Home Kampus Lebih Dekat dengan Merry Gloria Meliala : Dosen Muda Sekolah Vokasi IPB...

Lebih Dekat dengan Merry Gloria Meliala : Dosen Muda Sekolah Vokasi IPB University

Agrozine.id – Merry Gloria Meliala adalah nama lengkap perempuan asal Bangun Purba Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara ini. Merry adalah seorang dosen muda di Sekolah Vokasi IPB University yang memulai perjalanan karirnya setelah melewati berbagai macam rintangan. Kini sudah memasuki tahun kedua ia mengajar di Program Studi Teknologi dan Manajemen Perkebunan (TMP) Sekolah Vokasi IPB University.

Merry adalah alumni Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB University dan ia menyelesaikan pendidikan sarjananya pada tahun 2011. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikan masternya di departemen dan Fakultas yang sama di IPB University dan lulus pada tahun 2016.

Setelah lulus melalui jalur CPNS, Merry mulai mengajar sejak Februari 2019. Sebagai dosen baru Merry mengaku di tahun pertamanya menjadi dosen ia dilibatkan di banyak mata kuliah.

“Saya kan dosen baru ya, jadi di tahun pertama masih dilibatkan di banyak mata kuliah. Sebenarnya saya kan masuknya lewat jalur CPNS, jadi seharusnya mulai mengajarnya itu Maret 2019 tapi saya sudah mulai gabung itu di Februari dan di tahun pertama itu masih istilahnya seat in. Jadi sama kayak istilahnya kita ikut dosen yang mengajar di mata kuliah tersebut, kita mengobservasi, belajar semacam OJT gitu lah. Tapi kalau untuk praktikum itu saya dilibatkan langsung, karena kan di program diploma lebih diutamakan keterampilan jadi lebih banyak praktikum dibanding jam kuliah di dalam kelas. Jadi walaupun seat in untuk praktikum sudah dilibatkan langsung”, jelas Merry.

Lebih lanjut dijelaskannya di semester kedua tahun pertama ia sudah mulai diperbolehkan mengajar langsung dan hingga kini ia sudah mengampu beberapa mata kuliah seperti Pengendalian Terpadu Hama dan Penyakit, Budidaya Tanaman Perkebunan Utama, Kewirausahaan, Budidaya Tanaman Penyegar, Pengendalian Gulma.

 

Perjalanan Karir Menjadi Dosen

Perjalanan karir Merry sampai menjadi seorang dosen tidaklah mudah. Ia mengaku sejak SMP sudah menyukai dunia pertanian dan bercita-cita ingin bekerja di bidan tersebut. Hingga pada akhirnya ia diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB University. Sejak saat itu ia semakin idealis dan ingin bekerja di pertanian. Ia mengaku cita-cita awalnya adalah bekerja di Kementerian Pertanian.

“Kalau kerjanya di perusahaan swasta, saya kerja totalitas sebaik-baik yang saya bisa karena memang saya suka di pertanian yang dapat keuntungan ya pihak perusahaan swastanya. Tapi kalau saya kerjanya di Kementan, sebaik-baik kerja totalitas yang bisa saya kerjakan yang mendapat keuntungan itu masyarakat dalam hal ini petani karena pelayanan Kementan itu lebih ke petani ya. Dulu pemikirannya seperti itu”, ujarnya.

Namun saat lulus kuliah di tahun 2012 harapannya untuk bekerja di Kementerian Pertanian harus pupus karena di tahun tersebut terjadi Moratorium atau tidak ada penerimaan CPNS, sehingga untuk mengisi waktu sembari belajar dan menunggu kesempatan seleksi CPNS selanjutnya Merry memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan swasta dan diterima di salah satu perusahaan kelapa sawit di Riau. Namun seiring berjalannya waktu dan dengan dorongan dari komunitas atau teman-temannya Merry terpikir untuk melanjutkan kuliah S2 di luar negeri.

“Sedikit banyak komunitas mempengaruhi cara berpikir kita ya. Jadi dulu itu teman-teman mengajak untuk mencari beasiswa kuliah S2 diluar negeri. Nah sembari mencari-cari beasiswa itu saya berpikir ngga apalah kerja dulu di perusahaan swasta sambil belajar. Tapi sebenarnya masih tetap idealis ingin bekerja di bidang pertanian dan dulu mikirnya hanya melalui Kementan, sedangkal itu dulu pemikirannya”, ujar Merry.

Sembari bekerja di Riau, Merry mulai mencoba untuk apply beasiswa S2 di luar negeri. Namun akses internet menjadi kendala utamanya saat itu, hingga pada akhirnya kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya diluar negeri pun harus pupus pada saat itu.

Setelah melalui diskusi panjang dengan keluarganya, Merry mendapat izin untuk melanjutkan S2 kembali di IPB,padahal saat itu dirinya sudah ditempatkan bekerja di Kalimantan. “Waktu itu diskusi panjang dengan keluarga akhirnya mereka mengizinkan untuk melanjutkan kuliah S2 di IPB, tapi waktu itu saya sudah ditempatkan di Kalimantan. Cuma berpikir sebagai perempuan saya ingin punya pekerjaan yang bisa punya waktu luang untuk keluarga, kalau kerja di perkebunan terus kayaknya ngga mungkin. Jadi itu juga salah satu faktor kenapa akhirnya ingin menjadi dosen. Tapi kan kalau mau jadi dosen pilihannya cuma satu ya harus lanjut S2”, ujarnya.

Ditambahkannya setelah diskusi panjang dengan orangtua akhirnya ia diperbolehkan kuliah S2 di IPB University. Namun perjalanannya menempuh pendidikan S2 nya pun tidak semulus yang dibayangkan. Merry mengaku ia lulus S2 membutuhkan waktu sampai hampir 4 tahun.

Setelah lulus S2 Merry diterima bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Pada penerimaan CPNS tahun 2018 ia mencoba ikut seleksi untuk formasi dosen di IPB University.

“Dalam pikiranku awalnya ngga mungkin bisa masuk di IPB, tapi ternyata ada jalan lain ada peluang di Sekolah Vokasi. Awalnya pesimis juga bisa masuk di IPB, karena kan biasanya kalau universitas itu sudah punya kader tersendiri untuk diangkat jadi dosen. Jadi sebenarnya ikut test di IPB itu kayak berjudi sih, karena dalam pemikiranku pasti yang diterima kandidat yang sudah dikader sama IPBnya karena pasti semua Universitas punya kadernya masing-masing. Tapi karena dukungan, doa orang tua dan kerja keras akhirnya saya diterima jadi dosen di IPB”, jelasnya.

Dikatakan Merry tidak mudah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan terutama dalam hal pekerjaan. “Ada banyak orang yang dengan mudah bisa mendapatkan pekerjaan impian mereka tapi saya harus melalui perjalanan panjang untuk bisa mendapatkan pekerjaan saya saat ini, tapi jadi dosen adalah pekerjaan impian saya dan saya senang melakukan pekerjaan ini”, tambah Merry.

Lebih lanjut dikatakan Merry setelah menjadi dosen, cita-cita lainnya bisa terpenuhi melalui pekerjaannya. “Dulu saya punya cita-cita lain yaitu ingin keliling Indonesia, dan melalui dosen ini saya mulai bisa mewujudkan itu satu per satu karena dinas, dan memang seperti yang kubayangkan pekerjaan dosen itu tidak monoton. Tapi pelan-pelan impianku dulu bisa terpenuhi dan saya bahagia sekarang dengan pekerjaan ini walaupun memang tidak semua yang dikerjakan semudah yang dibayangkan”, jelasnya.

 

Tantangan Menjadi Dosen

Sebagai dosen baru Merry mengaku mengalami berbagai tantangan. “Pasti ada lah kesulitannya apalagi saya masih anak baru dan apalagi kan jalur masuknya beda. Biasanya kan dosen itu sudah menjadi asisten yang mengabdi dalam waktu lama jadi sedikit banyak pasti sudah mengerti seluk- beluk perkuliahan. Tapi saya tidak melalui itu.

Apalagi karena saya kan dosen di diploma ini ngga masuk dalam bayangan saya. Karena di diploma itu sumberdayanya lebih terbatas jadi banyak kegiatan administrasi yang harus dikerjakan sendiri. Dan karena masih awal-awal dulu masih proses belajar jadi masih merasa kesulitan, apalagi kan di dunia pekerjaan kita harus bisa belajar sendiri, kita ada masalah belum tentu ada orang yang bisa membantu kita untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sekarang memang sudah terbiasa tapi dulu waktu di awal-awal urusan administrasi itu menjadi hal yang berat”, imbuhnya.

Selain itu memasuki tahun keduanya mengajar sekarang Merry mengaku memiliki kesulitan lain dalam membimbing mahasiswa. Di masa saat ini ketika perkuliahan harus dilaksanakan secara online juga menjadi tantangan tersendiri bagi Merry, pasalnya mata kuliah yang diampunya dituntut harus ke lapangan. Hal tersebut membuatnya harus memutar otak agar tujuan pembelajaran dari setiap mata kuliah yang diajarnya tercapai meski harus dilakukan secara online.

Dalam membimbing mahasiswanya mengerjakan tugas akhir juga diakui Merry menjadi tantangan lain yang dihadapinya sebagai seorang dosen. Pasalnya mahasiswa diploma dituntut harus menyelesaikan masa kuliah sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.

“Dalam bayanganku dulu membimbing mahasiswa mengerjakan tugas akhir itu menyenangkan karena semasa kuliah S1 saya dapat dosen pembimbing yang seperti itu. Tapi ternyata diluar dugaan saya dikasih tugas harus membimbing 9 mahasiswa sekaligus dan karena diploma jadi harus dituntut bagaimana caranya supaya saya bisa membimbing mereka menyelesaikan tugas akhir itu sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Dalam bayangan saya hanya membimbing 3 orang mahasiswa karena di S1 dulu dosen saya cuma punya 3 orang anak bimbingan, ternyata saya dikasih 3 kali lipat banyaknya, itu juga menjadi salah satu tantangan terbesar”, ujarnya.

 

Target yang Ingin Dicapai

Sebagai seorang dosen muda banyak target yang ingin dicapai oleh Merry dalam perjalanan karirnya ke depan. “Kalau untuk jabatan fungsional saya sekarang masih calon dosen karena belum ada jabatannya dan untuk jabatan pertama adalah Asisten Ahli dan itu salah satu yang harus ditargetkan. Tapi untuk bisa sampai kesana saya harus melakukan penelitian dan menulis jurnal.

Nah ini juga yang dulunya dalam bayanganku menjadi dosen itu menyenangkan bisa melakukan penelitian. Tapi karena masih dosen baru, saya masih harus belajar manajemen waktu dengan lebih baik antara membimbing mahasiswa dengan penelitian. Jadi itu yang harus ditargetkan gimana caranya supaya bisa jadi lebih baik lagi dan tahun depan bisa memanfaatkan waktu untuk penelitian dan pengabdian masyarakat.

Selain itu Merry juga memiliki target jangka panjang untuk melanjutkan S3 nya. Pasalnya sebagai seorang dosen ia memiliki kewajiban untuk S3. “Saya sebenarnya senang belajar, jadi dari dulu S1 ke S2 dan sekarang jadi dosen kan tetap harus belajar lagi dan lagi. Tapi itu akan jadi target jangka panjang aja, apalagi nanti kalau Sekolah Vokasi mau mengadakan Program S2 Terapan, jadi dituntut harus ada dosen yang S3 atau bahkan profesor. Itu pasti nanti akan kuliah lagi tapi biarlah jadi target jangka panjang”, pungkasnya. (ira)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here