Home Kampus Lebih Dekat dengan Mita Husnulhayati, Account Manager Startup Inagri

Lebih Dekat dengan Mita Husnulhayati, Account Manager Startup Inagri

Agrozine.id – Dalam artikel ini, kita akan mengenal lebih dekat sosok Mita Husnulhayati lulusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran 2015. Sewaktu kuliah, Mita menekuni peminatan Budidaya Tanaman Hortikultura. Setelah bekerja di Startup pertanian yang fokus pada bagian hilir pertanian, ia menemui beberapa tantangan dalam prosesnya. Sebagai Account Manager Startup Inagri, Mita berkolaborasi dengan tim marketing dan banyak berinteraksi dengan konsumen.

Mita mengawali karirnya di Inagri sebagai Content Writing Intern selama dua bulan pada 2019 lalu. Sebagai alumni pertanian, ia ingin berkarir dalam pekerjaan yang relevan dengan latar belakang pendidikannya.

Walaupun menemui tantangan dalam hal marketing, Mita mendapatkan ilmu-ilmu baru yang belum di dapat dari kelas. “Aku bekerjasama dengan tim creative untuk promosi produk dan menentukan strategi-strategi marketing. Aku juga megang konten-konten publikasinya,” ujar Mita.

Budidaya organisasinya sudah terpupuk sejak di masa perkuliahan. Mita aktif sebagai Kepala Divisi Komunikasi, Media, dan Informasi dalam Ikatan BEM Pertanian Indonesia sejak 2017-2019.

Selain itu, ia juga aktif dalam Radio Mahasiswa Unpad sebagai Head of Marketing dan Staff Reporter. “Jadi bagaimana cara meng-handle orang lain, bekerjasama dengan suatu lembaga saat kita akan mengadakan event. Sudah terbiasa dari pengalaman-pengalaman di organisasi sebelumnya, jadi ga terlalu kaget. Tetap berkonsultasi juga dengan atasan,” jelasnya.

Baca Juga : Sound Agriculture Luncurkan Produk Baru Penambah Nutrisi untuk Kedelai

Setelah mengakhiri masa magang selama dua bulan, ia sempat menjadi Business Development Specialist sebelum akhirnya menjadi Account Manager. Wanita kelahiran Bandung, 11 Desember 1996 ini banyak berkomunikasi dengan customer Startup Inagri terkait pembelian dan produk-produk Inagri. Mita menambahkan, biasanya customer ingin menggali informasi terkait detil dan kualitas produk, serta yang membedakan satu produk dengan produk lainnya. “Misalnya buah alpukat, apa yang membedakan produk ini dengan yang ada di pasaran,” ungkapnya.

Saat ini alpukat mentega masih menjadi best product dari Inagri. Mita mengungkap, produk alpukat mentega juga menjadi produk yang diminati oleh agen-agen mitra Inagri.

Startup Inagri yang awalnya fokus pada B2B (business-to-business) sejak akhir tahun 2019 sudah mulai merambah ke B2C (business-to-customer), bahkan sudah melayani pemesanan di Jakarta. Dalam prosesnya, Mita secara tidak langsung mempelajari customer behavior yang berbeda-beda dari tiap kalangan usia.

Baca Juga : Kementan Dorong Petani Terapkan Pola Integrated Farming Untuk Ketahanan Pangan

Mita mengatakan, perilaku konsumen ibu rumah tangga berbeda dengan konsumen sektor B2B seperti restoran dan café. Bila konsumen rumah tangga fokus pada kualitas dan tampilan produk, pihak restoran dan café lebih memperhatikan harga produk.

“Ternyata banyak hal yang harus dipelajari. Jadi walaupun kita kuliah di pertanian, tidak boleh menutup pandangan kita tidak perlu belajar yang lain. Harus belajar dengan bidang-bidang lain yang ternyata bisa berkaitan dan bisa lebih bagus lagi kalau kita kuasai semuanya,” kata Mita. Sebagai alumni Fakultas Pertanian, ia senang dapat melanjutkan kontribusinya walaupun tidak terjun ke lahan pertanian.

“Ada part dimana ilmu pertanian yang aku punya di kampus terpakai. Apalagi produk Inagri banyaknya produk tanaman hortikultura seperti sayur dan buah, dimana peminatanku memang itu jadi tahu spesifikasi produknya bagaimana dan cara handle produknya bagaimana biar tidak cepat layu ke konsumen, juga penyimpanan sebelum packaging,” ungkapnya. Pengalamannya dalam membantu petani memasarkan produk lewat platform startup Inagri menjadi sangat berkesan.

Baca Juga : Teknologi RAISA, Upaya Pemanfaatan Lahan Marginal untuk Tingkatkan Produktivitas Padi

“Ternyata kita juga bisa mengangkat derajat petani dan menjual product-nya direct tanpa melewati alur yang panjang. Petani juga akan mendapatkan harga yang lebih dihargai dibandingkan dijual ke tengkulak. Kita dapat memberi pengaruh dengan teknologi yang kita punya,” pungkasnya. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here