Home Biodiversitas Mengenal Musang Luak dan Manfaatnya di Alam

Mengenal Musang Luak dan Manfaatnya di Alam

discover.hubpages.com

Agrozine Luak atau disebut juga luwak merupakan nama lokal dari jenis musang yang terdapat di Indonesia sehingga hewan ini sering disebut sebagai musang Luak. Musang luak adalah hewan menyusui (mamalia) yang bernama ilmiah Paradoxurus hermaphroditus, termasuk suku musang dan garangan (Viverridae).  Hewan ini juga dipanggil dengan berbagai sebutan lain, seperti musang pulut (Malaysia), musang (nama umum, Betawi), musang pandan, lasun (Sunda), serta common palm civetcommon musanghouse musang, atau toddy cat dalam bahasa Inggris.

Musang bertubuh sedang, dengan panjang total sekitar 90 cm (termasuk ekor). Warnanya abu-abu kecokelatan dengan ekor hitam-cokelat mulus.

Sisi atas tubuhnya abu-abu kecokelatan, dengan variasi dari warna tengguli, cokelat merah tua sampai kehijauan. Jalur di punggung lebih gelap, biasanya berupa tiga atau lima garis gelap yang tidak begitu jelas dan terputus-putus, atau membentuk deretan bintik-bintik besar. Sisi samping dan bagian perutnya lebih pucat.

Wajah, kaki, dan ekor musang luak berwarna cokelat gelap sampai hitam. Dahi dan sisi samping wajah hingga di bawah telinga berwarna keputih-putihan. Satu garis hitam samar-samar lewat di tengah dahi, dari arah hidung ke atas kepala.

Posisi kelamin musang betina dekat dengan anus dan memiliki tiga pasang puting susu, sedangkan posisi kelamin musang jantan dekat dengan pusar.

Musang luak merupakan mamalia liar yang kerap ditemui di sekitar permukiman dan bahkan perkotaan. Hewan ini amat pandai memanjat dan bersifat arboreal, yaitu lebih sering beraktivitas di atas pepohonan. Hewan ini bersifat nokturnal, aktif di malam hari untuk mencari makanan dan aktivitas lainnya.

Di alam liar, musang luak kerap dijumpai di atas pohon aren atau pohon kawung, rumpun bambu, dan pohon kelapa. Musang luak juga menyukai hutan-hutan sekunder. Namun, di perkotaan biasanya musang ini bersarang di atap rumah warga karena habitat alaminya sudah terganti oleh rumah-rumah manusia. Musang sangat peka terhadap cahaya alias tidak kuat dengan pancaran sinar. Semakin terang atap maka musang semakin enggan bersarang di dalamnya.

Musang luak sering terlihat berjalan di atas atap rumah di malam hari, meniti kabel listrik untuk berpindah dari satu bangunan ke bangunan lain, atau turun ke tanah.

Musang luak termasuk hewan omnivora karena memakan daging dan juga beberapa jenis tanaman. Hewan ini sering memakan aneka buah-buahan di kebun dan pekarangan. Termasuk di antaranya pepaya, pisang, dan buah pohon kayu afrika. Mangsa yang lain adalah aneka serangga, moluska, cacing tanah, kadal serta bermacam-macam hewan kecil lain yang bisa ditangkapnya, termasuk mamalia kecil seperti tikus.

Di tempat-tempat yang biasa dilaluinya, di atas batu atau tanah yang keras, sering kali didapati tumpukan kotoran musang dengan aneka biji-bijian yang tidak tercerna di dalamnya sehingga biji-biji itu keluar lagi dengan utuh. Musang luak memilih buah yang betul-betul masak untuk menjadi santapannya, diantaranya biji-biji kopi. Bahkan, kopi luwak ini terkenal sebagai kopi yang enak dan mahal harganya.

Kebiasaan musang membuang kotoran yang mengandung biji-biji tersebut menyebabkan musang dikenal sebagai pemencar biji yang baik dan sangat penting peranannya dalam ekosistem hutan.

Musang luak pada siang hari tidur di lubang-lubang kayu atau di ruang-ruang gelap di bawah atap di perkotaan. Hewan ini melahirkan 2–4 anak, yang diasuh induk betina hingga mampu mencari makanan sendiri.

Musang luak (jantan) mengeluarkan semacam bau dari kelenjar di dekat anusnya. Bau ini menyerupai harum daun pandan, tetapi jika pekat bisa membuat mual.

Ada empat spesies musang dari genus Paradoxurus, yaitu:

  • Paradoxurus hermaphroditus, menyebar luas mulai dari India dan bagian utara Pakistan di barat, Sri Lanka, Bangladesh, Burma, Asia Tenggara, Tiongkok Selatan, Semenanjung Malaya hingga ke Filipina. Di Indonesia didapati di Sumatra meliputi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan, serta Taliabu dan Seram di Maluku.
  • Paradoxurus zeylonensis, menyebar terbatas di Sri Lanka.
  • Paradoxurus jerdoni, menyebar terbatas di negara bagian Kerala, India selatan.
  • Paradoxurus lignicolor, menyebar terbatas di Kepulauan Mentawai.

Jenis musang dari genus-genus lainnya, yaitu:

  • Musang akar (Arctogalidia trivirgata), dengan ekor yang umumnya lebih panjang dari kepala dan tubuhnya, tiga garis punggung yang tanpa atau hampir tidak terputus, dan tidak memiliki bintik-bintik di sisi tubuhnya. Musang akar hidup di hutan.
  • Musang galing (Paguma larvata), biasanya lebih kemerahan (tengguli), tanpa bintik-bintik di sisi tubuh, wajah putih kekuningan dengan ‘topeng’ gelap kehitaman di sekitar mata.
  • Musang rase (Viverricula indica), ekor berbelang-belang sempurna, hitam putih, 6–9 buah.

Daging luwak dikenal dengan kandungan proteinnya yang sangat kaya. Selain kaya protein, daging luwak juga memiliki berbagai kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan maupun bermanfaat untuk beberapa hal lain. Daging luwak memiliki beberapa manfaat, diantaranya:

  • Mengobati penyakit asma
  • Mengobati luka bakar
  • Mempercepat regenerasi sel
  • Meningkatkan stamina
  • Mengatasi masalah tenggorokan
  • Menjaga sistem kekebalan tubuh
  • Menjaga dan memperbaiki kualitas sperma
  • Mengobatipenyakit kusta
  • Meredakan encok
  • Membantu sebagai penumbuh rambut
  • Membantu pertumbuhan janin
  • Mendukung proses metabolisme tubuh
  • Mencegah terjadinya penyakit Kwasiorkor
  • Menambah energi
  • Menjaga kesehatan jantung
  • Sebagai bahan baku pembuatan parfum. Di dalam daging musang luak, terdapat sejenis hormon yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk membuat parfum. (das)

Yuk Sobat, Tonton Video Menarik Ini:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here