Home Riset Ini Perspektif Masyarakat Soal Konservasi Kura Kura di Sumatera Bagian Selatan

Ini Perspektif Masyarakat Soal Konservasi Kura Kura di Sumatera Bagian Selatan

Agrozine.id – Dibutuhkan pengetahuan dan perilaku konservasi masyarakat mengenai konservasi kura-kura dimana konservasi ini berkaitan dengan pengetahuan lokal dalam suatu masyarakat terhadap lingkungan dan makhluk hidup di dalamnya.

Kura-kura adalah salah satu kelompok Herpetofauna yaitu reptil yang sudah banyak dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan obat, makanan dan peliharaan di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Kura-kura bisa dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu Cryptodyra yang umumnya dapat memasukkan kepalanya ke dalam perisainya dan Pleurodira yang kepala dan lehernya dapat dibelokkan kesamping untuk bersembunyi.

Di Sumatera bagian selatan terdapat kura-kura air tawar. Sejauh ini penelitian mengenai kura-kura masih sebatas morfologi,dan kajian biologi seperti karakteristik dan populasi.

Alma Tiara melakukan penelitian mengenai pengetahuan dan perilaku masyarakat terhadap konservasi kura-kura di Sumatera bagian selatan dengan tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik masyarakat yang hidup berdekatan dengan habitat kura-kura air tawar dan mengetahui perilaku dan pengetahuan masyarakat terkait konservasi kura-kura air tawar.

Penelitian yang dilakukan di tiga DAS yang terdapat di Sumatera bagian selatan ini ( Sungai Indragiri Riau, Sungai Pasir Darat Sumatera Selatan dan Sungai Sekampung Lampung) diketahui bahwa masyarakat hanya mampu mengenali 8 dari 12 jenis kura-kura air tawar yang ditunjukkan.

baca juga : Ini Lahan Basah Terbesar di Indonesia

Selain itu waktu perjumpaan rata-rata responden dengan kura-kura terjadi di siang hari atau pada sore hari. Namun beberapa perempuan terkadang menjumpai kura-kura di pagi hari hari ketika sedang mencuci di sungai. Masyarakat pada umumnya menjumpai kura-kura air tawar pada saat musim kemarau dengan jenis yang paling sering terlihat yaitu Cuora amboinensis dan Orlitia borneensis.

Namun jika dibandingkan pengetahuan masyarakat hanya seputar pengenalan kura-kura secara fisik. Sementara pengetahuan jenis telur kura-kura masih relatif rendah. Hanya sedikit responden di Sungai Indragiri yang mengenali jenis telur kura-kura, sedangkan masyarakat di DAS Pasir dan Pasar Sekampung tidak mengenalinya.

Namun masyarakat yang tinggal di sekitar ketiga DAS yang menjadi lokasi penelitian berpendapat bahwa habitat kura-kura tidak boleh dirusak. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sedikitnya sudah mengetahui mengenai konservasi kura-kura air tawar.

baca juga : Cara Budidaya Kura-kura Brazil Untuk Pemula

Diakui Alma, proses perpindahan dari satu lokasi penelitian ke lokasi lainnya yang berbeda provinsi merupakan salah satu kendala yang membuat penyelesaian penelitian ini sedikit lama. Disamping itu proses pengolahan data mentah setelah dari lapangan juga memakan waktu yang cukup lama.

Alma berharap melalui penelitiannya ini, masyarakat yang tinggal di sekitar habitat kura-kura air tawar menjadi semakin peduli terhadap konservasi kura-kura dan keberlangsungan habitat kura-kura dengan tidak merusaknya dan berharap pula semakin banyak yang melakukan penelitian serupa. (ira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here