Home Kampus Mahasiswa FP UNS Teliti Budi Daya Tanaman Sela di Lahan Marginal

Mahasiswa FP UNS Teliti Budi Daya Tanaman Sela di Lahan Marginal

Mahasiswa FP UNS

Agrozine.id – Tiga mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melakukan penelitian tentang budi daya tanaman sela pada perkebunan tanaman mete di lahan marginal. Ketiga mahasiswa FP UNS tersebut ialah Tulus Widodo, Prisca Puspita Sari dan Iksaniyah.

Tanaman sela adalah tanaman produktif yang memiliki nilai jual, juga termasuk tanaman yang bisa mengisi kekosongan pada lahan. Hal tersebut menjadi latar belakang ketiga mahasiswa FP UNS untuk melakukan penelitian yang diberi judul “Budi Daya Tanaman Sela pada Pekebunan Tanamana Mete di Lahan Marginal”. Penelitian tersebut dilakukan di Kecamatan Jatiroto, tepatnya di Desa Cangkring dan Desa Duren.

Baca juga: Mahasiswa FP UNS Ciptakan BUCATUR: Bumbu Masak High Calcium

Tulus dan rekannya satu tim memaparkan bahwa tanaman sela sudah dikembangkan di Indonesia, namun terkendala perkembangan tanaman sela yang belum merata sehingga memerlukan kegiatan pengenalan kepada masyarakat tetang manfaat dan keuntungan budi daya tanaman sela terkhusus pada lahan marginal.

Mereka juga menjelaskan bahwa salah satu usaha yang bisa meningkatkan pendapatan petani jambu mete yaitu dengan menerapkan sistem usaha tani jambu mete campuran (polikultur) yang melibatkan tanaman sela.

“Pola tanam yang dikembangkan pada kebun jambu mete adalah dengan menanam tanaman tahunan yakni jambu mete sebagai tanaman pokok dan tanaman semusim sebagai tanaman sela,” terang Tulus Widodo, dikutip dari lama berita UNS (28/12).

Baca juga: Mahasiswa FTP UB Manfaatkan Limbah Kulit Apel Menjadi Beras Analog

Polikultur memiliki beberapa keunggulan serta keuntungan yaitu dengan memanfaatkan lahan usaha tani menjadi lebih efisien dan produktif, meningkatkan produktivitas usaha tani, meningkatkan pendapatan usaha tani, pemakaian input usaha tani lebih efisien, dan pendapatan petani lebih terjamin dan risiko usaha tani lebih kecil.

Data hasil penelitian mereka, memberikan hasil bahwa dari 2 desa tersebut terdapat tanaman sela empon-empon yaitu jahe dan kunyit. Kedua tanaman sela tersebut ditanam dibahwa pohon jambu. Selain ditanami tanaman sela, juga ditanami umbi-umbian, dan tanaman buah. Namun, budi daya pada tanaman sela dilakukan secara sederhana sehingga kualitas kurang baik.

Para petani biasanya memanfaatkan tanaman sela ketika menunggu masa panen jambu mete. Hasil dari tanaman sela yang mayoritas jahe dan kunyit biasanya dimanfaatkan sendiri untuk membuat jamu atau dijual kepengepul. Hal tersebut yang menyebabkan harga yang realtif murah.

“Tanaman sela yang ditanam pada lahan marginal selain bermanfaat untuk mengisi kekosongan lahan, juga dapat memberikan keuntungan baik dari segi ekonomi maupun biologi. Namun, sangat disayangkan masyarakat umum belum banyak mengetahuinya sehingga diperlukan pengembangan partisipasi. Pengembangan partisipasi masyarakat dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi yang berkaitan dengan manfaat penanaman tanaman sela,” pungkas Tulus. (ran)

 

Tonton video menarik ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here