Home Kehutanan Mengenal Sadikin, Aktivis Lingkungan Nominator Kalpataru 2020

Mengenal Sadikin, Aktivis Lingkungan Nominator Kalpataru 2020

Agrozine.id– Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya memuji kinerja sejumlah aktivis lingkungan hidup di tanah air yang sukses mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan (PPKL) .Salah satu yang mendapat pujian dari menteri LHK ini adalah Ali Sadikin selaku Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Kelurahan Sungai Pakning Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Mari mengenal Sadikin sang aktivis lingkungan yang menjadi nominator kalpataru 2020.

“Saya mendengarkan kisah-kisah luar biasa dan saya bagikan disini untuk kita semua. Tadi malam tiga orang aktivaaran dan kerusakan lingkungan (PPKL)”,tulis menteri LHK di unggahan akun facebook pribadinya.

Ali Sadikin adalah seorang aktivis lingkungan yang mengetuai sebuah komunitas Masyarakat Peduli Api (MPA) di Kabupaten Bengkalis Riau.  Pujian kepada Sadikin disampaikan langsung oleh Menteri LHK,Siti Nurbaya Bakar pada unggahan akun facebook miliknya tanggal 9/03/2020, setelah menggelar Rapat Kerja Teknis Pemulihan Lingkungan Serta Pengendalian Pencemaran Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) di Lombok,Nusa Tenggara Barat.

Dalam unggahan resminya,menteri LHK tersebut menuliskan kalimat pujian yang ditujukan kepada tiga aktivis lingkungan hidup yang masuk dalam nominasi kalpataru 2020,yaitu Ali Sadikin Ketua Masyarakat Peduli Api, Ketua Bumdes Njolong Agro Edu Tourism Malang dan Mas Hidayat pendiri Yayasan Sahabat Ciliwung.

Pada karhutla yang terjadi tahun 2015, Sadikin harus rela kehilangan putrinya akibat terserang ISPA. Namun ia tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan akibat kehilangan. Melalui kejadian tersebut,ia bersama masyarakat Bengkalis memilih bangkit dan membentuk komunitas Masyarakat Peduli Api (MPA) di kabupaten Bengkalis Riau.

Bersama PT Pertamina (Persero) Refinery Unit RU II Sei Pakning, Sadikin dan komunitasnya menanam nanas di lahan gambut. Selain dapat menjadi sekat bakar di lahan gambut, nanas yang ditanam oleh Sadikin dan timnya sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang kemudian oleh warga dijadikan sebagai wadah koperasi Tunas Makmur sehingga menjadi penghasilan bagi warga sekitar tempat tinggalnya.

Bermula dari rasa sakit akibat kehilangan putri tercintanya,Sadikin kemudian bangkit dan akhirnya berhasil menjadi contoh bagi para masyarakat dan bahkan berhasil meningkatkan penghasilan masyarakat kampungnya dan memberi pengaruh baik terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

Dengan konsep yang diusung oleh Sadikin dan tim membuat arboretum pertama di Sumatera yang sekaligus menjadi sarana edukasi masyarakat. Melalui adanya penanaman nanas yang menjadi sekat bakar lahan gambut, sejak karhutla 2015 hingga sekarang sudah zero spot atau tidak ada lagi karhutla. (ira)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here