Home Perkebunan Menata Jalan Sukses Lumbung Pangan Nasional di Atas Tanah Kalimantan

Menata Jalan Sukses Lumbung Pangan Nasional di Atas Tanah Kalimantan

Lumbung Pangan Nasional di Kalimantan Tengah

Agrozine.id – Menanggapi himbauan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) terkait krisis pangan yang akan melanda akibat pandemi Covid-19, Presiden Jokowi dalam rapat terbatas pada (5/5/2020), menginstruksikan kepada seluruh jajarannya untuk mengoptimalisasikan pengembangan lahan gambut di Kalimantan Tengah untuk dijadikan lahan persawahan. Kini, pemerintah sedang sibuk mempersiapkan kelanjutan dari rapat tersebut melalui pengembangan proyek strategis lumbung pangan nasional (food estate) untuk memperkuat ketahahanan pangan.

Proyek lumbung pangan nasional yang ada di Kalimantan Tengah akan dipimpin oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang sebelumnya sudah ditunjuk sebagai lead-sector oleh Presiden Jokowi. Nantinya Kemenhan akan berkoordinasi dengan beberapa kementerian lain seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kementerian Pertahanan dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT).

 

Presiden Jokowi yang didampingi Menteri Pertanian dan Menteri Pertahanan telah meninjau lokasi yang akan dikembangkan proyek lumbung pangan yaitu di Desa Bentuk Jaya, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas pada Kamis (9/7/2020) lalu. Disusul Menteri PUPR yang ditemani Kepala Dinas PUPR Kalteng meninjau kesiapan program ke sejumlah lokasi pada hari Sabtu (13/7/2020).

Pengembangan proyek lumbung pangan nasional nantinya akan berbasis korporasi petani yang terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, dan peternakan. Proyek tersebut akan dikembangkan di atas lahan seluas 165.000 hektare yang tersebar dibeberapa kabupaten. Dari total luasan lahan tersebut, 85.500 hektare merupakan lahan potensial yang sebelumnya sudah digunakan untuk berproduksi, sedangkan sisanya merupakan semak belukar.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan target proyek lumbung pangan akan dimulai pada musim tanam kedua yaitu bulan Oktober 2020 hingga bulan Maret 2021. Pada tahap awal proyek ini akan diprioritaskan di 2 kabupaten yaitu Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau seluas 28.321 hektare.

“8.747 hektare berada di kawasan eks Pengembangan Lahan Gambut (PLG) dan 19.574 hekatare di luar kawasan bekas PLG” jelas Menteri Syahrul dalam pernyataan tertulisnya.

Jumlah tersebut terdiri dari 19.103 hektare lahan yang sudah memiliki irigasi yang baik sedangkan 9.218 hektare perlu perbaikan irigasi yang akan dikerjakan secara bertahap dalam kurun waktu maksimal 2 tahun.

Pada proyek lumbung pangan nasional di Kalimantan Tengah ini komoditas pertanian yang akan dikembangkan tidak hanya berupa padi dan jagung saja, melainkan berbagai komoditas lainnya seperti sayuran dan buah-buahan. Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran mengatakan bahwa wilayahnya memiliki potensi besar untuk pengembangan berbagai komoditas.  Ia juga mengatakan bahwa pemerintah daerah siap turut andil dalam proyek lumbung pangan nasional tersebut.

Terkait proyek lumbung pangan nasional, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa kawasan proyek berada di tanah alluvial atau tanah endapan bekas lahan gambut yang potensial untuk dijadikan lahan pertanian. Berdasarkan data yang terverifikasi luas lahan persawahan di Kalimantan Tengah sebesar 136.486 hektare. Sedangkan luas lahan gambut sendiri mencapai 2,7 juta hektare.

Jika kita menilik ke belakang, proyek sejuta Pengembangan Lahan Gambut (PLG) pada era Soeharto mengalami kegagalan total. Pembukaan lahan gambut dan rawa untuk areal persawahan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kabupaten Pulang Pisau merupakah salah satu lokasi yang difokuskan untuk proyek PLG pada saat itu.

Setelah hampir 25 tahun berlalu, lahan yang dulunya berupa gambut dan rawa tersebut telah mengalami degradasi. Tentunya hal ini akan mempengaruhi produktivitas pertanian. Selain itu, adanya potensi konflik sosial masyarakat juga tidak dapat dihindari.

Mengingat proyek lumbung pangan ini sebagian memanfaatkan lahan eks PLG, yang menjadi pertanyaannya adalah “Akankah proyek lumbung pangan nasional di Kalimantan  Tengah dapat berhasil?”

Proyek ini akan berhasil jika memperhatikan beberapa persyaratan seperti kesesuaian agroklimat, penggunaan teknologi budidaya yang tepat, terdapat infrastuktur yang memadai, serta kondisi sosial ekonomi yang mendukung.

Kita hanya bisa berharap pemerintah dalam mengambil kebijakan untuk proyek yang diduga membutuhkan dana mencapai Rp 2,55 triliun ini memperhatikan rencana program jangka pendek dan panjang beserta dampak yang akan ditimbulkan sebaik mungkin. Agar program lumbung pangan nasional di Kalimantan Tengah tidak mengulang kegagalan yang sama.

Ditulis oleh Rane Lida 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here