Home Pertanian Mengenal Berbagai Macam Biopestisida yang Ramah lingkungan

Mengenal Berbagai Macam Biopestisida yang Ramah lingkungan

Agrozine.id – Masalah hama dan penyakit yang menyerang tanaman pertanian merupakan momok bagi para petani. Kerap kali masalah tersebut menyebabkan turunnya produktivitas hasil pertanian. Penggunaan pestisida kimia yang dianggap efisien dalam mencegah turunnya produktivitas, justru memberikan dampak negatif seperti pencemaran terhadap tanah,  membuat hama resisten, dan meningkatkan biaya produksi. Solusi yang dapat dilakukan petani akan masalah tersebut adalah dengan menerapkan peralihan penggunaan pestisida, dari pestisida kimia ke pestisida alami atau Biopestisida.

Biopestisida merupakan pestisida yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti tumbuh-tumbuhan maupun mikroorganisme yang berpotensi digunakan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Pestisida ini dipercaya lebih ramah lingkungan. Selain itu, penggunaan biopestisida dapat menekan biaya produksi karena murah dan mudah didapatkan, lalu aman digunakan karena tidak menimbulkan residu pada tanah, serta dapat mengurangi berbagai dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia lainnya.

Dilansir dari Kompasiana (14/09/2020), ada beberapa macam biopestisida berdasarkan asal dan fungsinya, diantaranya yaitu:

biopestisida

  1. Bioinsektisida

Bioinsektisida berasal dari mikroba yang digunakan sebagai insektisida. Jenis mikroba yang digunakan sebagai insektisida harus mempunyai sifat yang spesifik artinya harus menyerang serangga yang menjadi sasaran. Contohnya yaitu, Bacillus thuringiensis var. Israelensis berfungsi sebagai insektisida yang efektif untuk membasmi larva nyamuk dan lalat. Jenis insektisida biologi ini diperdagangkan dengan nama Bactimos, BMC, Teknar dan Vektobak.

Jenis insektisida biologi yang lainnya adalah yang berasal dari protozoa, Nosema locustae, yang telah dikembangkan untuk membasmi belalang dan jangkrik. Nama dagangnya ialah NOLOC, Hopper Stopper. Lalu, ada Neoplectana carpocapsae, yang digunakan untuk membunuh semua bentuk rayap dan diperdagangkan dengan nama Spear, Saf-T-Shield.

  1. Bioherbisida

Bioherbisida yang pertama kali digunakan ialah DeVine yang berasal dari Phytophthora palmivora yang digunakan untuk mengendalikan Morrenia odorata, gulma pada tanaman jeruk. Bioherbisida yang kedua dengan menggunakan Colletotrichum gloeosporioides yang diperdagangkan dengan nama Collego dan digunakan pada tanaman padi dan kedelai di Amerika.

  1. Biofungisida

Biofungisida yang telah digunakan adalah spora Trichoderma sp. digunakan untuk mengendalikan penyakit akar putih pada tanaman karet dan layu fusarium pada cabai. Merek dagangnya ialah Saco P dan Biotri P.

Biofungisida lainnya yaitu Gliocladium roseum dan Gliocladium virens yang digunakan untuk mengendalikan busuk akar pada cabai akibat serangan jamur Sclerotium rolfsii. Produk komersialnya sudah dapat dijumpai di Indonesia dengan merek dagang Ganodium. Kemudian ada Bacillus subtilis yang merupakan bakteri saprofit mampu mengendalikan serangan jamur Fusarium sp. pada tanaman tomat. Bakteri ini telah diproduksi secara masal dengan merek dagang Emva dan Harmoni BS.

Selain 3 jenis biopestisida yang diperdagangkan tersebut, kamu juga dapat meraciknya sendiri menggunakan bahan-bahan alami seperti tanaman-tanaman yang mudah dijumpai. Tanaman yang biasa digunakan dalam pembuatan biopestisida ini antara lain daun mimba, mahoni, biji srikaya, empon-empon seperti kunyit, temulawak, dan tanaman lainnya. Kombinasi dari tanaman-tanaman tersebut bersifat menolak hama, menghasilkan racun, mengganggu siklus pertumbuhan hama, dan mengganggu pencernaan atau merubah perilaku hama. (ran)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here