Home Kampus Mahasiswa UB Sosialisasi Manfaat Beras Analog untuk Diversifikasi Pangan

Mahasiswa UB Sosialisasi Manfaat Beras Analog untuk Diversifikasi Pangan

Mahasiswa UB Sosialisasi Manfaat Beras Analog Untuk Diversifikasi Pangan

Agrozine.id – Indonesia memiliki potensi bahan pangan pokok selain beras yang cukup melimpah. Misalnya saja, sagu, jagung, sorgum, ubi, dan masih banyak lagi. Bahan pangan tersebut diketahui mengandung karbohidrat yang cukup tinggi. Maka dari itu, dibuatlah beras analog sebagai diversifikasi pangan. Lima Mahasiswa Universitas Brawijaya yang tergabung dalam Tim Tanoto Student Research Award 2020 melakukan sosialisasi tentang manfaat beras analog untuk diversifikasi pangan.

Tim yang terdiri dari Wafa Nida Faida Azra, Surya Huda, Ristifiani Hanindia Putri, Wardatul Maulidah dan Alifatus Sholikhah. Dibawah bimbingan dosen Wendra Gandhatyasri Rohmah, kelima mahasiswa tersebut melakukan sosialiasasi tentang manfaat beras analog untuk diversifikasi pangan kepada masyarakat yang berada di 12 kelurahan yang ada di kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Menurut koordinator tim yaitu Wafa, beras analog ini masih belum banyak dikenal oleh masyarakat, sehingga perlu disosialisasikan. Nantinya, sosialisasi dilakukan dengan memberikan informasi terkait manfaat beras analog khususnya yang berasal dari jagung. Mengingat Jawa Timur merupakan provinsi penghasil jagung utama di Pulau Jawa.

“Sosialisasi ini diharapkan dapat mengenalkan beras analog khususnya beras analog berbahan jagung dan dapat mengedukasi tentang beras analog kepada masyarakat sehingga tertarik untuk mengonsumsi beras analog jagung,” ujar dosen pembimbing kelima mahasiswa tersebut, Wendra Gandhatyasri Rohmah, dikutip dari Prasetya UB (15/10).

Selain potensi jagung di Jawa Timur yang melimpah, alasan dipilihnya beras analog jagung ini adalah karena kandungan gizinya. Diketahui bahwa, jagung memiliki kandungan yang bermanfaat untuk kesehatan. Selain rendah gula serta mempunyai kandungan vit A sebesar 4500 kalori per 1000 gramnya, kelebihan dari beras analog berbahan jagungini yaitu belum banyak dikonsumsi dikalangan masyarakat baik masyarakat kalangan bawah, menengah ataupun kalangan atas.

Sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai pangan pokoknya. Tingginya tingkat konsumsi beras tersebut tidak berbanding lurus dengan tingginya produksi beras. Kebutuhan beras domestik yang cukup besar, belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi dalam negeri. Sehingga, mengharuskan Indonesia mengimpor beras yang dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat.

Diharapkan dengan adanya beras analog ini dapat menjadi alternatif untuk membantu menjaga ketahanan pangan, selain kandungan gizi pada beras analog yang lebih baik dibandingkan dengan beras padi juga dapat membantu mewujudkan program diversifikasi pangan. (ran)

 

Dilansir dari laman berita Universitas Brawijaya, Kamis (15/10/2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here