Home Perkebunan Kisah Sukses Dedek, Petani Muda Anggrek Bermodal Rp 25 Ribu

Kisah Sukses Dedek, Petani Muda Anggrek Bermodal Rp 25 Ribu

Dedek Petani Muda Anggrek

Agrozine.id – Kisah sukses petani muda anggrek. Kecintaannya pada tanaman menjadi jalan Dedek Setia Santoso menekuni budidaya tanaman anggrek. Dengan uang tabungannya senilai Rp 25.000 dan bermodal pekarangan depan rumah seluas 0,5 m², ia mendirikan DD’Orchid Nursery pada tahun 2005 silam. Kini, Dedek telah menuai omzet ratusan juta dari ketekunannya. Ia menyadari anggrek memiliki potensi pasar yang besar, dengan harga yang cenderung stabil dari tahun ke tahun.

Setelah lebih dari 10 tahun menekuni bidang ini, koleksi anggrek Dedek sudah mencapai ribuan. Pria kelahiran 21 Juni 1978 ini juga kerap melakukan penyilangan anggrek untuk mendapatkan varietas baru dan membibitkan anggrek.

Rata-rata, benihnya diberikan kepada para petani plasma dan petani binaannya yang berada di Batu, Jombang, dan Lumajang, Jawa Timur. Dalam sehari bersama timnya, Dedek dapat memproduksi sekitar 9.000 benih anggrek per bulan.

Petani muda anggrek warga Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu ini memiliki laboraturium pribadi dengan peralatan yang sederhana. Ia menjual benih anggrek dalam kemasan botol yang berisi 30 bibit dengan harga Rp 40.000 per botol untuk pembelian partai besar dan Rp 75.000 hingga Rp 100.000 per botol untuk eceran.

Sedangkan anggrek siap berbunga dibandrolnya dengan harga mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 40 juta per tanaman.

Pelanggan DD’Orchid Nursery berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Dedek rajin mengunggah hasil penyilangan anggreknya di media sosial Facebook.

Karena itulah pelanggannya juga berasal dari luar negeri seperti dari Thailand, Italia, Perancis, Belanda, Rusia, Jepang, dan Filipina. Kebanyakan pelanggan yang berasal dari luar negeri datang ke kebun untuk membeli benih anggrek botolan untuk dibawa kembali ke negara asalnya.

Bukan tanpa kegagalan hingga bisa meraih predikat sebagai petani muda anggrek, Dedek sempat kesulitan menjual bibit karena belum banyak yang tertarik membeli bibit anggrek. Namun, ia tetap fokus berbisnis dan selalu mengganti bibit-bibit lama dengan yang baru agar koleksi tetap segar.

Petani muda ini juga mulai menimba ilmu terkait kultur jaringan untuk membibitkan anggrek. Dalam ratusan percobaan, ia akhirnya mendapatkan hasil sesuai dengan keinginannya.

Bahkan, Dedek sempat mencoba memanfaatkan alat penanak nasi dan panic presto milik ibunya untuk pembibitan anggrek. Hingga saat ini, ia masih rajin menitipkan benih tanamannya di tempat wisata seperti Pasar Selecta. Uang hasil penjualannya dikumpulkan untuk membeli peralatan pendukung serta menyewa lahan di belakang rumah sebagai tempat percobaan dan menyimpan seluruh koleksi tanamannya.

Dedek juga berupaya meyakinkan kedua orang tuanya karena memilih menjadi seorang petani setelah menyelesaikan pendidikan pasca sarjana.

“Waktu saya pamit ke orang tua dan menjelaskan sumber uang dari penjualan anggrek barulah mereka mulai percaya dan mendukung saya,” ujarnya, seperti dilansir dari kontan.

Baca Juga : Menristek Dorong LIPI Kembangkan Obat dan Energi Terbarukan

Ia juga sempat mengikuti pelatihan penjurian anggrek di Singapura pada tahun 2008. Namun kini, beberapa penghargaan telah berhasil disabetnya seperti juara Tingkat Nasional yang diadakan Kementerian Pertanian pada tahun 2016.

Baca Juga : Mahasiswa UB Ciptakan ADALIA: Kosmetik Berbahan Dasar Sisik Ikan dan Ekstrak Andaliman

Pada Februari 2018, anggrek persilangan Dedek mendapatkan predikat First Class Certificate (FCC) dari Singapura serta juara internasional di Singapore Garden Festival pada April 2018. petani muda anggrek ini menjelaskan, penyilangan anggrek membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus. Misalnya mengetahui gen dominan dan resesif dari setiap tanaman, sehingga dapat dihasilkan jenis anggrek yang diinginkan.

Baca Juga : Bermodalkan Perahu Kecil Warni Kembangkan Bisnis Ikan Asin dan Raih Omset 19 Juta Per Bulan

Selain itu, tidak semua anggrek yang disilangkan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Kedepannya, petani muda yang sukses budidaya anggrek ini berharap daerah tempat tinggalnya yakni Kelurahan Dadap Rejo dapat menjadi kampung wisata anggrek. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here