kecil debit airnya. Namun, penghasilannya yang pas-pasan sebagai petani penggarap lahan dan penyadap getah pinus membuat dirinya merasa tak bisa berbuat banyak untuk warga di sekitarnya.

Pada tahun 1996, Mbah Sadiman mendapatkan ide untuk menanam pohon beringin di lereng Gunung Lawu bagian selatan agar mata air melimpah. Pilihan Mbah Sadiman untuk menanam pohon beringin sebagai penghijau lereng Gunung Lawu awalnya dinilai aneh oleh warga sekitar. Terlebih pohon beringin identik dengan tempat angker atau rumah bagi makhluk halus. Namun, bagi kakek ini, pohon beringin memiliki banyak manfaat bagi manusia, bisa menyimpan air, dan biasanya di bawahnya akan muncul sumber mata air.

Berbekal keyakinannya itu, pada tahun itu pula Mbah Sadiman mulai menanam pohon beringin di beberapa titik yang berdekatan dengan sungai kecil di lereng Gunung Lawu bagian selatan. Awalnya yang ditanam sekitar belasan pohon saja. Saat itu warga di sekitarnya tak mempedulikannya membawa-bawa bibit pohon beringin untuk ditanam di bukit-bukit lereng Gunung Lawu bagian selatan.

Mbah Sadiman bukanlah orang kaya, beliau tinggal di rumah sederhana dengan dua kamar, satu dapur, dan satu kamar mandi. Namun, beliau memiliki tekad dan mimpi yang besar untuk menghijaukan kembali gunung lawu dan mengalirkan mata air untuk kebutuhan warga.

Mbah Sadiman adalah sosok yang rajin dan disiplin. Usai bangun dan shalat Subuh, kakek dua cucu ini terlebih dahulu melihat kondisi sawah yang ditanami pohon cabai. Saat musim panen cabai, beliau akan memanen tanaman cabai untuk dijual ke pasar tradisional terdekat. Hasil jualan cabai itu digunakan untuk menghidupi keluarganya.

Usai berjualan cabai di pasar, Mbah Sadiman kembali ke rumah mengambil cangkul dan sabit, lalu berangkat menuju ke lereng selatan Gunung Lawu. Kakek ini berjalan kaki dari rumahnya menuju bagian lereng selatan Gunung Lawu dengan jarak tempuh kurang lebih dua kilometer.
Kendati hidup pas-pasan, perjuangan kakek berjenggot itu untuk menghijaukan lereng Gunung Lawu tak pernah padam. Uang hasil panen sering digunakannya untuk pembelian bibit dan perawatan pohon-pohon beringin yang sudah ditanam di lereng Gunung Lawu.

Saat awal menanam pohon beringin, Mbah Sadiman sampai menukar bibit cengkeh yang dimilikinya dengan bibit beringin. Ulahnya ini dinilai banyak warga sebagai hal yang aneh. Sebab, menanam cengkeh akan jauh lebih mendatangkan banyak keuntungan dibandingkan menanam pohon beringin.

Saat itu, banyak bibit cengkeh Mbah Sadiman ditukar dengan bibit pohon beringin. Tiga bibit pohon cengkeh ditukar dengan satu bibit pohon beringin. Mbah Sadiman pun selalu menyisihkan hasil penjualan bibit cengkeh dan rumput di pasar untuk membeli bibit beringin tanpa sepengetahuan anak dan istrinya. Keluarganya tahu setelah banyak media yang memberitakan keberhasilan Mbah Sadiman menghijaukan hutan di lereng Gunung Lawu.

Meski diremehkan banyak orang, Mbah Sadiman tak ambil pusing. Baginya, menanam satu pohon beringin kelak nanti akan bermanfaat bagi banyak orang. Terlebih lagi, saat itu warga masih kesusahan mendapatkan air bersih karena hutan gundul. Beliau berpikir, menanam pohon beringin akan banyak manfaatnya bagi banyak orang, sedangkan kalau menanam cengkeh manfaatnya hanya untuk beliau dan keluarganya saja.

Awal mula Mbah Sadiman menanam pohon beringin, banyak yang hilang dicuri. Saat itu bibit pohon beringin banyak yang dijadikan bonsai sebagai tanaman hias. Namun, hal itu tak menyurutkan niatnya untuk terus menanam pohon beringin. Mbah Sadiman mengikhlaskannya dan menanam kembali sampai pohon-pohon beringin tumbuh besar dan bermanfaat bagi banyak orang.

Setelah 26 tahun berlalu, kini sudah ribuan pohon ditanam Mbah Sadiman di lereng Gunung Lawu bagian selatan dan sudah dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar. Mata air memancar dari bawah naungan pohon-pohon beringin yang ditanamnya.

Warga akhirnya menyadari apa yang dilakukan Mbah Sadiman mendatangkan banyak manfaat. Oleh karena itu, warga di sana berusaha semaksimal mungkin meneruskan apa yang sudah dilakukannya. Mereka ikut membersihkan rerumputan di sekeliling pohon beringin agar tetap tumbuh dan menghasilkan banyak air.

Sejak air melimpah ruah di lereng selatan Gunung Lawu, warga tak susah lagi mendapatkan air. Cukup memasang pipa-pipa pvc dengan panjang mencapai ratusan meter hingga masuk ke masing-masing rumah warga yang berada di bawah lereng selatan Gunung Lawu.

Tak hanya kebutuhan air bersih di rumah, petani yang memiliki kebun atau sawah juga mendapatkan berkah dari kegigihan Mbah Sadiman menghijaukan lereng selatan Gunung Lawu. Air dari hutan di lereng Gunung Lawu saat ini yang mengalir ke ratusan rumah warga dan mampu mengairi ratusan bahkan ribuah hektar sawah milik warga.

Mbah Sadiman sekuat tenaga merawat pohon-pohon beringin agar tetap tumbuh, kokoh, dan banyak menyimpan air. Biasanya untuk merawat pohon beringin, Mbah Sadiman berangkat dari rumah pagi dan pulang hingga siang hari. Untuk menarik minat orang merawat pohon beringin, beliau bersama warga setempat membuat taman di satu area di Lereng Gunung Lawu. Selain ditanami pohon beringin, taman itu juga ditanami aneka tanaman hias dan buah-buahan.
Karena jasanya yang besar menghijaukan lereng Gunung Lawu, puluhan penghargaan diterimanya. Selain Kalpataru dari Presiden RI, beliau juga mendapatkan berbagai penghargaan dari level lokal hingga nasional. Kakek ini juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai tokoh penggerak penghijauan di Wonogiri dan mendapatkan penghargaan Kick Andy Heroes Award 2016. Saat itu, beliau mendapatkan penghargaan lantaran menanam pohon beringin seluas 100 hektar seorang diri.

Setelah dikenal sebagai pahlawan reboisasi Gunung Lawu, kakek ini sering mendapatkan bantuan dari bank milik pemerintah. Bantuan yang didapatkan itu lebih banyak digunakan oleh beliau untuk membayar orang membersihkan rerumputan di sekeliling pohon beringin.

Aktivitas kakek inimengh ijaukan bukit di lereng-lereng Gunung Lawu juga menarik perhatian komunitas pemuda di luar desa. Para pemuda yang tergabung dalam komunitas Honda CB Wonogiri pun ikut menanam sekaligus merawat pohon beringin di hutan lereng Gunung Lawu. Kegiatan penghijauan ini juga berlangsung hingga Pasuruan, Jawa Timur.

Di Pasuruan, komunitas tersebut bersama Mbah Sadiman menanam pohon beringin di hutan di lereng Gunung Arjuno. Mereka mengajarkan warga setempat untuk menanam pohon beringin agar tidak kesulitan mendapatkan akses air bersih. Saat ini, pohon-pohon itu sudah tumbuh besar dan bermanfaat bagi warga di lereng Gunung Arjuno.

Semoga Mbah Sadiman dikaruniai kesehatan dan umur panjang sehingga terus bisa menjadi teladan dan membina para generasi muda untuk melestarikan lingkungan hidup. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here