Home Perikanan Ikan Bilih, Ikan Khas Danau Singkarak

Ikan Bilih, Ikan Khas Danau Singkarak

lazada.co.id

Agrozine – Inilah ikan yang menjadi kuliner paling favorit di Danau Singkarak, rasa gurihnya mantap tenan. Ikan bilis adalah ikan konsumsi yang penting, setidaknya secara lokal di Sumatra Barat. Ikan ini mendominasi produksi ikan Danau Singkarak.

Asal nama ikan bilih ini sebetulnya adalah pelafalan Minang untuk ‘bilis’, yakni ikan-ikan kecil sebangsa teri dikarenakan bentuk yang menyerupai satu sama lain, walau sebenarnya sangat jauh kekerabatannya.

Bilis, bilih atau bako (Mystacoleucus padangensis) adalah sejenis ikan air tawar anggota suku Cyprinidae yang menyebar terbatas (endemik) di pulau Sumatra, terutama di Danau Singkarak dan Danau Maninjau di Sumatra Barat, serta sungai-sungai kecil di sekitarnya, termasuk Batang Kuantan di Kabupaten Kuantan Singingi yang berhulu ke Danau Singkarak. Kini ikan bilis juga diintroduksi ke Danau Toba di Sumatra Utara.

Ikan ini berukuran kecil, panjang total mencapai 116 mm. Bilis berkerabat dekat dengan ikan genggehek (Mystacoleucus marginatus) yang sebarannya lebih luas. Genggehek bertubuh lebih besar, hingga 20 cm.

Sisik-sisik ikan ini bergurat sisi 37–39 buah. Moncongnya ada yang memiliki dua sungut kecil dan ada yang tidak ada. Terdapat duri kecil yang mengarah ke depan di muka sirip punggung, yang kadang-kadang tersembunyi di bawah sisik. Sirip perut kurang lebih sepanjang sirip dada, tidak mencapai anus, dipisahkan oleh tiga deret sisik dari gurat sisi. Batang ekor dikelilingi 18 sisik. Ekor menggarpu dalam, sirip-siripnya ujungnya meruncing dan berwarna perak.

Makanan utama ikan ini adalah detritus dan zooplankton. Namun, bilis juga mau memakan fitoplankton dan bahan nabati lain yang jatuh ke badan air.

Bilis merupakan ikan penghuni danau, tetapi beruaya (migrasi) ke arah hulu ketika hendak memijah. Ikan ini memijah dengan cara menyongsong aliran air sungai yang bermuara ke danau. Di sekitar Danau Singkarak, sungai-sungai tersebut di antaranya adalah Batang Sumpur, Paninggahan, dan Muaro Pingai. Tampaknya tidak ada musim memijah yang tertentu karena selalu ada saja induk yang beruaya masuk ke sungai dan bertelur.
Faktor lingkungan yang mempengaruhi pemijahan ikan bilih adalah arus air dan substrat dasar sungai. Ikan ini memilih perairan sungai yang jernih dengan suhu air yang relatif rendah, antara 24–26 °C, dan dasar sungai yang berbatu kerikil dan atau pasir. Telur-telur dikeluarkan induk-induk ikan di dasar sungai, dibuahi oleh ikan jantan, dan tenggelam ke dasar untuk kemudian hanyut terbawa arus air masuk ke danau.

Umumnya ikan bilih diolah dengan cara dikeringkan dan diasinkan sehingga awet untuk waktu yang lama. Ikan ini sempat menjadi komoditas ekspor hingga dijual ke negeri jiran Malaysia dan Singapura. Sayangnya penangkapan yang tidak berwawasan lingkungan inilah yang sempat membawa ikan bilih menuju kepunahan.

Di habitat aslinya, selain upaya penebaran ikan bilih yang dihasilkan dari pembenihan, penyediaan suaka buatan dianggap menjadi alternatif lebih baik untuk menyelamatkan populasinya dari kepunahan.

Awalnya, Ikan bilih dianggap hanya bisa hidup di Danau Singkarak. Namun, sejak tahun 2003, ikan bilih mulai diperkenalkan untuk dibudidayakan di luar danau tersebut. Melalui penelitian Institut Pertanian Bogor diketahui bahwa ikan bilih dengan penanganan tertentu dapat diperkenalkan ke habitat danau lain. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here