Home Pertanian Mengenal Komunitas Petani Muda Harvest Mind

Mengenal Komunitas Petani Muda Harvest Mind

Harvest mind

Agrozine.id – Berawal dari kegelisahan terkait maraknya monopoli perusahaan dan kehadiran tengkulak yang mempermainkan harga sehingga membuat para petani merugi dan berbagai konflik pertanian lainnya, munculah sebuah komunitas petani muda asal Purbalingga bernama Harvest Mind. Mencoba mencari jalan keluar dengan cara mendedikasikan hidupnya di dunia pertanian, sekelompok pemuda ini saling terkoneksi untuk mencapai tujuan yang sama.

Gilang Reynaldi Mahasiswa Kehutanan UGM yang merupakan salah satu anggota komunitas Harvest Mind menceritakan bahwa sebelum terbentuknya komunitas ini, sekelompok anak muda yang berjumlah 11 orang memiliki minat dalam gerakan literasi bernama Perpustakaan Jalanan. Ia bersama rekan-rekannya yang berasal dari berbagai profesi ini mencoba keluar dari zona nyaman dengan menjadi seorang petani.

Hingga pada suatu kesempatan di tahun 2018, beberapa anggota Harvest Mind berkunjung ke daerah Temon, Kulon Progo untuk membantu masyarakat menyelesaikan konflik pertanian. Disana mereka bertemu sosok inspiratif yang pada akhirnya mereka anggap sebagai guru.

Selama kurang lebih 6 bulan mereka belajar bertani dari hulu ke hilir. Mulai dari cara menanam, cara membuat pupuk dan pestisida nabati, cara mendapatkan benih, mengolah lahan, pemasaran, dan sebagainya. Pada akhirnya mereka dapat merealisasikan impiannya. Mereka menanam padi dengan menyewa sawah milik desa seluas kurang lebih 4200 meter persegi.

Ada hal menarik yang membedakan cara bertani oleh komunitas Harvest Mind dengan cara bertani yang populer diluar sana, yaitu mereka cenderung ke arah pertanian organik. Jadi Harvest Mind mengadopsi pertanian tanpa menggunakan bahan kimia sedikitpun. Bahkan untuk pupuk dan pestisida saja mereka membuatnya sendiri menggunakan bahan-bahan alami.

Selain itu, benih yang digunakan yakni benih unggul varietas lokal seperti mentik susu. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman padi, mereka menambahkan nutrisi. Lagi-lagi mereka membuatnya sendiri juga. Kemudian, untuk pengendalian hama mereka lakukan secara alami dengan menyemprotkan pestisida nabati.

Di tahun pertama, mereka berhasil memanen 1,5 ton padi. Di tahun kedua, hasil produktivitas turun jadi 900 kilogram (kg). Pada Mei 2020, di tengah serangan hama wereng, mereka berhasil memanen 1,3 ton padi. Dan kini mereka sedang menantikan hasil panen keempat yang kemungkinan akan dilaksanakan bulan September ini. Beras hasil panen Harvest Mind dibungkus dalam kemasan 2 kg dan 5 kg dengan merek “Aksara”.

Hasil panen itu, dipromosikan secara kreatif di media sosial dan dikemas secara menarik. Harvest Mind juga bermitra dengan para seniman, influencer, dan Aliansi Organik Banyumas (AOB). Bersama AOB, Harvest Mind membentuk sebuah koperasi.

“Jika menyangkut soal harga bisa dibilang relatif ya. Tapi yang menjadi cita-cita kami saat ini yaitu ingin berada di kondisi beras mahal tapi terjangkau, beras murah tapi petani sejahtera,” ucap Gilang.

Nyatanya masih banyak orang meyakini bahwa beras organik harganya mahal. Lalu, apa yang membuat mahal? Tentu saja selain skema distribusinya yang menguntungkan satu pihak dan bukan petanilah yang menentukan harganya. Ini ditambah lagi dengan sertifikasi yang tidak masuk akal bagi petani yang bahkan harga dirinya selalu direndahkan. Hal ini membuat hanya perusahaan dengan modal besar yang mampu memproduksi dan menjual beras yang bersertifikatnya dengan harga selangit. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here