Home Pertanian Kisah Sukses Wisnu Saepudin, Petani Milenial Hasilkan Puluhan Juta Perbulan

Kisah Sukses Wisnu Saepudin, Petani Milenial Hasilkan Puluhan Juta Perbulan

Agrozine.id – Dalam artikel ini kita akan membahas kisah sukses seorang petani milenial asal Pasirlangu Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Wisnu Saepudin yang berhasil raih omset mencapai puluhan juta rupiah perbulan hasil dari pertanian paprikan yang digelutinya.

Selama 4 tahun bertani paprika dengan mengusung konsep kolaborasi dan edukasi, Wisnu Saepudin berhasil menjadi sosok pembaharu bagi milenial di kampungnya dan kini memiliki 22 petani binaan.

Berkat konsistensi dan keuletannya dalam menjalankan pekerjaan kini Wisnu telah berhasil meraup untung hingga puluhan juta perbulan dan mengangkat kesejahteraan petani binaannya. Dalam satu hari Wisnu bisa memasok 1-1,5 ton paprika berbagai jenis untuk memenuhi permintaan pasar yang kian melonjak.

“Tidak gengsi, mau belajar dan konsisten untuk berjuang menjadi petani”, ucapnya.  Awal mula Wisnu memulai usahanya adalah dengan alasan yang sederhana. Lahir dan dibesarkan di daerah pertanian membuat Wisnu berinovasi melihat peluang besar menjadi kaya dengan menanam paprika.

“Simpel saja sebenarnya, disini banyak petani sayuran seperti brokoli dan seladah, tapi yang jadi petani kaya itu menanam paprika. Atas dasar itu saya belajar menanam paprika”, ujarnya.

Setelah diwarisi orangtuanya lahan seluas 1.200 meter persegi, Wisnu memberanikan diri membangun green house diatas lahan tersebut dan ia mulai usahanya. Modal yang dibutuhkan untuk bertani paprika memang tidak sedikit, setidaknya green house dibangun dengan biaya 105 juta namun tahan hingga 8 tahun.

Namun Wisnu tidak begitu khawatir karena nilai jual paprika di pasar tidak akan anjlok,jika lesu pun paprika memiliki harga yang terbilang lebih baik ketimbang sayuran lainnya. Selain itu panen paprika merah, kuning dan hijau akan berlangsung sepanjang tahun asalkan pandai merawat dan menjaganya dari hama.

“Secara mandiri itu mulai dari tahun 2016, orang tua sudah memulainya sejak tahun 2012. Tapi pengolahan dan perawatan paprika itu jauh berbeda dengan saya sekarang,”kata dia.

Jika petani lain lebih senang mandiri, Wisnu justru tak segan berbagi ilmu dan berkolaborasi mengajak pemuda di kampungnya untuk ikut bertani. Di tengah keterbatasan Wisnu mengajak 22 milenial lain di kampungnya untuk mengeluarkan modal membangun green house di lahan mereka. Ia mengakomodir kebutuhan bibit, obat dan pupuk hingga akhirnya terbentuk pola bagi hasil.

“Memang saya keluarkan modal untuk bibit dan pemeliharaan, tapi saya cuma ambil untung Rp.1.000 dari hasil panen mereka. Jika hasil jual sedang bagus saya tetap ambil segitu, selebihnya mereka. Saya ngga mau untung sendiri sementara teman-teman lain ngga kebagian”, katanya.

Dengan bertambahnya petani binaan kini Wisnu tidak lagi kesulitan memenuhi pasokan pasar. Mereka bergantian mengisi pengiriman ke daerah Jawa Barat, Jakarta dan Bali.

“Kalau dari kebun sedang bagus kita bisa pasok 1-1,5 ton sehari.Jadi sistem tanggung renteng, siapa yang panen ya kita jual, karena tiap hari tidak semua bisa dipetik,” jelasnya.

Meski kini sudah meraup untung dengan kisaran mencapai 20 juta/bulan, Wisnu berharap semakin banyak milenial di kampungnya menjadi petani paprika. Namun keterbatasan modal dan bantuan dari pemerintah menjadikan langkah tersebut tersendat.

“Sebetulnya masih banyak potensi generasi muda disini yang ingin bertani, tapi modal terbatas. Untuk kirim saja kita masih numpang ke truk orang lain. Bahkan kita belum punya mobil kecil untuk distribusi paprika skala kecilnya”, ucapnya seperti dikutip dari ayobandung.com

Wisnu Saepudin berharap pemerintah tidak hanya menjadikan petani milenial sebagai jargon namun bantuan tidak tepat sasaran. Petani milenial butuh intervensi anggaran yang cukup agar profesi petani menjadi pilihan utama tak lagi dipandang sebelah mata. (ira)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here