Home Populer Mengenal Burung Enggang Kalimantan yang Sakral

Mengenal Burung Enggang Kalimantan yang Sakral

burung enggang kalimantan

Agrozine.id – Burung enggang atau biasa dikenal burung rangkong keberadaannya di alam sudah hampir jarang ditemui sehingga ditetapkan sebagai spesies yang dilindungi. Dari total 32 jenis enggang di Asia, hampir setengahnya berada di Indonesia; tiga jenis di antaranya bersifat endemik. Habitat burung enggang ini sebagian besar berada di Kalimantan. Bagi suku Dayak, burung eksotis ini memiliki makna tersendiri dan dikeramatkan. Nah, pada artikel kali ini, kita akan mengenal lebih dalam tentang burung enggang yang khas dari tanah Kalimantan.

hornbill-bird-pictures – Disbudpar Kalteng

Ciri-Ciri Umum Burung Enggang

Burung enggang memiliki ciri khas tersendiri sehingga mudah dikenali. Bentuk paruhnya besar, melengkung, panjang, dan ringan. Di bagian atas paruhnya terdapat balung atau disebutnya casque yang hanya dimiliki oleh burung enggang ini. Setiap jenis memiliki perbedaan warna bulu, bentuk, ukuran, dan warna balungnya.

Dari banyaknya jenis burung enggang yang ada di Indonesia, enggang gading merupakan salah satu jenis yang istimewa. Pasalnya jenis ini dijadikan sebagai maskot Provinsi Kalimantan Barat sejak tahun 1990. Diantara jenis lainnya, jenis burung enggang gading ini merupakan jenis burung yang terbesar ukurannya. Mulai dari ukuran kepala, paruh dan juga pada bagian tanduknya yang menutupi bagian dahinya.

Burung enggang gading ini selain memiliki casque dengan bentuk yang unik, juga memiliki bulu yang indah. Bulu ekornya panjang menjuntai, bentang sayangnya lebar, dan juga bulu mata yang lentik. Jenis kelamin bururng enggang dewasa dapat dikenali melalui perbedaan warna balung, warna sayap, paruh, mata dan ukuran tubuh

Saat berusia muda, Burung enggang ini mempunyai paruh dan mahkota berwarna putih bersih. Seiring usianya, paruh dan mahkotanya akan berubah warna menjadi oranye dan merah. Hal  ini akibat dari seringnya enggang menggesekkan paruh ke kelenjar penghasil warna oranye merah yang terletak di bawah ekornya.

Pakan favorit burung enggang yakni daun ara. Selain itu burung enggang  tidak jarang juga memakan tikus, serangga, kadal bahkan burung kecil. Burung enggang dikenal memiliki kebiasaan hidup berpasang-pasangan dan cara bertelurnnya yang sangat unik.

Perkembangbiakan Burung Enggang

Burung enggang memasuki musim bertelur dimulai dari bulan April sampai Juli. Saat awal masa bertelur, burung enggang jantan membuat lubang pada batang pohon untuk tempat bersarang dan bertelurnya betina. Dalam masa mengerami telurnya, sang betina bersembunyi menutup lubang dengan dedaunan dan lumpur.

Pada masa tersebut, burung enggang jantan akan memberi makan burung betinanya melalui sebuah lubang kecil selama masa inkubasi dan berlanjut sampai anak mereka tumbuh menjadi burung yang siap hidup di dunia luar. Uniknya lagi, anak-anak burung yang lebih besar membantu burung jantan dewasa menyediakan makan bagi burung betina dan anak-anaknya yang baru menetas di sarang.

Burung Enggang Bagi Masyarakat Suku Dayak

Bagi masyarakat suku Dayak, burung enggang ini dianggap sebagai lambang kesucian dan kekuatan. Burung enggang kerap dijadikan sarana berkomunikasi dengan leluhur. Masyarakat suku Dayak juga mempercayai bahwa konon roh alam yang melindungi Pulau Kalimantan dan masyarakat Dayak sering menampakkan diri dalam wujud enggang raksasa atau dikenal sebagai Panglima Burung.

Burung enggang ini pada umumnya dianggap sakral dan tidak diperbolehkan untuk diburu apalagi dikonsumsi. Apabila ada burung enggang yang ditemukan mati, tubuhnya tidak dibuang oleh suku Dayak. Bagian kepalanya digunakan untuk hiasan kepala baju adat mereka. Hiasan kepala inipun hanya boleh digunakan oleh orang-orang terhormat di suku Dayak. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here