Home Perkebunan Peneliti Muda LIPI Ciptakan Layar Ponsel Anti Retak dari Limbah Kelapa Sawit

Peneliti Muda LIPI Ciptakan Layar Ponsel Anti Retak dari Limbah Kelapa Sawit

Agrozine.id – Seorang peneliti muda Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ciptakan inovasi baru layar ponsel anti retak dari limbah kelapa sawit. Ia adalah Amanda Septevani yang sedang mengembangkan inovasi layar ponsel anti retak dengan memanfaatkan limbah biomassa dengan teknologi nanoselulosa (teknologi tranformasi kandungan pada tumbuhan setelah melalui proses teknologi nano). Hasil inovasi tersebut disebut-sebut lebih unggul dibandingkan dengan layar elektronik konvensional.

” Penelitian ini sebenarnya terinspirasi dari kegiatan yang sering saya lakukan saat studi S3 di Australia. Saya kembangkan material serupa yaitu nanoselulosa dari rumput-rumput liarĀ  yang ada di Australia”, ujar Amanda.

Amanda Septevani adalah ahli kimia lulusan Australian Institute for Bioenegineering and Nanotechnology. Saat kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi S3 nya di Australia, Amanda melihat bahwa gagasan yang dilakukannya saat penelitian di Austrlia tidak relevan jika diaplikasikan di Indonesia sehingga ia mencoba untuk menerapkan material yang berbeda.

Baca Juga: Petani Sawit Swadaya Indonesia Bersertifikat RSPO Meningkat 167%

Layar elektronik/layar ponsel anti retak yang diciptakan Amanda memiliki substrat dari biomassa yang diperoleh dari limbah pertanian dan perkebunan. Adapun sumber limbah yang ia gunakan adalah tandan kosong kelapa sawit. Meski demikian, dikatakannya limbah pertanian lainnya seperti tongkol jagung dan serat kenaf juga memiliki potensi untuk inovasi tersebut.

” Saat ini layar elektronik itu pada dasarnya didominasi oleh substrat dari gelas yang tentunya akan mudah retak. Penelitian yang kita kembangkan berasal dari selulosa yang kemudian jadi lapisan tipis”, kata Amanda menjelaskan keunggulan layar elektronik yang sedang ia kembangkan.

Baca Juga: LIPI : Teknologi Biorefineri Maksimalkan Fungsi Biomassa Hingga Limbahnya

Amanda melakukan teknik ultrafiltrasi dan hotpress untuk mengeringkan substrat yang digunakannya hingga menjadi lebih fleksibel. “Karena sifatnya lebih fleksibel, tentunya harapannya ketika nanti bisa diaplikasikan ke layar elektronik, salah satunya layar ponsel nantinya akan bisa menjawab tantangan dari masalah layar yang mudah pecah tadi”, ujar Amanda.

Selain itu, layar elektronik yang dibuat dari substrat nanoselulosa ini juga lebih ramah terhadap lingkungan dan memiliki proses yang berkelanjutan. ” Meskipun saat ini juga banyak penelitian yang mencari substrat lain tapi mereka masih didominasi dari substrat polimer yang tidak dapat diperbaharui. Kami juga sedang berusaha mengkaji, bagaimana caranya supaya dapat sumber lain yang bisa diperbaharui yaitu dari limbah-limbah yang ada di Indonesia”, ujar Amanda menambahkan.

Baca Juga: Syngenta Lakukan Training of Trainers Petani Sawit di Kalimantan Barat

Penelitian yang dilakukan membuat layar ponsel anti retak yang dilakukan oleh Amanda menambah nilai ekonomis di bidang kimia dan lingkungan sehingga mendapat dukungan penuh dari LIPI sebagai lembaga tempat ia melakukan penelitian. Yenny Meliana selaku Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI mengatakan mendukung penuh penelitian yang dilakukan oleh Amanda. Ia menilai Amanda memanfaatkan limbah tandan kosong kelapa sawit yang memang banyak ditemukan di Indonesia dan hal tersebut menjadi salah satu upaya pemanfaatan limbah agar bernilai ekonomis.

” Kami di LIPI sangat mendukung riset yang dilakukan oleh generasi muda seperti penelitian layar ponsel anti retak yang dilakukan oleh Amanda ini. Jadi kami membantu dengan mensupport infrastruktur”, tutur Yenny menjelaskan. (ira)

 

Tonton video menarik ini :

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here