Home Perikanan Mengenal Fotobioreaktor, Produksi Biomass Mikroalga untuk Pakan Alami Ikan

Mengenal Fotobioreaktor, Produksi Biomass Mikroalga untuk Pakan Alami Ikan

Fotobioreaktor

Agrozine – Pemanasan global merupakan fenomena meningkatnya temperatur suhu bumi yang disebabkan oleh efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri merupakan peningkatan konsentrasi gas-gas seperti uap air (H2O), metana (CH4), karbon dioksida (CO2), dan nitrogen (N2). Gas karbon dioksida mengalami peningkatan paling signifikan, sehingga konsentrasinya di udara harus dikurangi. Salah satu inovasi dalam dunia perikanan dan kelautan yakni Fotobioreaktor dapat memaksimalkan penyerapan senyawa karbon dioksida. Dalam artikel ini, kita akan mengetahui lebih lanjut Fotobioreaktor yang disebut sebagai wadah kultur bagi mikroalga atau fitoplankton sebagai pakan alami ikan. Simak ulasannya!

 

Mengenal Inovasi Fotobioreaktor

Fotobioreaktor merupakan bioreaktor berisi mikroalga sebagai bahan pengkonversi karbon dioksida menjadi oksigen melalui reaksi fotosintesis dengan sumber cahaya dari matahari, lampu halogen, lampu LED, dan sebagainya yang digabungkan menjadi suatu sistem teknologi. Mikroalga sendiri merupakann tumbuhan mikroskopis bersel tunggal yang membutuhkan karbon dioksida dalam proses fotosintesis.

Adapun jenis mikroalga yang biasa digunakan dalam inovasi teknologi ini adalah chlorella sp. Spesies mikroalga ini memiliki beberapa keuntungan karena tidak beracun, mampu hidup dimana saja, dan berkembang biak dengan cepat pada kondisi tumbuhnya. Selain itu, chlorella sp. juga mampu menghasilkan oksigen pada proses fotosintesis dan hidup di lingkungan yang tercemar.

 

Pembuatan Fotobioreaktor

Proses ini diawali dengan pembuatan nutrien pada mikroalga menggunakan metode Bold Bassal Medium (BBM). Dalam metode ini digunakan 15 jenis nutrien anrara lain dikalium fosfat (K2HPO4), kalium dihidrogen fosfat (KH2PO4), magnesium sulfat (MgSO4.7H2O), natrium nitrat (NaNO3), kalsium klorida (CaCl2.2H2O), kobalt (II) nitrat (Co(NO3)2.6H2O), tembaga (II) sulfat (CuSO4.5H2O), seng sulfat (ZnSO4.7H2O), mangan (II) klorida tetrahidrat (MnCl2.4H2O), asam sulfat (H2SO4), natrium klorida (NaCl), besi (II) sulfat (FeSO4.7H2O), kalium hidroksida (KOH), asam etilenadiaminatetraasetat (EDTA), dan dihidrogen borat (H2BO3). Selanjutnya, dilakukan pencampuran bibit mikroalga chlorella sp. sebanyak 250 ml dalam 1000 ml nutrien. Dalam proses pembuatannya, nutrien berperan sebagai suplai gizi bagi pertumbuhan mikroalga.

 

Fotobioreaktor berisi 250 ml bibit mikroalga dan 1000 ml nutrien dirancang dengan tinggi 50 cm dan diameter 10 cm yang diletakkan dalam chamber cahaya berukuran 40 x 50 x 50 cm. fotobioreaktor disuplai dengan kecepatan alir 0,5 L/ min dengan kontrol suhu 25 hingga 35 derajat celcius. Sumber cahaya dapat berupa lampu halogen dengan kapasitas sebesar 1000 lux yang mempu menghasilkan oksigen dengan konsentrasi sebesar 21,7 persen. Output berupa gas oksigen selanjutnya diukur menggunakan O2 gas analyzer.

 

Di dalam fotobioreaktor, terjadi fotosintesis mikroalga chlorella sp. yang merupakan proses konversi karbon dioksida di udara menjadi oksigen dengan bantuan cahaya dari lampu halogen. Tolak ukur yang menjadi tingkat keberhasilan proses fotobioreaktor adalah jumlah oksigen yang diperoleh. Semakin banyak jumlah oksigen yang dihasilkan, semakin banyak pula karbon dioksida yang terkonversi.

07/2017 – bbi Photobioreactors at 10. Bundesalgenstammtisch - bbi-biotech

Keunggulan Fotobioreaktor

Sistem teknologi fotobioreaktor memiliki beberapa keunggulan antara lain:

  1. Tidak memerlukan lahan yang luas dalam prosesnya.
  2. Efisien menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen.
  3. Mikroalga yang diproduksi dapat dimanfaatkan menjadi biodiesel.
  4. Mudah dikontrol dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri.
  5. Produktivitas biomassa yang lebih tinggi dengan kondisi kultur lebih steril.

Nah, sekarang kita telah mengenal lebih lanjut pemanfaatan, cara kerja, dan keunggulan dari fotobioreaktor. Sistem teknologi ini dapat pula menunjang pembenihan ikan, udang, abalone, dan lobster untuk diterapkan dalam skala besar. (rin)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here