Home Biodiversitas Mengenal Bangsa Kura-Kura Yang Dapat Hidup Ratusan Tahun

Mengenal Bangsa Kura-Kura Yang Dapat Hidup Ratusan Tahun

sandiegouniontribune.com

Agrozine – Bangsa kura-kura merupakan hewan yang telah lama dikenal manusia, baik sebagai hewan liar di alam maupun sebagai hewan peliharaan. Reptil yang berordo Testudines atau Chelonians ini mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau tempurung yang keras dan kaku. Tempurung hewan ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Setiap bagiannya terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras dan tersusun seperti genting, sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.

Keberadaan tempurung tersebut untuk membantu kura-kura mempertahankan diri dari serangan hewan buas. Ketika hewan ini merasa mendapat ancaman, semua bagian tubuh yang ada di luar seperti kepala dan kakinya akan masuk ke dalam tempurung tersebut.

Reptil berkaki empat ini bergerak lambat saat berjalan di darat. Bangsa kura-kura memiliki cakar pada bagian kakinya yang berguna untuk membantunya berjalan di daratan. Hewan ini pandai berenang di air.

Tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa kura-kura adalah penyu (sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kura-kura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih sejaman dengan dinosaurus. Archelon misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat mencapai lebih dari 4 m. Fosil tertua yang ditemukan adalah Odontochelys yang hidup sekitar 232 juta tahun silam.

Banyak jenis kura-kura yang hidup sekarang mampu menyembunyikan kepala, kaki, dan ekornya ke dalam tempurungnya sehingga dapat menyelamatkan diri. Namun, beberapa jenis primitif seperti penyu, tidak dapat menarik masuk anggota badannya itu.

Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai, dan laut. Sebagian jenisnya hidup sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Hewan ini ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora). Reptil ini tidak memiliki gigi, tetapi perkerasan tulang di moncongnya sanggup memotong apa saja yang menjadi makanannya. Hewan ini dapat memakan buah dan sayuran, juga dapat memakan ikan, pelet, hingga serangga.

Ukuran tubuh bangsa kura-kura bermacam-macam, ada yang kecil dan ada yang besar, biasanya ditunjukkan dengan panjang karapasnya. Kura-kura terbesar adalah penyu belimbing, karapasnya dapat mencapai 3 m. Labi-labi terbesar adalah labi-labi moncong babi dengan panjang karapas sekitar 0,7 meter. Sementara kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan Seychelles panjangnya dapat melebihi 0,7 meter. Jenis yang terkecil adalah kura-kura mini dari Afrika Selatan, panjang karapasnya tidak melebihi 8 cm.

Kura-kura berbiak dengan bertelur (ovipar). Jumlahnya beberapa butir pada kura-kura darat hingga lebih dari seratus butir telur pada beberapa jenis penyu. Setiap kali penyu bertelur, biasanya diletakkan pada lubang pasir di tepi sungai atau laut, lalu ditimbun dan dibiarkan menetas dengan bantuan panas matahari. Telur penyu menetas kurang lebih setelah dua bulan (50-70 hari) tersimpan di pasir.

Jenis kelamin anak kura-kura yang bakal lahir salah satunya ditentukan oleh suhu pasir tempat telur-telur itu tersimpan. Pada kebanyakan jenis hewan ini, suhu di atas rata-rata biasanya akan menghasilkan betina. Sebaliknya, suhu di bawah rata-rata cenderung menghasilkan hewan jantan.

Selain dimanfaatkan sebagai hewan penghias kolam rumah, kura-kura juga dikonsumsi manusia. Dagingnya telah sejak lama dikenal sebagai makanan yang lezat. Beribu-ribu ekor labi-labi, kura-kura, dan penyu, terutama penyu hijau, berakhir hidupnya setiap tahun di dapur restoran. Demikian pula nasib telur-telurnya, banyak yang akhirnya menjadi santapan manusia. Penyu sisik (Eretmochelys imbricata), diburu orang untuk diambil sisiknya yang indah sebagai bahan perhiasan. Beberapa jenis penyu yang lain juga sering ditangkap dan dikeringkan untuk dijadikan hiasan dinding. Selain itu, banyak jenis kura-kura yang ditangkap untuk diperdagangkan sebagai hewan peliharaan, baik karena keindahan warnanya, keunikannya, atau kelangkaannya. Hal ini telah menurunkan banyak populasi kura-kura ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Ditambah lagi banyak habitat alaminya di sungai-sungai, rawa dan hutan yang telah rusak akibat aktivitas manusia. Di sisi lain,  perkembangan populasi kura-kura amat lambat. Oleh sebab itu, tindakan konservasi bagi hewan ini amat diperlukan.

Dari semua bangsa kura-kura, hanya penyu yang telah dilindungi dengan undang-undang di Indonesia. Banyak pantai peneluran penyu yang telah dimasukkan ke dalam kawasan yang dilindungi, seperti misalnya Pantai Sukamade di Jawa Timur, Pantai Jamursba-Medi di Papua, dan Pantai Ujung Genteng di Jawa Barat.

Diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari 12-14 suku (familia) yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku kura-kura dan penyu. Berikut ini suku-suku tersebut dan beberapa contohnya:

Sub Ordo Pleurodira:

  • Chelidae(kura-kura leher ular). Kura-kura jenis ini hidup di air tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya kura-kura rote (Chelodina mccordi), kura-kura papua (Chelodina novaeguineae), dan kura-kura perut putih (Elseya branderhosti).
  • Pelomedusidae. Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae, suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika Selatan, Afrika, dan Madagaskar. Jenis ini tidak didapati di Indonesia.

Sub Ordo Cryptodira:

  • Cheloniidae (penyu). Penyu hidup sepenuhnya di lautan, kecuali yang betina saat bertelur. Penyu tersebar luas di samudera-samudera di seluruh dunia. Dari tujuh spesies anggota suku ini, enam di antaranya ditemukan di Indonesia. Contohnya penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).
  • Dermochelyidae(penyu belimbing). Penyu ini hidup di lautan-lautan besar hingga ke daerah dingin. Penyu ini merupakan kura-kura terbesar yang masih hidup. Panjang tubuhnya (panjang karapas) dapat mencapai 3 m dan beratnya mendekati 1 ton.
  • Chelydridae. Suku ini terdiri dari kura-kura air tawar berekor panjang dan berkepala besar, yang menyebar di Amerika. Dengan perkecualian satu marga anggotanya (Platysternon) yang menyebar di Tiongkok dan Indochina.
  • Kinosternidae. Suku kura-kura air tawar kecil dari Amerika bagian tengah. Hewan yang mampu mengeluarkan bau tak enak ini tidak terdapat di Indonesia.
  • Dermatemyidae. Juga menyebar terbatas di AmerikaTengah. Jenis kura-kura ini berukuran relatif besar dan hidup di sungai-sungai.
  • Trionychidae(labi-labi). Ini adalah suku yang paling banyak jenisnya. Labi-labi menyebar luas di Amerika utara, Afrika, dan Asia. Beberapa contoh labi-labi dari Indonesia adalah bulus (Amyda cartilaginea), manlai alias labi-labi bintang (Chitra chitra), labi-labi hutan (Dogania subplana), labi-labi irian (Pelochelys bibroni), antipa, dan labi-labi raksasa (Pelochelys cantori).
  • Carettochelyidae (labi-labi moncong babi). Labi-labi ini menyebar terbatas di Papua bagian selatan dan di Australia bagian utara.
  • Emydidae. Ini adalah suku kura-kura akuatik dan semi akuatik yang hidup di air tawar di Eropa, Asia,dan terutama di Amerika. Emydidae adalah salah satu suku kura-kura terbesar dari segi jumlah anggotanya. Salah satu contohnya yang banyak dipelihara di Indonesia adalah kura-kura telinga merah (Trachemys scripta).
  • Geoemydidae. Suku kura-kuraini terutama menyebar di Asia Tenggara. Anggota suku ini juga ditemukan di Afrika bagian utara, Eurasia, dan Amerika tropis. Ini adalah suku kura-kura air tawar yang hidup di sungai-sungai, meskipun sering pula ditemui di daratan. Di Indonesia terdapat sekitar 11 jenis, diantaranya tuntong sungai (Batagur affinis), kura-kura sungai-utara (Batagur baska), beluku atau tuntong (Callagur borneoensis), kuya batok (Cuora amboinensis).
  • Testudinidae (kura-kura darat sejati). Suku kura-kura ini banyak anggotanya dan tersebar luas di seluruh dunia. Kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan kura-kura darat berumur panjang dari Kepulauan Seychelles termasuk ke dalam suku ini. Dua anggotanya terdapat di Indonesia, yaitu baning sulawesi (Indotestudo forsteni) dan baning cokelat (Manouria emys).

Kura-kura termasuk salah satu jenis hewan yang berumur panjang. Reptil ini dapat hidup puluhan tahun. Bahkan, seekor kura-kura darat dari Kepulauan Seychelles tercatat hidup selama 152 tahun.

Demikian pengenalan tentang kura-kura. Semoga bermanfaat dan memotivasi kamu untuk turut serta melestarikannya. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here