Home Perikanan Mengenal Ikan Sepat, Sumber Protein di Pedesaan

Mengenal Ikan Sepat, Sumber Protein di Pedesaan

www.aqualog.de

Agrozine – Ikan sepat memiliki nilai ekonomi yang tinggi, terutama sebagai sumber protein di daerah pedesaan. Di Indonesia, selain dijual dalam keadaan segar, ikan ini sering diawetkan dalam bentuk ikan asin dan bekasam sehingga dapat dikirimkan ke tempat-tempat lain. Meskipun ikan ini lebih dikenal sebagai ikan konsumsi, beberapa jenisnya diperdagangkan sebagai ikan hias.

Sepat adalah nama segolongan ikan air tawar yang termasuk ke dalam genus Trichogaster, anggota famili gurami (Osphronemidae). Ikan ini bertubuh pipih jorong dengan moncong runcing dan mulut kecil. Sisiknya kecil-kecil, bersusun miring, dalam aneka ukuran. Gurat sisi sempurna, bentuk tabung yang kadang-kadang agak lengkung. Sirip punggung (dorsal) terletak jauh ke belakang, tetapi berakhir agak jauh di depan sirip ekor. Sirip perut (ventral) berubah bentuk, sepasang jari-jari lunak yang pertama berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk panjang sepanjang badan, ditambah dengan sepasang duri pendek dan beberapa pasang jumbai pendek yang tidak begitu terlihat. Sirip dubur (anal) memanjang, mulai dari bawah dada hingga pangkal ekor. Sirip dada (pectoral) kurang lebih meruncing, sementara sirip ekor sedikit membagi.

Panjang total ikan sepat rawa yang dicatat berkisar 31,68-103,53 mm dan bobotnya berkisar 1,12-17,22 g. Ikan jantan memiliki panjang total berkisar 31,68- 102,52 mm dan bobotnya berkisar 1,12-15,91 g, sedangkan ikan betinanya memiliki panjang total berkisar 40,19-103,53 mm dan bobot berkisar 1,45-17,22 g.

Sepat semula digolongkan ke dalam suku Belontiidae, bersama cupang dan kerabatnya. Namun, sekarang suku ini telah digabungkan ke dalam suku Osphronemidae, yang juga mencakup gurami dan sepat kerdil (Colisa).

Marga Trichogaster berkerabat dekat dengan marga Colisa, anggota kedua marga ini sama-sama memiliki sirip perut berupa cambuk. Namun, marga Trichogaster memiliki sirip punggung yang relatif lebih pendek dan individu dewasanya berukuran jauh lebih besar daripada Colisa.

Sebagaimana kerabat-kerabat dekatnya, yakni tambakan, betok, gurami, dan cupang, sepat tergolong ke dalam anak bangsa Anabantoidei. Kelompok ini dicirikan oleh adanya organ labirin di ruang insangnya, yang amat berguna untuk membantu menghirup oksigen langsung dari udara. Adanya labirin ini memungkinkan ikan-ikan tersebut hidup di tempat-tempat yang miskin oksigen seperti rawa-rawa dan sawah.

Ada empat spesies yang tergolong ke dalam genus Trichogaster, yaitu Trichogaster leerii (sepat mutiara), Trichogaster microlepis, Trichogaster pectoralis (sepat siam), Trichogaster trichopterus (sepat rawa).

Habitat dari ikan sepat adalah rawa-rawa yang pH-nya rendah. Selain itu, ikan sepat juga dapat hidup di danau, waduk, sungai, genangan air sempit, dan air kubangan. Beberapa daerah yang banyak menghasilkan ikan sepat olahan di antaranya adalah Jambi, terutama dari Kumpeh dan Kumpeh Ulu. Selain itu, Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan.

Sepat, terutama dari jenis T. pectoralis dan T. trichopterus, banyak diperkenalkan ke mana-mana sebagai ikan konsumsi. Dan sebagai akibat kemampuan adaptasinya yang tinggi, ikan-ikan itu cepat berkembangbiak di perairan bebas. Introduksi T. pectoralis ke Danau Tempe di Sulawesi tahun 1937 berhasil sehingga dua tahun kemudian ikan ini telah mendominasi 70% hasil ikan Danau Tempe.

Ikan sepat merupakan jenis ikan omnivora, yakni ikan yang memakan segala jenis makanan baik itu hewan maupun tumbuhan. Makanan ikan sepat terdiri atas mikroalga, Rotifera, Ostracoda, dan serangga. Mikroalga, rotifera, ostracoda, dan serangga memang cukup sukar dicari. Namun, bagi kamu yang memelihara ikan sepat di rumah, ada tiga jenis makanan ikan sepat yang dapat digunakan, yaitu cacing halus, kutu air, dan jentik nyamuk. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here