Home Perikanan Lombok sebagai Penghasil Utama Lobster Indonesia

Lombok sebagai Penghasil Utama Lobster Indonesia

hAgrozine – Keran benih ekspor lobster yang dibuka kembali tengah menjadi polemik. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 12 Tahun 2020, para nelayan dan pembudidaya boleh memperjualbelikan benih bening (benur) lobster dari perairan. Menteri KKP Edhy Prabowo menilai, penerbitan regulasi ini merupakan momen tepat untuk mengembangkan komoditas lobster. Indonesia dinilai tertinggal jauh dibandingkan Vietnam yang sudah menjadi produsen utama dunia. Nyatanya, selama ini daerah Lombok menjadi pemasok untuk Vietnam. Untuk itu, menarik bila kita mengulik Lombok sebagai penghasil utama lobster Indonesia.

Pada tahun 2016, Menteri KKP sebelumnya Susi Pudjiastuti mengeluarkan Permen No 56 Tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting, dan Rajungan dari Indonesia. Regulasi ini dikeluarkan karena melihat Lombok mengekspor 10 juta bibit lobster ke Vietnam setiap tahunnya. Sebagai negara importir benih lobster dari Lombok, justru Vietnam yang menjadi raja eksportir lobster budidaya di dunia. Benih lobster dari Lombok dikenal berkualitas tinggi, hanya saja budidayanya masih mengandalkan penangkapan langsung dari alam secara konvensional. Sejauh ini, para nelayan belum berhasil melakukan pengembiakkan secara buatan. Budidaya lobster dilakukan dengan membesarkan lobster dari benih bening menjadi dewasa.

Melihat kondisi budidaya lobster Indonesia, Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam, Ibnu Hadi siap membantu nelayan maupun pengusaha benih untuk mencari mitra di Vietnam. Lantaran Menteri KKP Edhy Prabowo telah menerbitkan aturan yang memperbolehkan ekspor benih lobster dan menghindari penjualan secara illegal melalui penyelundupan. “Kami akan coba bantu, tolong dikasih daftar namanya atau perusahaannya. Nanti bisa langsung email atau lewat laman FB (facebook) kami, tolong dikomunikasikan di situ. Kami akan buat seminar virtual, judulnya mengenai Peluang Ekspor Lobster di Vietnam,” ujar Ibnu, seperti dilansir dari radarlombok pada Sabtu (21/6).

Selain Vietnam, benih lobster kerap diekspor ke Hongkong, Singapura, Thailand, dan Malaysia. Jenis lobster yang biasanya diekspor Lombok sebagai penghasil utama di Indonesia adalah lobster pasir (Panulirus homarus) dan lobster mutiara (Panulirus ornatus). Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB 2014 mencatat, potensi benih lobster di daerah Lombok mencapai 10 juta ekor. Dari potensi tersebut sebesar 25 persen merupakan benih lobster mutiara. Potensi benih lobster di daerah ini disebabkan oleh lokasi strategis perairan yang cocok ditempati lobster. Perairan di sepanjang pantai selatan pulau Lombok bersih dan memiliki batu cadas yang berguna menjaga ekosistem lobster.

Menurut Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTB, lokasi penghasil benih lobster di Kabupaten Lombok Tengah terdiri dari kawasan perairan Teluk Gerupuk, Teluk Bumbang, Teluk Awang, dan perairan Serong Belanak. Bahkan awalnya, Teluk Gerupuk merupakan salah satu sentra budidaya rumput laut namun sudah beralih menjadi kawasan penangkapan benih lobster menggunakan karamba apung. Sementara di Kabupaten Lombok Timur terdiri atas perairan Teluk Ekas dan Teluk Telong Elong. Aktivitas penangkapan benih lobster di Pulau Lombok sudah berlangsung sejak awal tahun 1990-an. Hasil tangkapan yang awalnya digunakan untuk budidaya pembesaran pada tahun 2011 mulai marak diekspor.

Ada tidaknya regulasi larangan ekspor benih, aktivitas penyelundupan tetap berjalan. Dalam siaran persnya, Ketua Umum Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI) Rusdianto Samawa mengatakan sebelum Permen No 56 Tahun 2016 direvisi, penyelundupan lobster sangat besar dalam 5 tahun belakangan. Hampir setiap hari ada benih yang masuk ke Vietnam, terutama dari Lombok. “Selama 5 tahun ini tidak ada perkembangan budidaya lobster, hanya ada pelarangan tangkapan. Kemudian, harga bibit lobster minimal Rp 60 ribu per ekor, sampai Vietnam harga lobster dewasa bisa sampai Rp 1 juta per kilogram,” ujar Rusdianto.

Alasan penyelundupan disebabkan oleh tingginya disparitas harga jual lobster. Dikutip dari kompascom pada 16 Desember 2019, pengepul membeli benih lobster pasir yang dihargai Rp 3.000 hingga Rp 8.000 per ekor, padahal di pasar ekspor benih lobster pasir mencapai Rp 40.000 hingga Rp 60.000 per ekor. Sedangkan, harga benih lobster mutiara di tingkat nelayan dihargai Rp 10.000 hingga Rp 20.000 per ekor namun harga ekspornya mencapai Rp 140.000 hingga Rp 160.000 per ekor. Benih dari nelayan yang ditampung pengepul inilah yang diselundupkan ke luar negeri dengan harga yang naik berkali-kali lipat. Menurut perkiraan KKP, benih lobster pasir diselundupkan dan dijual seharga Rp 150.000 dan benih lobster mutiara dijual Rp 200.000 per ekor. Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) KKP Rina menyatakan, dari 2015 hingga 2019, kerugian negara akibat penyelundupan lobster mencapai Rp 1,37 triliun.

Belum berkembangnya teknologi budidaya pembesaran lobster di Indonesia juga merupakan salah satu faktor yang mendorong masyarakat mengekspor benih lobster. Dikutip dari Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia tahun 2016, aktivitas pembesaran lobster masih menghadapi kendala seperti ketersediaan pakan, penyakit, dan waktu pemeliharaan yang relatif lama. Sementara itu, aktivitas penyelundupan dalam jangka panjang dapat menurunkan stok benih di perairan Indonesia jika pengelolaannya belum terarah. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan kajian terhadap potensi budidaya benih lobster sehingga ketersediannya terjaga.

Setelah mengulik daerah Lombok sebagai penghasil utama lobster Indonesia, Pemprov NTB harusnya dapat melakukan intervensi kebijakan melalui pembudidayaan benih lobster dan memaksimalkan partisipasi masyarakat. Negara Vietnam yang merupakan importir benih lobster dari Lombok dapat mengembangkan budidaya lobster berdaya saing tinggi. Seperti negara importir, kita juga harus bisa mengembangbiakkan lobster agar pasokan benih dalam negeri terjaga dan berkelanjutan. Sebagaimana tertulis dalam Permen No 12/2020, keberlanjutan ketersediaan lobster dan keseteraan teknologi budidaya harus terlaksana. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian dan riset terkait guna mensejahterakan para nelayan.

Ditulis oleh Rachmabiyati Chairini Putong

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here