Home Populer Hutan Adat dan Hutan Konservasi di Kapuas Hulu

Hutan Adat dan Hutan Konservasi di Kapuas Hulu

TN Danau Sentarum sebagai salah satu hutan konservasi di Kapuas Hulu

Agrozine.id – Pada kesempatan kali ini, tim Agrozine.id akan mengulas mengenai hutan adat dan hutan konservasi yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu.

Kapuas Hulu merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia. Kabupaten Kapuas Hulu memiliki tutupan hutan sekitar 1,8 juta Ha dari total areal wilayahnya 4,5 juta Ha. Kawasan ini berupa hutan konservasi, lindung, maupun produksi.

Di Kabupaten Kapuas Hulu terdapat 2 taman nasional yang terkenal yaitu Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dengan luas lebih dari 800.000 Ha dan merupakan taman nasional terbesar kedua di Kalimantan. Didalamnya juga terdapat aliran sungai terpenting di Kalimantan. Kemudian yang kedua yaitu Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) seluas 132.000 Ha yang membentuk ekosistem air tawar dan terdapat danau terbesar di Kalimantan.

Pada tahun 2018, TN Betung Kerihun dan TN Danau Sentarum serta Kabupaten Kapuas Hulu dikukuhkan menjadi Cagar Biosfer baru dengan nama Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu oleh UNESCO. Cagar biosfer merupakan suatu kawasan ekosistem yang keberadaannya diakui secara internasional yang bertujuan mempromosikan konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan, dengan melibatkan peran serta masyarakat lokal.

Dilansir dari WWF Indonesia, terdapat 4 kelompok etnis menghuni 8 desa di sepanjang koridor kawasan hutan yang menghubungkan TN Betung Kerihun dan TN Danau Sentarum. Mereka hidupnya bergantung pada sumberdaya hutan dan danau. Pemanfaatan dan pengelolaan hutan di kawasan tersebut berbagai macam dan secara tradisional diakui oleh masyarakat adat.

Berkas:Masyarakat Sungai Utik dan Hutan Adat Mereka.jpg ...

Salah satu kelompok masyarakat adat tersebut yaitu Dayak Iban yang berada di Dusun Sungai Itik, Desa Batu Lintang, Kecamatan Embaloh, Kabupaten Kapuas Hulu. Masyarakat Dayak Iban memiliki komitmen menjaga hutan sebagai sumber penghidupan mereka. Hutan adat mereka memiliki luas 9.453 Ha yang selalu dijaga kelestariannya.

Pada tahun 2012 hutan adat Sungai Itik mendapatkan sertifikat ekolabel dari Lembaga Ekolabel Indonesia. Selain itu, mereka juga mendapatkan penghargaan internasional yaitu Equator Award 2019 dari UNDP (United Nations Development Programme). Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi masyarakat Dayak Iban menjaga hutan melalui inovasi berbasis alam untuk mengatasi perubahan iklim, lingkungan dan kemiskinan.

Bandi selaku tokoh adat di Sungai Itik mengatakan kepada Mongabay bahwa hutan adat Sungai Itik belum mendapatkan Surat Keputusan Menteri untuk pengakuan terhadap hutan adat. Dengan mengacu pada SK MK No 35 Tahun 2012 yang menyatakan hutan adat bukan hutan negara. Besar harapan mereka mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia.

Meski begitu, keterpaduan hidup antara masyarakat Kapuas Hulu dengan TN Betung Kerihun dan TN Danau Sentarum sebagai zona inti cagar biosfer, hutan lindung dan hutan produksi sebagai zona penyangga, serta kawasan areal penggunaan lainnya sebagai zona transisi sangatlah harmonis. Masyarakat adat yang memanfaatkan dan mengelola hutan konservasi tersebut sesuai kaidah konservasi patut diapresiasi. (ran)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here